Gereja Katolik di Vietnam: Komunitas Katolik Terbesar Kelima di Asia
Vietnam adalah salah satu negara di Asia Tenggara yang memiliki komunitas Katolik terbesar. Dengan jumlah umat Katolik yang mencapai sekitar 7 juta jiwa atau sekitar 7% dari total populasi Vietnam, Gereja Katolik di negara ini menjadi komunitas Katolik terbesar kelima di Asia setelah Filipina, India, China, dan Indonesia. Ada 27 keuskupan (termasuk tiga keuskupan agung) dengan 2.228 paroki dan 2.668 imam. Ritus liturgi utama yang digunakan di Vietnam adalah ritus Gereja Latin .
Sejarah Gereja Katolik di Vietnam
Misionaris Katolik pertama mengunjungi Vietnam dari Portugal dan Spanyol pada abad ke-16. Misi Katolik awal di Vietnam mencapai keberhasilan sederhana di antara penduduk lokal. Hanya setelah kedatangan para Jesuit pada dekade pertama abad ke-17, agama Kristen mulai mendapatkan penganut di antara penduduk lokal di kedua wilayah Đàng Ngoài ( Tonkin ) dan Đàng Trong ( Cochinchina ). Para misionaris ini sebagian besar adalah orang Italia, Portugis, dan Jepang. Dua imam, Francesco Buzomi dan Diogo Carvalho, mendirikan komunitas Katolik pertama di Hội An pada tahun 1615. Antara tahun 1627 dan 1630, Alexandre de Rhodes dari Avignon dan Pero Marques dari Portugis membabtis lebih dari 6.000 orang di Tonkin.
Pada abad ke-17, misionaris Jesuit termasuk Francisco de Pina, Gaspar do Amaral, Antonio Barbosa, dan de Rhodes mengembangkan alfabet untuk bahasa Vietnam, menggunakan aksara Latin dengan tanda diakritik tambahan. Sistem penulisan ini terus digunakan hingga saat ini, dan disebut chữ Quốc ngữ (secara harfiah berarti "aksara bahasa nasional"). Sementara itu, chữ Nôm tradisional, yang di dalamnya Girolamo Maiorica adalah seorang ahli, adalah aksara utama yang menyampaikan iman Katolik kepada orang Vietnam hingga akhir abad ke-19.
Pada masa pemerintahan Kaisar Minh-Mang (1820-1840) semua karya misionaris asing di vietnam dinyatakan terlarang. Raja sendiri mencoba untuk membuat orang-orang Kristen Vietnam menyerahkan iman mereka dengan menginjak-injak salib. Ketika mereka tetap bertahan dengan iman mereka; mereka mulai mengalami penganiayaan dan banyak yang tewas menjadi martir. Umat Katolik Vietnam yang meninggal karena iman mereka dari tahun 1820-1840 (terdiri dari 96 orang Vietnam, 11 orang Spanyol serta 10 orang Perancis. Delapan orang di antara mereka adalah Uskup, 50 orang adalah Imam dan 59 orang lainnya adalah umat Katolik awam) ini dikanonisasi pada tahun 1988 oleh Paus Yohanes Paulus II sebagai "Martir Vietnam".
Pada masa kolonial Prancis (abad ke-19 hingga awal abad ke-20), Gereja Katolik berkembang pesat dengan dukungan dari pemerintah kolonial. Namun, setelah kemerdekaan Vietnam dan terutama setelah kemenangan komunis pada tahun 1975, Gereja mengalami berbagai tantangan, termasuk pembatasan oleh pemerintah terhadap kegiatan keagamaan.
Kardinal Vietnam yang terkenal Francis Xavier Nguyễn Văn Thuận, dipenjarakan oleh rezim Komunis dari tahun 1975 hingga 1988 dan menghabiskan sembilan tahun di sel isolasi. Pada tanggal 26 Maret 1997, Kardinal Nguyễn Văn Thuận di keuskupan Belley-Ars, Prancis, membuka proses beatifikasi untuk Bruder Redemptoris Marcel Nguyễn Tân Văn.
Pada tahun 1976, Takhta Suci mengangkat Uskup Agung Joseph-Marie Trịnh Như Khuê sebagai kardinal Vietnam pertama. Kardinal Joseph-Marie Trịnh Văn Căn pada tahun 1979, dan Kardinal Paul-Joseph Phạm Đình Tụng pada tahun 1994, adalah penerusnya. Konferensi Waligereja Katolik Vietnam didirikan pada tahun 1980.
Peran Gereja Katolik di Masyarakat Vietnam
Meskipun menghadapi berbagai tekanan politik, Gereja Katolik di Vietnam tetap aktif dalam bidang pendidikan, kesehatan, dan kegiatan sosial. Banyak sekolah dan rumah sakit yang dikelola oleh komunitas Katolik yang berkontribusi dalam pembangunan bangsa. Selain itu, berbagai organisasi Katolik juga berperan dalam membantu kaum miskin dan mereka yang membutuhkan. Ada gambaran indah Gereja Katolik di hati bangsa.
Vietnam adalah satu-satunya negara komunis di mana Takhta Suci mempunyai perwakilan kepausan. Negara komunis Asia lainnya – China, Laos, dan Korea Utara – tidak memiliki utusan kepausan.
Hubungan Gereja Katolik dengan Pemerintah
Pemerintah Vietnam yang berhaluan komunis memiliki kebijakan ketat terhadap agama. Gereja Katolik di Vietnam sering kali berada dalam posisi sulit karena harus menyesuaikan diri dengan regulasi yang membatasi kebebasan beragama. Meskipun demikian, dalam beberapa dekade terakhir telah terjadi perbaikan hubungan antara Vatikan dan pemerintah Vietnam.
Hubungan antara Takhta Suci dan Vietnam membaik sejak 1990-an ketika mendiang Kardinal Roger Etchegaray dari Prancis, ketua Dewan Kepausan untuk Keadilan dan Perdamaian, melakukan serangkaian kunjungan ke negara komunis itu.
Hubungan semakin menghangat setelah mantan Perdana Menteri Nguyên Tân Dung bertemu dengan Paus Benediktus XVI tahun 2007, menjadikannya kunjungan resmi pertama ke Vatikan oleh seorang kepala pemerintahan Vietnam dalam lebih dari tiga dekade.
Kunjungan juga diikuti oleh mantan Presiden Nguyen Minh-Triet tahun 2009, yang menghasilkan pembentukan Kelompok Kerja Bersama Takhta Suci-Vietnam.
Tahun 2011, Paus Benediktus XVI menunjuk perwakilan kepausan non-residen pertama untuk Vietnam yang berbasis di Singapura
Hubungan diplomatik penuh antara Vietnam dan Vatikan belum terjalin, tetapi perwakilan kepausan non-residen telah melakukan kunjungan rutin ke Vietnam sejak saat itu.
Perkembangan dan Tantangan Masa Depan
Saat ini, Gereja Katolik di Vietnam terus berkembang meskipun menghadapi tantangan seperti regulasi pemerintah dan urbanisasi yang mengubah pola hidup umat. Banyak umat Katolik Vietnam yang bermigrasi ke kota-kota besar atau ke luar negeri, yang berdampak pada pola pertumbuhan komunitas Katolik di dalam negeri.
Di Kota Ho Chi Minh, gereja-gereja Katolik menjadi sebuah pemandangan indah. Gereja-gereja besar menjadi situs bersejarah yang populer, menarik banyak wisatawan. Di gereja-gereja kecil, penduduk setempat menghadiri Misa dan pelayanan. Gereja-gereja tersebut tetap menjadi landasan komunitas mereka.
Tidak seperti di hari-hari awal kontrol komunis dimana pemerintah cenderung mengawasi urusan Gereja, bahkan para imam terpaksa melayani secara diam-diam. Tidak seperti di Tiongkok, yang terus mencampuri urusan Gereja terkait pengangkatan uskup, di Vietnam pengangkatan uskup berada di tangan Vatikan.
Kesulitan yang lebih besar bagi Gereja Katolik saat ini berhadapan dengan pemerintah yang monolitik.
Karya imam dalam Gereja tidak pernah menghadapi tekanan dari otoritas, tetapi umat yang melakukan pelayanan di luar Gereja menghadapi masalah.
Jika klerus dan awam ingin melakukan sesuatu di luar Gereja, ia harus mendapatkan izin. Apakah izin mudah didapatkan? Itu tergantung, kadang-kadang mudah, kadang-kadang sulit.
Di paroki Penebus Maha Kudus Saigon, ada 5.000 anggota awam tetap dan ratusan atau bahkan mungkin ribuan pendatang. Tujuh puluh orang muda belajar menjadi imam dan Gereja dilayani 40 imam aktif – tidak termasuk imam senior yang terafiliasi. Yesuit sendiri telah tumbuh dari 26 orang tahun 1975- kini menjadi 234 orang. Dari tahun 1990, Yesuit dapat menerima novisiat baru sebelumnya (jumlahnya) sangat rendah, tahun 2015 ada 27 novisiat baru – yang terbesar di dunia di setiap provinsi.
Di seluruh negeri, TK dan prasekolah dikelola oleh biarawati. Partai komunis tidak suka organisasi keagamaan, tetapi anggotanya, sebagai manusia, sebagai individu mengirim anak-anak mereka ke TK yang dikelola oleh para suster. Sebelumnya, mereka melihat agama Katolik tidak baik, tapi seiring perjalanan waktu mereka mengubah pikiran mereka.
Selain itu, Gereja Katolik di Vietnam juga berusaha menjangkau kaum muda dengan berbagai kegiatan pastoral dan pendidikan, termasuk penggunaan media digital untuk menyebarkan ajaran Kristiani. Generasi Katolik saat ini lebih fokus pada pertumbuhan ketimbang tantangan yang mereka hadapi. Dengan populasi yang terus berkembang dan ketahanan komunitas yang kuat, Gereja Katolik di Vietnam tetap menjadi salah satu pilar penting dalam kehidupan beragama di negara tersebut.
Gereja Katolik di Vietnam merupakan komunitas Katolik terbesar kelima di Asia dan memiliki sejarah panjang serta peran yang signifikan dalam masyarakat. Meskipun menghadapi tantangan dari pemerintah dan perubahan sosial, komunitas ini terus bertahan dan berkembang. Dengan adanya dialog yang semakin terbuka antara Vatikan dan pemerintah Vietnam, masa depan Gereja Katolik di negara ini masih memiliki potensi untuk semakin berkembang dan berkontribusi bagi masyarakat luas.






Komentar
Posting Komentar