Dari Kapel Sistina Hingga Lapangan Santo Petrus, Lokasi-lokasi di Vatikan Terkait Konklaf
Casa Santa Marta
Gedung ini, yang rampung pada tahun 1990-an terletak di belakang Basilika Santo Petrus, adalah tempat para kardinal pemilih tinggal selama konklaf. Gedung ini merupakan tempat tinggal bagi mendiang Paus Fransiskus selama masa kepausan.
Pada abad-abad sebelumnya, para kardinal tidur di kamar-kamar Istana Apostolik selama konklaf.
Penginapan baru mereka dilengkapi kamar mandi dalam dan layanan kamar bergaya hotel. Namun, tidak ada cukup kamar untuk semua 133 kardinal yang akan memberikan suara dalam konklaf.
Para kardinal diberi kamar melalui undian, dan beberapa akan ditempatkan di Santa Marta Vecchia, sebuah gedung di sebelahnya yang biasanya digunakan untuk menampung para pejabat Vatikan.
Mereka akan diizinkan pindah ke kamar-kamar tersebut pada malam tanggal 6 Mei atau pagi tanggal 7 Mei, hari dimulainya konklaf.
Setiap pagi selama konklaf, para kardinal akan berjalan sekitar 500 meter, baik dengan berjalan kaki atau dengan minibus berkaca gelap, menuju Kapel Sistina.
Basilika Santo Petrus
Meskipun tidak secara langsung digunakan dalam proses pemungutan suara, Basilika Santo Petrus adalah simbol utama Vatikan dan pusat spiritual umat Katolik.
Para kardinal akan merayakan Misa khusus di Basilika St. Petrus, gereja yang menjadi pusat ajaran Katolik Roma, sebelum dimulainya konklaf. Setelah Misa, para kardinal akan berjalan dalam prosesi menuju Kapel Sistina sambil menyanyikan lagu “Veni Creator Spiritus” (“Datanglah Roh Sang Pencipta”)..
Basilika tersebut, salah satu gereja terbesar di dunia, merupakan permata arsitektur Renaisans dan berisi makam St. Petrus — paus pertama.
Setelah terpilihnya Paus baru, biasanya pengumuman dilakukan dari balkon Basilika ini, tepat di atas pintu utama, yang dikenal dengan Loggia delle Benedizioni.
Kapel Sistina
Kapel Sistina adalah pusat dari seluruh proses konklaf. Di tempat inilah para kardinal berkumpul, berdiskusi, dan memberikan suara dalam pemilihan Paus baru.
Terletak di dalam Istana Apostolik di Vatikan, kapel abad ke-15 ini terkenal di dunia karena lukisan langit-langitnya yang spektakuler karya Michelangelo.
Sebuah tungku khusus telah dipasang di kapel, tempat surat suara para kardinal dibakar setelah pemungutan suara selama konklaf, hingga satu kandidat memperoleh cukup suara untuk menjadi paus.
Asap hitam menunjukkan bahwa mayoritas yang dibutuhkan untuk paus baru belum berhasil, sedangkan asap putih berarti ada pemimpin baru bagi Gereja Katolik. Warna asap diubah menggunakan bahan kimia.
Selama konklaf berlangsung, Kapel Sistina dijaga ketat dan aksesnya sangat dibatasi untuk menjamin kerahasiaan.
Pada abad ke-17, arsitek Gian Lorenzo Bernini merancang alun-alun Vatikan yang terkenal, yang memiliki obelisk Mesir berusia 4.000 tahun di tengahnya.
Tiang-tiang marmer yang terkenal di alun-alun bergaya Barok — dibuat dalam bentuk elips. Puluhan ribu orang diperkirakan akan berkumpul di alun-alun tersebut untuk menunggu pemilihan paus.
Mereka menanti isyarat asap putih (fumata bianca) yang keluar dari cerobong Kapel Sistina, sebagai tanda telah terpilihnya Paus baru. Lapangan ini juga menjadi tempat berlangsungnya momen bersejarah saat Paus baru pertama kali memberikan berkat apostoliknya.
Ia akan muncul ke dunia untuk pertama kalinya di balkon utama basilika, diiringi ucapan “Habemus Papam!” (“Kami memiliki seorang Paus!”).
Paus baru kemudian akan muncul dan memberikan berkatnya yang pertama sebagai paus.









Komentar
Posting Komentar