Santo Yusuf Pekerja: Teladan Iman dan Ketekunan dalam Karya
Tanggal 1 Mei setiap tahun diperingati sebagai Hari Santo Yusuf Pekerja oleh Gereja Katolik. Penetapan ini bukan tanpa makna. Paus Pius XII menetapkan peringatan ini pada tahun 1955 sebagai tanggapan terhadap Hari Buruh internasional, sekaligus untuk menegaskan martabat kerja dalam terang iman Kristiani.
Tahun 1955, Paus Pius XII (1939-1958) menggelar pertemuan dengan Associazioni Cristiane dei Lavoratori Italiani (ACLI)—sebuah asosiasi pekerja Katolik Italia yang didirikan pada 1945—dan menetapkan tanggal 1 Mei sebagai Hari Santo Yusuf Pekerja. Selain sebagai bentuk penghormatan akan keteladanan Santo Yusuf Pekerja, Santo Yusuf menjadi pelindung para pekerja Katolik dari pengaruh komunisme yang waktu itu cukup memberi warna di banyak tempat
Dalam pribadi Santo Yusuf, pekerjaan tangan memperoleh suatu dimensi ilahi. Kerja meningkatkan harkat dan martabat manusia sebagai ciptaan Allah dan memungkinkan manusia turut serta di dalam karya penciptaan dan penyelamatan Allah. Atas dasar inilah gereja pada masa kepemimpinan Paus Pius XII menetapkan tanggal 1 Mei sebagai Hari Santo Yusuf Pekerja, sekaligus menetapkan sebagai Hari Buruh. St. Yusuf selanjutnya diangkat sebagai pelindung para karyawan/buruh yang bekerja setiap hari untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari.
Santo Yusuf: Tukang Kayu yang Kudus
Santo Yusuf, suami Maria dan ayah asuh Yesus, dikenal sebagai seorang tukang kayu sederhana di Nazaret. Namun dari kehidupannya yang tampak biasa itu, Gereja melihat keteladanan luar biasa: ketaatan kepada Allah, kerja keras tanpa pamrih, serta kasih dan tanggung jawab yang besar terhadap keluarganya. Ia menunjukkan bahwa pekerjaan sehari-hari—yang sering dianggap remeh—dapat menjadi jalan kekudusan bila dilakukan dengan cinta, iman, dan ketulusan hati.
Dalam keempat Injil Santo Yusuf tidak meninggalkan sepatah kata pun untuk kita. Yang kita kenal dari figur Santo Yusuf adalah mimpi-mimpinya. Namun, tidak ada yang meragukan kehebatan Santo Yusuf sebagai seorang yang tulus hati (Mat 1:19), seorang suami, seorang ayah dan seorang pendidik. Sayangnya, ketika dihadapkan dengan Yesus dan Bunda Maria, nampak bahwa Santo Yusuf memainkan peranan sekunder atau pelengkap. Tugasnya adalah memberikan keamanan kepada sang ibu dan merawat bayi Yesus. Kemunculannya yang terakhir dalam Kitab Suci terjadi pada peristiwa Yesus diketemukan di Bait Allah pada usia dua belas tahun (Luk 2:41-52). Ketika Yesus memulai karya-Nya pada usia tiga puluh tahun, tokoh Santo Yusuf hilang dari sorotan, meskipun Yesus disebut sebagai anak Yusuf (Luk 1:23).
Santo Yusuf adalah orang desa yang sederhana, seorang tukang kayu yang tinggal di kota kecil Nazaret, yang tidak pernah sama sekali disinggung dalam Perjanjian Lama. Seorang tukang kayu biasanya memiliki bengkel di halaman rumahnya. Nampaknya di tempat inilah Yesus belajar ilmu pertukangan dari Santo Yusuf sehingga Dia dikenal sebagai “anak tukang kayu” (Mat 13:55) atau bahkan “tukang kayu” (Mrk 6:3). Dapat dibayangkan bahwa hari-hari Santo Yusuf diisi dengan kerja keras yang meletihkan dan keringat yang bercucuran, namun dalam keheningan. Dalam anjuran apostolik “Redemptoris Custos” (Pelindung Sang Penebus) Santo Yohanes Paulus II menulis, “Dalam perkembangan manusiawi Yesus dalam hikmat, usia dan karunia, keutamaan kerajinan memainkan peranan yang penting, sebab kerja adalah kebajikan manusia yang mengubah alam dan menjadikan manusia dalam arti tertentu, lebih manusiawi”. Santo Yusuf, pribadi yang tenang dan tidak banyak bicara itu, ternyata melahirkan profesional muda baru.
Suatu hal yang paling menarik dari pribadi Santo Yusuf adalah keheningannya. Kitab Suci tidak mencatat sepatah katapun keluar dari mulutnya. Tentu hal ini bukanlah kebetulan belaka. Kembali Santo Yohanes Paulus II dalam permenungannya menulis, “ Aura keheningan yang sama yang melingkupi segala hal lainnya mengenai Yusuf juga menyelubungi pekerjaannya sebagai seorang tukang kayu di rumah Nazaret. Namun demikian, keheningan itu adalah keheningan yang menyingkapkan dengan suatu cara yang istimewa gambaran batinnya. Injil berbicara semata-mata mengenai apa yang Yusuf “lakukan.” Namun demikian, apa yang dibicarakan Injil membuat kita menemukan dalam “tindakan-tindakannya” - yang terselubung dalam keheningan - suatu aura kontemplasi yang mendalam. Yusuf berhubungan setiap hari dengan misteri “yang telah berabad-abad tersembunyi,” dan yang “tinggal” di bawah atap rumahnya. (Redemptoris Custos #25).
Santo Yusuf adalah orang yang “turun ke jalan” dengan menjadi pekerja keras menopang kehidupan keluarga kudus, melindungi Bunda Maria istrinya, dan Yesus anaknya.
Martabat Kerja Menurut Ajaran Gereja
Melalui figur Santo Yusuf, Gereja ingin menegaskan bahwa kerja bukan sekadar alat untuk mencari nafkah, tetapi juga partisipasi manusia dalam karya penciptaan Allah. Pekerjaan memberi manusia kesempatan untuk berkembang, melayani sesama, dan memuliakan Tuhan. Dalam Laborem Exercens, Paus Yohanes Paulus II menegaskan bahwa manusia lebih penting daripada hasil kerjanya, dan kerja memiliki dimensi spiritual yang mendalam.
Ensiklik penting Paus Leo XIII, Rerum Novarum, diterbitkan selama tahun-tahun penuh badai Revolusi Industri, dan karenanya merupakan komentar sosial pertama Gereja – dan sumber pertama kita dalam Ajaran Sosial Katolik – yang mempertimbangkan hak-hak pekerja. Paus Leo XIII mengawali teks ini dengan martabat hakiki dalam pekerjaan itu sendiri:
"Mengenai kaum miskin, Gereja jelas sekali mengajarkan, bahwa bagi Allah kemiskinan itu bukan sesuatu yang tidak pantas, dan kewajiban bekerja untuk mencari nafkah bukan alasan untuk merasa malu. Kristus Tuhan kita meneguhkan ajaran itu dengan corak hidup-Nya, ketika demi keselamatan kita Dia "yang kaya-raya menjadi miskin demi kita" (2Kor 8:9). Ia memilih tampil dan dianggap sebagai anak tukang kayu, kendati Ia Putera Allah, dan Allah sejati; dan dengan penampilan-Nya itu Ia tidak berkeberatan melewatkan sebagian besar hidup-Nya sebagai tukang kayu." (Rerum Novarum, 23)
Paus St. Yohanes Paulus II menyampaikan pendahuluan penting ini dalam beberapa suratnya. Ia juga memperbarui pesan tersebut agar sesuai dengan telinga pascaindustri kita, dan mengabstraksikan jenis pekerjaan yang terlibat untuk mencakup semua tenaga kerja, selain pekerja fisik yang menjadi fokus Paus Leo XIII.
“[Kristus], meskipun adalah Tuhan, menjadi seperti kita dalam segala hal, mengabdikan sebagian besar tahun hidupnya di bumi untuk pekerjaan manual di bangku tukang kayu. Keadaan ini sendiri merupakan 'Injil tentang pekerjaan' yang paling fasih, yang menunjukkan bahwa dasar untuk menentukan nilai pekerjaan manusia bukanlah terutama jenis pekerjaan yang dilakukan tetapi fakta bahwa orang yang melakukannya adalah seorang manusia.” ( Laborem Exercens, 6)
Dalam suratnya Gaudium et Spes, Paus St. Paulus VI pertama-tama menunjukkan hubungan kausal yang mendalam antara tindakan kerja dan dampaknya terhadap nilai pengembangan manusia: ”Sebab bila manusia bekerja, ia bukan hanya mengubah hal-hal tertentu dan masyarakat, melainkan menyempurnakan dirinya sendiri juga. Ia belajar banyak, mengembangkan bakat-kemampuannya, beranjak keluar dari dirinya dan melampaui dirinya. Pengembangan diri itu, bila diartikan dengan tepat, lebih bernilai dari harta-kekayaan lahiriah yang dapat dikumpulkan. Manusia lebih bernilai karena kenyataan dirinya sendiri dari pada karena apa yang dimilikinya." (Gaudium et Spes, 35)
Paus St. Yohanes Paulus II mensintesiskan ajaran Paus St. Paulus VI, dan menginformasikan Ajaran Sosial Katolik dengan “Keutamaan Ketekunan,” yang diutarakan dengan fasih dalam Laborem Exercens dalam bagian-bagian berikut:
“Kerja itu baik bagi manusia-baik bagi kemanusiaannya, karena melalui kerja ia tidak hanya mengubah alam, menyesuaikannya dengan kebutuhan-kebutuhannya sendiri, melainkan mencapai pemenuhan juga selaku manusia, dan memang dalam arti tertentu menjadi ”lebih manusiawi”." (Laborem Exercens, 9)
“Tanpa pertimbangan ini, mustahil untuk memahami makna keutamaan kerajinan, dan khususnya mustahil untuk memahami mengapa kerajinan harus menjadi sebuah keutamaan: karena keutamaan, sebagai kebiasaan moral, adalah sesuatu yang dengannya manusia menjadi baik sebagai manusia” (Laborem Exercens, 9)
Paus St. Yohanes Paulus II merumuskan konsep kerja hingga ke hakikatnya, dengan menekankan hak semua orang untuk berpartisipasi dalam aspek kehidupan yang tidak dapat dipisahkan ini: “Kewajiban mencari nafkah dengan memeras keringat sendiri juga mengandaikan adanya hak untuk menjalankannya.” (Centesimus Annus, 43)
Berdasarkan fondasi yang dibangun oleh para pendahulunya, dalam Caritas in Veritate, Paus Benediktus XVI dengan jelas menguraikan tujuh prinsip yang mendefinisikan apa itu pekerjaan yang “layak”:
- Ini mengungkapkan martabat penting seseorang;
- Itu dipilih secara bebas;
- Hal ini memungkinkan rasa hormat dan kebebasan dari diskriminasi;
- Hal ini memungkinkan keluarga untuk memenuhi kebutuhan mereka dan menyediakan pendidikan anak-anak mereka;
- Ini memungkinkan kebebasan berorganisasi para pekerja;
- “Ini memberi ruang yang cukup untuk menemukan kembali akar seseorang pada tingkat pribadi, keluarga, dan spiritual”;
- Hal ini menjamin para pensiunan “standar hidup yang layak.”
Paus St. Yohanes Paulus II menekankan bahwa usaha kerja, sejalan dengan penerapan konsep Ajaran Sosial Katolik tentang pengembangan manusia seutuhnya di lingkungan kerja, meningkatkan efisiensi dan produktivitas.
“Pengembangan pribadi manusia seutuhnya melalui kerja tidak menghambat, melainkan justru meningkatkan produktivitas dan efisiensi kerja itu sendiri…” (Centesimus Annus, 43)
Paus St. Yohanes Paulus II juga mengemukakan bahwa pengembangan manusia seutuhnya hanya dapat terjadi di tempat kerja apabila ada jaminan pemenuhan kebutuhan dasar, dan lingkungan yang mendukung pengembangan, termasuk:
- Stabilitas politik dan ekonomi
- Kepastian prospek yang lebih baik untuk masa depan
- Peningkatan keterampilan pekerja
- Pelatihan pemimpin bisnis yang kompeten dan sadar akan tanggung jawabnya
(Centesimus Annus, 35)
Relevansi Bagi Dunia Modern
Di tengah tantangan zaman modern—otomatisasi, pengangguran, dan eksploitasi tenaga kerja—teladan Santo Yusuf mengingatkan kita untuk menempatkan kembali nilai dan martabat manusia dalam pekerjaan. Ia menjadi pelindung para pekerja, pengusaha yang adil, dan semua orang yang berusaha dengan jujur demi hidup yang bermartabat.
Doa dan Perayaan
Pada hari peringatannya, umat diajak merenungkan peran kerja dalam hidup masing-masing dan meneladani Santo Yusuf dalam kesetiaan, kerendahan hati, dan pengabdian. Banyak komunitas juga mengadakan misa khusus dan doa novena kepada Santo Yusuf sebagai bentuk devosi dan penghormatan.
Santo Yusuf Pekerja adalah cermin dari nilai kerja Kristiani: bukan soal jabatan tinggi atau popularitas, melainkan soal kesetiaan, ketekunan, dan cinta dalam menjalani tugas sehari-hari. Semoga kita semua, dalam peran dan pekerjaan masing-masing, mampu meneladaninya dan menjadikan kerja sebagai jalan menuju kekudusan.






Komentar
Posting Komentar