PERANG SELALU MERUPAKAN KEKALAHAN: SUARA GEREJA KATOLIK UNTUK DAMAI SEJATI

Gereja Katolik, melalui ajaran sosialnya dan suara para pemimpinnya, secara konsisten menyuarakan bahwa perang selalu merupakan kekalahan — tidak hanya kekalahan militer, tetapi kekalahan kemanusiaan, moral, dan spiritual. Seruan ini bukan sekadar pandangan idealis, tetapi refleksi mendalam atas penderitaan yang ditimbulkan oleh perang, serta panggilan kepada semua pihak untuk membangun perdamaian melalui dialog, keadilan, dan solidaritas.

Paus Fransiskus telah menegaskan dalam berbagai kesempatan bahwa tidak ada pemenang sejati dalam perang. Yang tersisa hanyalah luka yang mendalam, kehancuran, dan kehilangan yang tak tergantikan.

1. Makna Teologis: Mengapa Perang adalah Kekalahan?

Gereja Katolik percaya bahwa manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (Kejadian 1:27), dan karena itu setiap nyawa memiliki martabat yang tak ternilai. Dalam terang ini, perang — yang merampas nyawa, menghancurkan martabat manusia, dan memecah persaudaraan — adalah antitesis dari kehendak Allah.

Katekismus Gereja Katolik (KGK 2307) mengajarkan:

“Perintah kelima melarang merusakkan kehidupan manusia dengan sengaja. Karena kejahatan dan ketidakadilan yang berkaitan dengan setiap perang, maka Gereja dengan sangat menghimbau semua orang supaya berdoa dan berusaha, agar kebaikan ilahi membebaskan kita dari perbudakan perang yang sudah lama itu”

Dengan demikian, bahkan jika secara politis dianggap "perlu", perang selalu menyisakan akibat moral yang tidak dapat dibenarkan.

2. Pandangan Paus Fransiskus: "Perang Adalah Kegilaan"

Paus Fransiskus dalam banyak kesempatan menyatakan keprihatinan mendalam terhadap konflik bersenjata di seluruh dunia. Dalam kunjungannya ke Taman Perdamaian Hiroshima (2019), beliau berkata:

“Perang hanya menghasilkan kematian dan kehancuran. Kita harus mengatakan bersama: Tidak lagi perang, tidak lagi senjata penghancur massal!”

Lebih lanjut, pada Angelus 27 Februari 2022, menanggapi invasi Rusia ke Ukraina, Paus berkata: 

“Setiap perang adalah kekalahan—kekalahan kemanusiaan yang memilukan.”

Sumber: Vatican News, 27 Februari 2022

3. Ajaran Sosial Gereja dan Seruan untuk Perdamaian

Dokumen Gereja seperti Gaudium et Spes (Konsili Vatikan II, 1965) menegaskan bahwa perdamaian bukan sekadar ketiadaan perang, tetapi hasil dari keadilan, solidaritas, dan pengampunan:

"Perdamaian bukan sekadar ketiadaan perang; perdamaian juga tidak dapat direduksi hanya menjadi pemeliharaan keseimbangan kekuatan di antara musuh-musuh; perdamaian juga tidak dapat dicapai melalui kediktatoran. Sebaliknya, perdamaian secara tepat dan tepat disebut sebagai usaha menegakkan keadilan. Perdamaian merupakan hasil dari tatanan yang disusun dalam masyarakat manusia oleh Sang Pendiri ilahi, dan diwujudkan oleh manusia yang haus akan keadilan yang semakin besar. Kebaikan umum umat manusia menemukan maknanya yang hakiki dalam hukum abadi. Namun, karena tuntutan konkret kebaikan umum ini terus berubah seiring berjalannya waktu, perdamaian tidak pernah tercapai sekali untuk selamanya, tetapi harus terus dibangun. Selain itu, karena kehendak manusia tidak stabil dan terluka oleh dosa, pencapaian perdamaian menuntut pengendalian nafsu secara terus-menerus dan kewaspadaan terhadap otoritas yang sah.

Namun, ini saja tidak cukup. Kedamaian di bumi ini tidak dapat diperoleh kecuali kesejahteraan pribadi terjaga dan manusia dengan bebas dan percaya berbagi kekayaan jiwa dan bakat mereka satu sama lain. Tekad yang kuat untuk menghormati orang lain dan bangsa lain serta martabat mereka, serta praktik persaudaraan yang tekun mutlak diperlukan untuk membangun perdamaian. Oleh karena itu, perdamaian juga merupakan buah dari kasih, yang melampaui apa yang dapat diberikan oleh keadilan.

Kedamaian duniawi yang muncul dari kasih terhadap sesama melambangkan dan merupakan hasil dari kedamaian Kristus yang terpancar dari Allah Bapa. Karena melalui salib, Putra yang berinkarnasi, sang raja perdamaian mendamaikan semua manusia dengan Allah. Dengan demikian memulihkan semua manusia ke dalam kesatuan satu umat dan satu tubuh, Ia membunuh kebencian dalam daging-Nya sendiri; dan, setelah ditinggikan oleh kebangkitan-Nya, Ia mencurahkan roh kasih ke dalam hati manusia.

Oleh karena itu, semua orang Kristen sangat dipanggil untuk melakukan dalam kasih apa yang dituntut kebenaran, dan untuk bergabung dengan semua pembawa damai sejati dalam memohon perdamaian dan mewujudkannya.

Terdorong oleh semangat yang sama, kita tidak dapat tidak memuji mereka yang menolak penggunaan kekerasan dalam menegakkan hak-hak mereka dan yang menempuh cara-cara pembelaan yang sebenarnya dapat dilakukan oleh pihak-pihak yang lebih lemah, asalkan hal ini dapat dilakukan tanpa merugikan hak-hak dan kewajiban orang lain atau masyarakat itu sendiri.

Sejauh manusia berdosa, ancaman perang menghantui mereka, dan akan terus menghantui mereka sampai kedatangan Kristus kembali. Namun sejauh manusia menaklukkan dosa melalui persatuan kasih, mereka juga akan menaklukkan kekerasan dan membuat kata-kata ini menjadi kenyataan: "Mereka akan mengubah pedang-pedangnya menjadi mata bajak, dan tombak-tombaknya menjadi sabit. Bangsa tidak akan lagi mengangkat pedang terhadap bangsa, dan mereka tidak akan lagi belajar perang" (Yesaya 2:4)." (GS 78)

Gereja juga mengembangkan prinsip perang yang adil (just war theory), tetapi modern ini Paus Fransiskus menolak legitimasi konsep itu dalam konteks senjata pemusnah massal dan dampak global perang kontemporer. Dalam ensiklik Fratelli Tutti (2020), beliau menulis:

"Orang dengan gampang memilih perang; caranya adalah membuat segala macam alasan yang tampaknya bersifat kemanusiaan, pembelaan diri, atau pencegahan, bahkan dengan menggunakan manipulasi informasi. Nyatanya, dalam beberapa dekade terakhir, semua perang mengklaim dapat “dibenarkan.” Katekismus Gereja Katolik berbicara tentang kemungkinan pembelaan yang sah melalui kekuatan militer, dengan pengandaian bisa menunjukkan bahwa ada beberapa "persyaratan ketat” yang diperlukan untuk “legitimasi moral.”239 Akan tetapi, orang dengan mudah jatuh ke dalam penafsiran yang terlalu luas tentang kemungkinan hak ini. Dengan demikian, mereka juga ingin membenarkan serangan-serangan “pencegahan” atau tindakan-tindakan perang yang hampir tidak dapat terhindar dari “kerugian dan kekacauan yang lebih buruk daripada kejahatan yang harus dilenyapkan.”240 Masalahnya adalah bahwa sejak pengembangan senjata nuklir, kimia, dan biologi, serta kemungkinan-kemungkinan dahsyat lainnya yang terus berkembang yang ditawarkan oleh teknologi baru, perang telah mendapat kekuatan destruktif tak terkendali yang berdampak pada banyak warga sipil yang tak bersalah. Sebenarnya, “belum pernah umat manusia memiliki kekuasaan yang begitu besar atas dirinya sendiri; dan tidak ada jaminan bahwa itu akan selalu digunakan dengan baik.”241 Jadi, kita tidak bisa lagi memikirkan perang sebagai solusi, mengingat bahwa risikonya barangkali akan selalu lebih besar daripada manfaat hipotetis yang dikaitkan dengannya. Berhadapan dengan kenyataan ini, sekarang sangat sulit untuk mendukung kriteria rasional yang dikembangkan di abad-abad lain untuk berbicara tentang kemungkinan “perang yang adil.” Jangan pernah lagi berperang!242"  (FT 258)

4. Contoh Nyata: Gereja dalam Konflik Dunia

Dalam konflik di Suriah, Ukraina, Sudan Selatan, dan Gaza, Gereja Katolik melalui berbagai lembaga seperti Caritas Internationalis, Vatican Dicastery for Promoting Integral Human Development, dan misi diplomatik Tahta Suci, selalu menyerukan:

  • Gencatan senjata kemanusiaan

  • Dialog antar pihak bertikai

  • Bantuan kepada pengungsi dan korban perang

  • Penyembuhan luka batin melalui rekonsiliasi

5. Panggilan Bagi Umat Katolik

Sebagai umat Katolik, kita dipanggil untuk menjadi pembawa damai (Matius 5:9). Artinya:

  • Menolak kekerasan sebagai solusi

  • Mempromosikan keadilan sosial dan ekonomi

  • Mendoakan dan membantu korban perang

  • Menjadi suara kenabian yang menentang perang dan penindasan

Seruan “perang selalu merupakan kekalahan” bukanlah sekadar slogan, tetapi panggilan mendalam dari iman Katolik untuk hidup dalam semangat damai Kristus. Perang bukanlah jawaban atas konflik, dan setiap umat dipanggil untuk membangun dunia yang lebih adil dan damai.

Sebagaimana Paus Fransiskus mengingatkan:

“Dengan setiap perang, kita kehilangan bagian dari kemanusiaan kita. Kita tidak boleh berhenti menanam benih perdamaian.”

 

Referensi

  • Vatican News: “Pope Francis: War is always a defeat for humanity” – 27 Februari 2022

  • Katekismus Gereja Katolik, artikel 2307–2317

  • Fratelli Tutti, ensiklik Paus Fransiskus, 2020

  • Gaudium et Spes, Konsili Vatikan II, 1965

  • Vatican News: Pope in Hiroshima: Peace more powerful than war

Komentar

Postingan Populer