Uskup Menjadi Manusia yang Bersatu dalam Gereja Katolik


Dalam Gereja Katolik, uskup bukan sekadar pemimpin administratif atau pengajar iman, tetapi seorang gembala yang dipanggil untuk menjadi tanda dan sarana persatuan umat Allah. Uskup diharapkan menjadi manusia yang bersatu – artinya pribadi yang menyatukan diri sepenuhnya dengan Kristus, dengan Gereja universal, dan dengan umat yang dipercayakan kepadanya. Konsep ini berakar dalam spiritualitas dan eklesiologi Katolik yang menekankan pentingnya kesatuan dalam keberagaman tubuh mistik Kristus.

Makna “Menjadi Manusia yang Bersatu”

Frasa ini mengandung makna ganda:

  • Persatuan dengan Allah: Uskup diundang untuk hidup dalam persekutuan yang mendalam dengan Kristus, Sang Gembala Agung. Persatuan ini dinyatakan dalam hidup doa, Ekaristi, dan pelayanan penuh kasih.

  • Persatuan dengan Sesama: Uskup juga adalah simbol dan pelayan kesatuan Gereja di keuskupannya, menjembatani berbagai kelompok, budaya, dan latar belakang dalam semangat cinta kasih Kristiani.

Salah satu ungkapan terkenal nan unik dari Paus Fransiskus adalah ”Gembala Berbau Domba”. Ungkapan ini pertama kali disampaikan dalam homilinya pada  Misa Krisma 28 Maret 2013, dua minggu setelah terpilih menjadi paus ke-266. 

Sebagai Paus dan Uskup Roma, ungkapan ”Gembala berbau domba” tersebut ditujukan kepada para imam. Dan karena dirinya juga adalah seorang imam, maka ungkapan tersebut juga untuk dirinya sendiri.

Paus ini hendak mengingatkan kepada para imam untuk benar-benar menghayati tugas mereka sebagai gembala umat. Agar menjadi gembala untuk seluruh umat dalam situasi apa pun, dan bagaimana pun kehidupan umat mereka. Inilah tugas yang sangat melekat erat pada diri setiap imam.

Uskup dipanggil untuk berjalan bersama umat, mendengarkan Roh Kudus yang berbicara melalui umat Allah, dan menjadi gembala yang berbau domba.

Dasar Kitab Suci dan Tradisi

Dalam Yohanes 17:21, Yesus berdoa kepada Bapa: "supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau." Ini adalah doa Yesus untuk kesatuan, yang menjadi dasar teologis pelayanan uskup.

Konsili Vatikan II dalam Lumen Gentium menyatakan:

“Kesatuan kolegial ini tampak juga dalam hubungan timbal balik antara masing-masing Uskup dengan Gereja-gereja partikular dan dengan Gereja universal. Paus Roma, sebagai pengganti Petrus, merupakan asas dan dasar yang kekal dan kelihatan bagi kesatuan baik para Uskup maupun umat beriman. Akan tetapi, masing-masing Uskup merupakan asas dan dasar yang kelihatan bagi kesatuan dalam Gereja-gereja partikular mereka, yang dibentuk menurut model Gereja universal, yang di dalamnya dan darinya Gereja-gereja muncul menjadi satu-satunya Gereja Katolik. Karena alasan ini masing-masing Uskup mewakili Gerejanya sendiri, tetapi mereka semua bersama-sama dan dengan Paus mewakili seluruh Gereja dalam ikatan perdamaian, kasih dan kesatuan.” (LG 23).

Artinya, tugas utama seorang uskup adalah menjaga dan memelihara kesatuan iman, kasih, dan harapan umat beriman.

Uskup Sebagai Simbol dan Pelayan Kesatuan

Uskup menjadi simbol kesatuan karena ia:

  • Mewakili Kristus: Ia bertindak in persona Christi Capitis (dalam pribadi Kristus sebagai Kepala).

  • Berkomuni dengan Paus: Uskup tidak berdiri sendiri; ia menjadi bagian dari kolegialitas bersama para uskup sedunia dan Paus, Uskup Roma.

  • Menyatukan umat lokal: Dalam konteks pastoral, uskup merangkul keberagaman umatnya – baik dari segi budaya, usia, latar belakang ekonomi – dalam satu tubuh Gereja lokal.

Contohnya, dalam Keuskupan yang multikultural seperti di Indonesia, seorang uskup harus peka terhadap kearifan lokal, sambil tetap menjaga kesetiaan pada ajaran Gereja universal.

Tantangan dan Perwujudan Nyata

Menjadi manusia yang bersatu bukan hal yang mudah. Uskup menghadapi tantangan seperti:

  • Polarisasi dalam masyarakat dan Gereja

  • Ketegangan antara tradisi dan pembaruan

  • Kesulitan ekonomi dan sosial umat

Namun, banyak uskup yang berhasil menjadi jembatan pemersatu. Salah satu contoh nyata adalah Uskup Agung Ignatius Suharyo, yang dalam banyak homili menekankan pentingnya “berjalan bersama” (sinodalitas) dan menjunjung tinggi nilai budaya lokal sebagai bagian dari identitas Katolik Indonesia.

Hidup Rohani yang Mengakar dalam Persatuan

Uskup tidak akan bisa menyatukan umat bila dirinya tidak hidup dalam persatuan dengan Kristus. Oleh karena itu, hidup rohani seorang uskup sangat penting:

  • Doa harian dan meditasi Kitab Suci

  • Perayaan Ekaristi sebagai pusat kehidupan

  • Retret tahunan dan sakramen tobat secara berkala

Dengan hidup dalam Kristus, seorang uskup akan memancarkan damai dan kasih yang menyatukan.

Uskup sebagai manusia yang bersatu merupakan cerminan dari panggilan Kristiani untuk hidup dalam kesatuan dan kasih. Ia adalah jembatan antara umat dan Kristus, antara Gereja lokal dan universal. Dalam dunia yang cenderung terpecah, kehadiran seorang uskup yang bersatu dengan Allah dan sesama adalah tanda harapan nyata bagi Gereja dan masyarakat.

Sumber Referensi

  1. Konsili Vatikan II, Lumen Gentium (1964) – tentang Gereja

  2. Katekismus Gereja Katolik, no. 886–887

  3. Homili Uskup Agung Ignatius Suharyo dalam berbagai kesempatan pastoral (dapat diakses di situs resmi KAJ)

Komentar

Postingan Populer