Apa Artinya "Berbahagialah Orang yang Lapar dan Haus Akan Kebenaran"?

Dalam khotbah di bukit, Yesus berkata:
"Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan" (Matius 5:6).
Pernyataan ini termasuk dalam Delapan Sabda Bahagia yang menjadi dasar spiritualitas Kristiani. Namun, apa arti sebenarnya dari "lapar dan haus akan kebenaran"? Dan mengapa orang seperti ini disebut "berbahagia"?
Makna "Lapar dan Haus"
Ungkapan “lapar dan haus” bukan hanya menunjukkan kebutuhan fisik, tetapi menggambarkan kerinduan yang mendalam dan terus-menerus. Sebagaimana tubuh manusia tidak dapat hidup tanpa makanan dan air, demikian pula jiwa manusia membutuhkan "kebenaran" agar dapat hidup dalam terang dan keselamatan Allah.
Menurut Katekismus Gereja Katolik (KGK 1717), "Sabda Bahagia mencerminkan wajah Yesus Kristus dan cinta kasih-Nya". Maka, orang yang "lapar dan haus akan kebenaran" adalah mereka yang mendambakan hidup sesuai dengan kehendak Allah—menghidupi kasih, keadilan, dan kebaikan.
Yesus selalu memulai dengan hati. Ketika Dia mengucapkan berkat bagi mereka yang lapar dan haus akan kebenaran, Dia menyentuh keadaan batin kita.
Mengambil ayat-ayat Perjanjian Lama yang menggambarkan orang-orang yang tertekan dan tertindas (Mazmur 10:17-18; 74:21; 109:22; 140:12; Amsal 15:15 Ayub 5:17; Yesaya 30:18), Yesus menggunakan bahasa dan konsep-konsep dalam Ucapan Bahagia yang sangat dikenal oleh para pendengar-Nya (Mazmur 1:1; 34:8; 65:4; 128:1; Amsal 14:21). Mereka yang mendengarnya hidup di bawah kekuasaan Kekaisaran Romawi yang menindas. Mereka mengalami pajak yang berlebihan, kebebasan yang tidak diberikan, dan penganiayaan. Hamba-hamba kerajaan Tuhan sangat membutuhkan perspektif surgawi dan pengharapan akan warisan kekal yang disampaikan Kristus dalam Ucapan Bahagia.
Kata diberkati/ berbahagia dalam Ucapan Bahagia menandakan kepuasan yang mendalam dan penuh sukacita serta keadaan batin yang sejahtera secara rohani. Lapar dan haus akan kebenaran berarti memiliki kerinduan rohani yang aktif: "Jiwaku haus kepada Allah, kepada Allah yang hidup. Bilakah aku boleh datang melihat Allah?" (Mazmur 42:3; lihat juga Mazmur 63:1; 143:6; Amos 8:11). Kerinduan ini tidak bersifat pasif; kerinduan ini adalah pencarian yang sungguh-sungguh. Hamba yang lapar dan haus akan kebenaran adalah sama dengan orang yang mencari kerajaan Allah dan kebenaran-Nya di atas segala sesuatu (Matius 6:33). Hamba ini diberkati karena ia mengalami hati yang puas. Hamba ini dapat berkata, "Jiwaku baik."
Apa itu "Kebenaran"?
Dalam konteks Kitab Suci, "kebenaran" bukan hanya soal fakta atau hukum, tetapi menyangkut kesetiaan kepada kehendak Allah. Dalam Yohanes 14:6, Yesus berkata:
"Akulah jalan, kebenaran, dan hidup."
Jadi, orang yang lapar dan haus akan kebenaran adalah mereka yang mencari Yesus, Sang Kebenaran itu sendiri, dan ingin hidup sesuai dengan ajaran-Nya.
Definisi sederhana yang diambil dari ajaran Alkitab: Kebenaran adalah sesuatu yang selaras dengan pikiran, kehendak, karakter, kemuliaan, dan keberadaan Allah . Lebih tepatnya: Kebenaran adalah ekspresi diri Allah. Itulah makna kebenaran dalam Alkitab. Karena definisi kebenaran mengalir dari Allah, kebenaran bersifat teologis .
Kebenaran juga bersifat ontologis —sebuah cara yang mewah untuk mengatakan bahwa kebenaran adalah apa adanya. Realitas adalah apa adanya karena Tuhan menyatakannya demikian dan menjadikannya demikian. Oleh karena itu, Tuhan adalah pencipta, sumber, penentu, pengatur, penengah, standar tertinggi, dan hakim terakhir atas segala kebenaran.
Perjanjian Lama menyebut Yang Mahakuasa sebagai “Allah kebenaran” ( Ulangan 32:4 ; Mazmur 31:5 ; Yesaya 65:16 ). Ketika Yesus berkata tentang diri-Nya, “Akulah … kebenaran” ( Yohanes 14:6 , penekanan ditambahkan), dengan demikian Ia membuat pernyataan yang mendalam tentang keilahian-Nya sendiri. Ia juga menjelaskan bahwa semua kebenaran pada akhirnya harus didefinisikan dalam konteks Allah dan kemuliaan-Nya yang kekal. Lagipula, Yesus adalah “cahaya kemuliaan [Allah] dan gambar wujud Allah” ( Ibrani 1:3 ). Ia adalah kebenaran yang berinkarnasi — ekspresi sempurna Allah dan karena itu perwujudan mutlak dari semua yang benar.
Mengapa Mereka Berbahagia?
Karena mereka akan "dipuaskan". Tuhan menjanjikan bahwa kerinduan mereka tidak akan sia-sia. Orang yang sungguh mencari Tuhan akan mengalami kepenuhan hidup, baik secara rohani maupun moral. Santo Agustinus berkata, “Engkau menciptakan kami untuk-Mu, ya Tuhan, dan hati kami gelisah sebelum beristirahat dalam Engkau.” (Confessiones I,1)
Seseorang yang kelaparan dan kehausan akan terdorong untuk mencari pelipurnya. Sama halnya dengan dahaga kita untuk menyenangkan hati Tuhan, melakukan perintah-Nya, untuk melihat kebenaran diterima dan nama Tuhan dimuliakan.
“Dan jadilah sama seperti bayi yang baru lahir, yang selalu ingin akan air susu yang murni dan yang rohani, supaya olehnya kamu bertumbuh dan beroleh keselamatan.” – 1 Petrus 2:2
Relevansi untuk Zaman Sekarang
Di tengah dunia yang sering mencampuradukkan kebenaran dengan kepentingan, orang yang tetap mencari keadilan, hidup lurus, dan taat kepada suara hati adalah tanda harapan. Mereka adalah pelita di tengah kegelapan moral, dan sabda Yesus menguatkan mereka untuk terus berjalan.
“Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran” adalah undangan untuk memiliki hati yang rindu akan Tuhan dan nilai-nilai-Nya. Mereka tidak puas dengan hidup yang kompromistis, tetapi terus mencari kehendak Allah dalam segala situasi. Dan Yesus menjanjikan bahwa kerinduan mereka akan terjawab—oleh Dia sendiri yang adalah Kebenaran.
Sumber:
-
Alkitab (Matius 5:6; Yohanes 14:6) – LAI.
-
Katekismus Gereja Katolik, 1717.
-
Santo Agustinus, Confessiones.
-
Paus Fransiskus, Gaudete et Exsultate (2018), no. 67–70.





Komentar
Posting Komentar