Di Tengah Perang dan Penderitaan, Gereja Katolik Gaza Menjadi Pelita Harapan

Di jantung Jalur Gaza, yang porak poranda akibat konflik berkepanjangan, berdiri sebuah bangunan sederhana namun penuh makna: Gereja Holy Family. Inilah satu-satunya paroki Katolik di wilayah itu, menjadi rumah rohani bagi komunitas kecil umat Katolik yang hanya berjumlah beberapa ratus jiwa dari total populasi 2,3 juta. Namun, sejak perang berkecamuk kembali pada Oktober 2023, gereja ini tak hanya menjadi tempat ibadah—ia berubah menjadi tempat perlindungan, harapan, dan kemanusiaan bagi ratusan warga Gaza.

Sejak awal agresi militer, lebih dari 600 orang—termasuk anak-anak, lansia, dan penyandang disabilitas—menemukan perlindungan di kompleks gereja. Mereka datang dari berbagai penjuru Gaza, meninggalkan rumah dan harta benda yang luluh lantak akibat serangan udara dan artileri. Di tengah keterbatasan air, makanan, dan obat-obatan, gereja menjadi satu-satunya tempat aman yang masih berdiri teguh, berkat tekad dan cinta kasih dari para imam dan suster yang melayani di sana.

Salah satu tokoh utama adalah Pastor Gabriel Romanelli, imam asal Argentina yang sejak lama menjadi gembala umat di Gaza. Dengan penuh pengabdian, ia membuka pintu gereja bagi siapa pun yang membutuhkan perlindungan. Bahkan saat serangan semakin intens, ia memilih untuk tetap tinggal bersama umatnya, menolak meninggalkan mereka di tengah penderitaan.

Yang membuat kisah ini semakin menyentuh adalah perhatian langsung dari Tahta Suci. Paus Fransiskus, hingga wafatnya pada April 2025, secara rutin menelepon Pastor Romanelli setiap malam, memberikan dukungan doa dan moral. Kini, Paus Leo XIV melanjutkan perhatian tersebut. Ia menyerukan gencatan senjata dan solidaritas internasional.

Namun, tragedi kembali menghampiri. Pada 17 Juli 2025, serangan artileri menghantam area gereja. Tiga orang tewas. Beberapa lainnya terluka, termasuk Pastor Romanelli. Saat itu, ratusan orang sedang berlindung di dalam kompleks gereja. Dunia pun bereaksi. Vatican, Italia, dan berbagai organisasi kemanusiaan mengecam keras serangan itu. Seruan agar tempat ibadah dihormati dan warga sipil dilindungi kembali menggema.

Meskipun jumlah mereka sedikit, komunitas Katolik di Gaza menunjukkan kekuatan luar biasa. Mereka tetap berdiri, melayani sesama, dan menjadi saksi cinta kasih di tengah kehancuran. 

Di saat dunia terus bergulat dengan konflik dan kepentingan, kisah Gereja Katolik di Gaza mengajarkan kita bahwa iman, kasih, dan solidaritas dapat bertahan bahkan di tempat tergelap sekalipun.

Sumber: Vatican News

Komentar

Postingan Populer