Hari Kakek Nenek dan Lansia Sedunia dalam Gereja Katolik: Mengakui Peran dan Warisan Iman para Sesepuh

Setiap tahun, Gereja Katolik merayakan Hari Kakek Nenek dan Lansia Sedunia pada hari Minggu keempat bulan Juli, berdekatan dengan Pesta Santo Yoakim dan Santa Anna, orang tua dari Perawan Maria dan kakek-nenek Yesus. Perayaan ini merupakan inisiatif Paus Fransiskus sebagai bagian dari upaya menghormati dan menegaskan peran penting para lansia dalam kehidupan iman dan masyarakat.

Latar Belakang dan Tujuan Perayaan

Hari Kakek Nenek dan Lansia Sedunia pertama kali dicanangkan oleh Paus Fransiskus pada tahun 2021. Dalam pesan resminya, Paus menyampaikan bahwa perayaan ini dimaksudkan untuk menghormati para lansia, mengenang peran mereka dalam mentransmisikan iman, serta mendukung mereka yang mengalami kesepian atau keterpinggiran. Ia menekankan bahwa “kakek-nenek dan para lansia adalah akar dan jembatan antara generasi, penjaga tradisi dan saksi iman.”

"... suara mereka berharga karena menyanyikan pujian bagi Tuhan dan menjaga akar bangsa-bangsa. Mereka mengingatkan kita bahwa usia lanjut adalah anugerah dan kakek-nenek adalah penghubung antargenerasi, untuk mewariskan kepada kaum muda pengalaman hidup dan iman.

Kakek-nenek sering dilupakan, dan kita melupakan kekayaan ini dalam melestarikan dan mewariskan akar. Karena alasan inilah, saya memutuskan untuk menetapkan Hari Kakek-Nenek dan Lansia Sedunia,"

(Paus Fransiskus di perpustakaan Istana Apostolik Vatikan, 31 Januari 2021).

"Janganlah kita melupakan para kakek-nenek atau para lansia kita, karena begitu sering kita diangkat, kembali ke jalur yang benar, hati kita merasa dikasihi dan disembuhkan, semuanya berkat belaian mereka. Mereka telah berkorban untuk kita, dan kita tidak dapat membiarkan mereka," tegas Paus Fransiskus dalam homili pada Misa Kudus Hari Kakek-Nenek dan Lansia Sedunia ke-3, 23 Juli 2023, menggarisbawahi pentingnya relasi antargenerasi dan kasih setia dalam keluarga dan komunitas. 

Tema Tahunan dan Ajaran Gereja

Setiap tahun, Hari Kakek Nenek dan Lansia Sedunia dirayakan dengan tema berbeda yang menekankan aspek iman, harapan, dan solidaritas. Tema Hari Kakek-Nenek dan Lanjut Usia Sedunia Kelima, yang diselenggarakan tahun ini pada hari Minggu, 27 Juli: “ Berbahagialah mereka yang tidak kehilangan harapan” (lih. Sir 14:2).

Kata-kata ini, yang diambil dari Kitab Sirakh, mengungkapkan kebahagiaan orang-orang lanjut usia dan menunjukkan harapan yang diletakkan di dalam Tuhan sebagai jalan menuju usia tua yang Kristen dan berdamai.

Pada tahun Yubelium, Hari tersebut, yang ditetapkan oleh Paus Fransiskus pada tahun 2021, dimaksudkan sebagai kesempatan untuk merenungkan bagaimana kehadiran kakek-nenek dan orang lanjut usia dapat menjadi tanda harapan dalam setiap keluarga dan komunitas gereja.

Dalam ajaran sosial Gereja, penghormatan kepada orang tua dan lansia merupakan bagian dari perintah Allah yang kelima: “Hormatilah ayahmu dan ibumu” (Kel 20:12). Selain itu, Katekismus Gereja Katolik (KGK 2208) menegaskan bahwa keluarga besar, memiliki tanggung jawab terhadap kesejahteraan anggotanya, terutama yang lemah atau rentan.

Spiritualitas dan Kesaksian Iman

Paus Fransiskus juga mengingatkan bahwa usia lanjut bukanlah masa yang “tidak berguna”, melainkan masa berharga untuk memberikan kesaksian iman, berbagi hikmat hidup, dan menjadi pendoa bagi generasi muda. Para lansia, kata Paus, “memiliki misi spiritual dalam Gereja” – seperti Simeon dan Hana dalam Injil (Luk 2:25-38) yang menantikan Mesias dan menyambut-Nya dengan sukacita.

Paus Fransiskus sepanjang masa kepemimpinannya telah menunjukkan perhatian yang dalam terhadap umat lanjut usia (lansia), menempatkan mereka sebagai bagian integral dari kehidupan keluarga, komunitas, dan Gereja.

Dalam banyak pesan dan kebijakan pastoralnya, Paus mengajak umat untuk melihat lansia bukan sebagai beban, melainkan sebagai sumber kebijaksanaan, kekuatan, dan berkat bagi generasi yang lebih muda.

Dalam berbagai pesan Hari Lansia Sedunia, Paus menekankan perlunya keterlibatan aktif lansia dalam kehidupan komunitas dan Gereja.

Ia mengajak Gereja universal untuk mengubah pendekatan pastoralnya: bukan lagi memandang lansia sebagai kelompok pasif, melainkan sebagai agen perubahan dan pembawa inspirasi iman bagi dunia yang terus berubah.

Paus Fransiskus juga memberi perhatian khusus kepada lansia yang hidup dalam kesendirian. Ia mengajak seluruh umat untuk mengunjungi, mendampingi, dan menghadirkan kehadiran penuh kasih kepada mereka, seraya mengingatkan bahwa setiap lansia adalah bagian tak terpisahkan dari tubuh Gereja.

Dalam pandangan Paus, para lansia membawa “harta kebijaksanaan” yang tidak ternilai dan harus menjadi sumber inspirasi, bimbingan, dan kekuatan bagi generasi muda.

Lebih dari sekadar retorika, Paus Fransiskus berani menegaskan bahwa penghormatan terhadap martabat lansia adalah ujian nyata atas kualitas iman dan kemanusiaan kita.

Keterlibatan Komunitas

Gereja-gereja lokal di seluruh dunia diajak untuk mengadakan misa khusus, kunjungan ke panti jompo, aksi sosial, atau kegiatan doa bersama sebagai bagian dari perayaan ini. Umat muda juga diundang untuk membangun relasi yang lebih akrab dengan para lansia, mendengarkan kisah-kisah mereka, dan memberi dukungan moral.

Di banyak keuskupan, Hari Kakek Nenek dan Lansia menjadi momen untuk memperkuat pelayanan pastoral lansia dan memperhatikan mereka yang menderita karena kesepian, kemiskinan, atau sakit.

Setiap paroki, asosiasi, dan kelompok gerejawi dipanggil untuk menjadi protagonis dalam sebuah "revolusi" rasa syukur dan kepedulian, yang diwujudkan melalui kunjungan rutin kepada para lansia, pembentukan jaringan dukungan dan doa bagi mereka dan bersama mereka, serta pembentukan hubungan yang dapat memulihkan harapan dan martabat bagi mereka yang merasa terlupakan. 

Paus Fransiskus  ingin Hari Kakek-Nenek dan Lansia Sedunia dirayakan terutama melalui upaya mencari para lansia yang hidup sendiri. Karena alasan ini, mereka yang tidak dapat datang ke Roma untuk berziarah selama Tahun Suci ini dapat “memperoleh Indulgensi Yubileum jika mereka mengunjungi, untuk jangka waktu yang tepat, para lansia yang hidup sendiri... menjadikan, dalam arti tertentu, sebuah ziarah kepada Kristus yang hadir dalam diri mereka (lih.  Mat  25:34-36)” (PENITENTIARIUM APOSTOLIK,  Norma-norma Pemberian Indulgensi Yubileum , III). Mengunjungi seorang lansia adalah cara untuk berjumpa dengan Yesus, yang membebaskan kita dari ketidakpedulian dan kesepian.

Hari Kakek Nenek dan Lansia Sedunia adalah wujud nyata dari perhatian Gereja Katolik terhadap martabat dan peran para lansia. Melalui perayaan ini, Gereja ingin menyuarakan bahwa setiap tahap kehidupan memiliki makna, termasuk masa tua, yang penuh kebijaksanaan, kasih, dan warisan iman yang tak ternilai.

Sebagaimana Paus Fransiskus katakan, “Masa tua adalah karunia, dan para lansia adalah kekayaan yang harus dihargai.”

Sumber Referensi:

  1. Vatican News. “Pope Francis establishes World Day for Grandparents and the Elderly.” 31 Januari 2021. 

  2. Paus Fransiskus. Pesan untuk Hari Kakek Nenek dan Lansia Sedunia 2023.

  3. Katekismus Gereja Katolik (KGK), artikel 2208.

  4. United States Conference of Catholic Bishops (USCCB), World Day for Grandparents and the Elderly.

  5. PESAN BAPA SUCI UNTUK HARI SEDUNIA KE-5 BAGI KAKEK-NENEK DAN LANSIA 2025. 

Komentar

Postingan Populer