Konstitusi Apostolik “Missale Romanum”: Pembaruan Liturgi Misa dalam Semangat Konsili Vatikan II
Konstitusi Apostolik Missale Romanum yang diumumkan oleh Paus Paulus VI pada tanggal 3 April 1969 menandai tonggak penting dalam sejarah Gereja Katolik, khususnya dalam pembaruan liturgi Misa.
Melalui konstitusi liturgi Sacrosanctum Concilium, Konsili Ekumenis Vatikan II telah meletakan dasar untuk suatu pembaharuan menyeluruh atas Missale Romanum. Konstitusi ini menentukan, bahwa pertama-tama "naskah dan tata cara harus diatur sedemikan rupa sehingga mengungkapkan dengan lebih jelas hal-hal kudus yang ditandakannya;" selanjutnya bahwa “Ordo Missae hendaknya ditinjau kembali, agar menjadi lebih jelaslah makna dan hubungan setiap bagiannya satu sama lain, sehingga mempermudah umat beriman berpartisipasi secara khidmat dan aktif”. juga bahwa "khazanah harta Alkitab hendaknya di buka lebih lebar, agar makanan sabda Allah dihidangkan lebih melimpah kepada umat beriman." Pada akhirnya Konstitusi menentukan bahwa "hendaknya disusun suatu tata cara konselebrasi yang baru, dan disisipkan dalam buku Pontificale Romanum dan buku Missale Romanum."
Latar Belakang Historis
Sejak Konsili Trente (1545–1563), Misa Latin dalam bentuk Tridentin telah menjadi bentuk standar liturgi Roma yang dikodifikasikan oleh Paus Pius V dalam Missale Romanum tahun 1570. Namun, perkembangan zaman, kepekaan pastoral, dan semangat pembaruan dalam Gereja mendorong perlunya revisi menyeluruh terhadap teks dan struktur Misa. Inilah yang melandasi Paus Paulus VI menerbitkan Missale Romanum versi baru.
Akan tetapi, jangan mengira bahwa pemugaran Missale Romanum itu secara mendadak jatuh dari langit! Kemajuan dalam bidang studi liturgi selama empat abad sebelumnya jelas sudah merintis jalan ke arah pemugaran itu. Tidak lama sesudah Konsili Trente, penelaahan serta penelitian atas “ naskah-naskah kuno” yang ditemukan di Perpustakaan Vatikan dan di tempat lain, menurut kesaksian Santo Pius V dalam Konstitusi Apostolik Quo primum, telah memberikan andil yang tidak sedikit bagi pemugaran Missale Romanum. Sejak itu banyak sumber-sumber liturgi kuno ditemukan dan diterbitkan; begitu pula rumus-rumus liturgi Gereja Timur dipelajari lebih mendalam. Banyak orang mengharapkan, agar khazanah ajaran dan harta iman itu tidak dibiarkan terus tersembunyi dalam keremangan lemari-lemari perpustakaan, tetapi di buka dan dimanfaatkan untuk menerangi dan menghangatkan hati serta budi orang kristen.
Isi dan Tujuan Missale Romanum (1969)
Konstitusi Missale Romanum memperkenalkan Ordo Missae yang diperbarui, dengan beberapa tujuan utama:
-
Meningkatkan partisipasi aktif umat dalam perayaan Ekaristi.
-
Memperluas kekayaan Kitab Suci, dengan siklus bacaan tiga tahun untuk hari Minggu dan dua tahun untuk hari biasa. Kecuali itu, pada setiap hari Minggu dan hari raya pembacaan surat-surat dan Injil didahului dengan satu bacaan lain, yang diambil dari Perjanjian Lama atau – dalam Masa Paskah – dari Kisah Para Rasul. Dengan ini kesinambungan proses dalam sejarah keselamatan menjadi lebih jelas, sebagaimana tampak dalam sabda-sabda yang diwahyukan Allah sendiri. Khazanah bacaan Alkitab yang melimpah ini, yang pada hari Minggu dan hari raya menyajikan bagian-bagian yang paling penting, akan dilengkapi dengan kutipan-kutipan lain dari Alkitab, yang dibawakan pada hari-hari lain.
-
Struktur Misa yang lebih sederhana dan jelas, namun tetap mengakar pada tradisi kuno Gereja, dengan menghilangkan “pengulangan dan tambahan tidak perlu yang muncul dalam perjalanan sejarah," dalam kaitan dengan tata cara persembahan roti serta anggur dan tata cara pemecahan roti serta komuni. Selanjutnya, “beberapa hal yang menjadi pudar dikikis waktu dihidupkan kembali selaras dengan kaidah-kaidah semasa para bapa Gereja.”misalnya homili dan doa umat; juga tata cara tobat atau tata cara pendamaian kembali dengan Allah dan sesama saudara, yang dilakukan pada permulaan Ekaristi, kini mendapatkan kembali makna asli sebagaimana mestinya.
Penggunaan bahasa nasional (vernakular) dalam liturgi, yang sebelumnya hanya dalam bahasa Latin.
Pembaruan teks doa dan anafora, termasuk penambahan tiga Doa Syukur Agung baru.
- Institutio Generalis yang cantumkan sebagai Prooemium (Prakata). Di dalamnya dikemukakan kaidah-kaidah baru untuk merayakan kurban Ekaristi, baik mengenai pelaksanaan perayaannya serta tugas-tugas khusus para pelayan dan para peserta, maupun mengenai perlengkapan dan tempat yang diperlukan untuk kebaktian ilahi.
- Prex Eucharistica ( Doa Syukur Agung ). Dalam Ritus Romawi bagian pertama doa ini, yakni “ prefasi”, sepanjang sejarah selalu terbuka untuk aneka rumusan, tetapi bagian berikutnya, yang dinamakan Canon, selama kurun waktu abad IV dan V memperoleh bentuk yang tetap. Sebaliknya Liturgi-liturgi Timur selalu mengizinkan adanya variasi tertentu dalam Anafora-anafora itu sendiri. Bertalian dengan ini, pertama-tama Doa Syukur Agung diperkaya dengan banyak rumus prefasi, entah diambil dari tradisi kuno Gereja Romawi entah digubah baru, agar dengan demikian aspek-aspek khusus dari misteri keselamatan dapat ditampakkan dengan lebih jelas, dan agar disajikan alasan-alasan yang lebih banyak dan lebih berlimpah untuk bersyukur. Selain itu, Kanon Romawi ditambah dengan tiga Doa Syukur Agung baru. Akan tetapi, baik atas pertimbangan pastoral maupun demi kelancaran konselebrasi, kisah institusi harus sama dalam semua rumus Doa Syukur Agung. Dari sebab itu, dalam setiap Doa Syukur Agung, kata-kata itu dirumuskan sebagai berikut: Atas Roti: Accipite et manducate ex hoc omnes! Hoc est enim Corpus meum, quod pro vobis tradetur; dan atas piala: Accipite et bibite ex eo omnes! Hic est enim calix sanguinis mei novi et aeterni testamenti, qui pro vobis et pro multis effundentur in remissionem peccatorum. – Hoc facite in meam commemorationem. Sedangkan kata mysterium fidei dicabut dari konteks kata-kata Kristus Tuhan dan diucapkan imam untuk membuka aklamasi umat.
Dampak dan Implementasi
Missale Romanum versi 1970 ini menjadi Missal standar Gereja Katolik Roma hingga saat ini (dengan edisi revisi pada tahun 1975, 2002, dan seterusnya). Pembaruan ini menimbulkan berbagai respons:
-
Diterima luas oleh banyak umat dan pastor sebagai bentuk pembaruan rohani dan pastoral yang menyegarkan.
-
Menimbulkan resistensi dari sebagian kalangan tradisionalis, yang kemudian melahirkan gerakan seperti Missa Tridentina dan kelompok-kelompok yang meminta pemulihan Misa Latin tradisional
Relevansi Theologis dan Pastoral
Konstitusi ini menunjukkan semangat aggiornamento (pembaharuan) yang diusung oleh Konsili Vatikan II, yaitu menjembatani iman Gereja dengan kehidupan umat masa kini. Misa tidak lagi dipahami hanya sebagai kurban suci yang dipersembahkan oleh imam, tetapi juga sebagai perjamuan kudus yang melibatkan seluruh umat Allah dalam doa, nyanyian, dan sabda.
Konstitusi Apostolik Missale Romanum adalah buah dari semangat Konsili Vatikan II yang mengedepankan keterlibatan umat, kesederhanaan, dan kekayaan tradisi yang hidup. Ia menjadi fondasi dari bentuk Misa yang kita kenal sekarang: liturgi yang hidup, komunikatif, dan partisipatif.






Komentar
Posting Komentar