Memayu Hayuning Bawana: Pertobatan Ekologis dalam Magisterium Gereja Katolik

Ungkapan filsafat Jawa "Memayu Hayuning Bawana" mengandung makna mendalam tentang misi manusia untuk menjaga dan memperindah dunia demi kesejahteraan bersama. Dalam konteks global saat ini yang menghadapi krisis lingkungan, nilai ini beresonansi kuat dengan seruan Gereja Katolik terhadap pertobatan ekologis. Seruan ini tidak hanya bersifat moral, tetapi teologis, sebagaimana diajarkan oleh Magisterium atau ajaran resmi Gereja Katolik.

Memayu Hayuning Bawana: Filosofi Luhur Jawa

Dalam budaya Jawa, "Memayu Hayuning Bawana" berarti mewujudkan keindahan dunia, menjaga keseimbangan dan harmoni antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. Ini mencerminkan tanggung jawab manusia sebagai bagian dari kosmos, bukan sebagai penguasa tunggal.

Memayu Hayuning Bawana terdiri dari tiga kata dalam bahasa Jawa, yaitu memayu, hayuning, dan bawana. Secara harfiah, kata-kata ini dapat diartikan sebagai berikut:

  • Memayu: hidup, menjaga, memelihara
  • Hayuning: yang cantik, yang indah, yang baik, yang benar
  • Bawana: dunia, alam semesta

Jadi, secara harfiah, Memayu Hayuning Bawana dapat diartikan sebagai hidup dalam keindahan dunia atau memelihara kebaikan dunia. Namun, arti ini tidak hanya bersifat fisik atau material, melainkan juga bersifat spiritual atau moral. Memayu Hayuning Bawana berarti hidup dalam kebenaran dan keseimbangan yang mencerminkan kehendak Tuhan.

Memayu Hayuning Bawana memiliki makna yang sangat mendalam dan luas bagi masyarakat Jawa. Konsep ini mencakup berbagai aspek kehidupan, seperti hubungan antara manusia dengan alam, manusia dengan manusia, dan manusia dengan Tuhan. Berikut adalah beberapa makna dari Memayu Hayuning Bawana:

  • Memayu Hayuning Bawana berarti menghargai dan menjaga alam sebagai ciptaan Tuhan yang indah dan berharga. Manusia harus hidup selaras dengan alam, bukan melawan atau merusak alam. Manusia harus arif lingkungan dan tidak berbuat semena-mena terhadap alam.
  • Memayu Hayuning Bawana berarti menghormati dan menyayangi sesama manusia sebagai makhluk Tuhan yang sama-sama memiliki hak dan kewajiban. Manusia harus hidup rukun dan damai dengan sesama manusia, bukan bermusuhan atau menzalimi sesama manusia. Manusia harus adil dan bijaksana dalam bersikap dan bertindak terhadap sesama manusia.
  • Memayu Hayuning Bawana berarti mengabdi dan menyembah Tuhan sebagai sumber segala kebaikan dan keindahan. Manusia harus hidup taat dan tunduk kepada Tuhan, bukan menyimpang atau menentang Tuhan. Manusia harus bersyukur dan berdoa kepada Tuhan atas segala nikmat dan karunia-Nya.

Memayu Hayuning Bawana bukan hanya sekadar konsep atau filosofi hidup, melainkan juga merupakan pedoman atau tuntunan hidup bagi masyarakat Jawa. Konsep ini dapat diterapkan dalam berbagai aspek kehidupan sehari-hari, seperti:

  • Dalam bidang lingkungan, Memayu Hayuning Bawana dapat diterapkan dengan cara menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan sekitar kita. Kita dapat melakukan hal-hal sederhana seperti tidak membuang sampah sembarangan, tidak merusak tanaman atau hewan liar, tidak melakukan pembakaran hutan atau lahan, dan sebagainya.
  • Dalam bidang sosial, Memayu Hayuning Bawana dapat diterapkan dengan cara menjalin hubungan yang baik dengan keluarga, tetangga, teman, rekan kerja, dan masyarakat luas. Kita dapat melakukan hal-hal sederhana seperti saling menyapa, saling membantu, saling menghormati, saling memaafkan, dan sebagainya.
  • Dalam bidang spiritual, Memayu Hayuning Bawana dapat diterapkan dengan cara melaksanakan ibadah sesuai dengan agama atau keyakinan kita. Kita dapat melakukan hal-hal sederhana seperti sholat lima waktu bagi umat Islam, pergi ke gereja bagi umat Kristen atau Katolik, meditasi bagi umat Buddha atau Hindu, dan sebagainya.
Memayu Hayuning Bawana adalah konsep atau filosofi hidup yang berasal dari kebudayaan Jawa. Konsep ini mengajarkan nilai-nilai luhur tentang bagaimana manusia harus hidup dalam kebenaran, keseimbangan, dan keharmonisan dengan alam, sesama manusia, dan Tuhan. Konsep ini dapat diterapkan dalam berbagai aspek kehidupan sehari-hari dengan cara menjaga keindahan dunia baik secara fisik maupun spiritual.

Konsep ini paralel dengan pandangan Gereja Katolik bahwa bumi adalah rumah bersama (common home), dan manusia dipanggil menjadi penjaga ciptaan, bukan eksploitatornya.

Pertobatan Ekologis dalam Magisterium Gereja Katolik

1. Laudato Si’ dan “Ekologi Integral”

Dokumen utama Magisterium yang menyerukan pertobatan ekologis adalah Ensiklik Laudato Si’ (2015) oleh Paus Fransiskus. Dalam dokumen ini, Gereja menyadarkan umat bahwa krisis lingkungan bukan hanya persoalan teknis atau ekonomi, tetapi juga krisis spiritual dan moral.

“Pertobatan ekologis yang dibutuhkan mengarah pada perubahan batin yang mendalam” (Laudato Si’, no. 217).

Pertobatan ekologis menurut Paus Fransiskus mencakup:

  • Pengakuan akan dosa terhadap ciptaan,

  • Perubahan gaya hidup konsumtif,

  • Solidaritas ekologis dengan kaum miskin dan generasi mendatang,

  • Perwujudan iman melalui tindakan nyata mencintai bumi.

Ekologi integral, sebuah konsep utama dalam ensiklik Paus Fransiskus Laudato Si', mendorong batas-batas konvensional wacana lingkungan. 

“Bab Empat: Ekologi Integral” dari Laudato Si' terungkap sebagai respons inti ensiklik terhadap hubungan antara isu sosial dan lingkungan. Dalam kata-kata Paus Fransiskus, “Alam tidak dapat dianggap sebagai sesuatu yang terpisah dari diri kita atau sekadar lingkungan tempat kita hidup” (LS 139). Akibatnya, ekologi integral mengakui bahwa interaksi kita dengan lingkungan terjalin dalam jalinan dimensi ekonomi, politik, sosial, budaya, dan etika.

Metode observasi untuk mempelajari ekosistem sudah dikenal luas dalam sains, tetapi ekologi integral membawa ilmu ini selangkah lebih maju dengan menambahkan aspek etika dan spiritual. Ekologi integral mengeksplorasi hubungan kompleks antara manusia dan alam, dengan mempertimbangkan budaya, keluarga, komunitas, kebajikan, keimanan, dan penghargaan yang kuat terhadap kebaikan bersama.

2. Ajaran Sosial Gereja

Magisterium telah sejak lama menekankan keadilan sosial yang mencakup lingkungan. Dalam Compendium of the Social Doctrine of the Church, alam dipandang sebagai anugerah Tuhan yang harus dilestarikan demi kebaikan bersama.

3. Sinode Amazon dan Dokumen Pascasinode “Querida Amazonia”

Dalam Querida Amazonia (2020), Paus Fransiskus kembali menegaskan bahwa kerusakan ekologi membawa dampak rohani, sosial, dan budaya. Perlu “ekologi integral” yang menyatukan keadilan sosial, spiritualitas, dan kelestarian lingkungan.

Memayu Hayuning Bawana sebagai Model Pertobatan Ekologis Kontekstual

Kebijaksanaan lokal seperti Memayu Hayuning Bawana memberi akar kontekstual bagi pertobatan ekologis di Indonesia. Nilai ini mendorong:

  • Kesadaran ekologis berbasis budaya,

  • Pendidikan lingkungan dalam terang iman dan kearifan lokal,

  • Liturgi dan spiritualitas ekologis yang menyentuh relasi manusia dengan alam.

Dengan menyandingkan Magisterium dan kearifan lokal, umat Katolik Indonesia dapat membumikan pertobatan ekologis menjadi gaya hidup sehari-hari: hemat energi, diet ramah lingkungan, mengurangi plastik, dan menjaga ekosistem lokal.

Menghidupi Memayu Hayuning Bawana dalam terang Magisterium Gereja Katolik adalah panggilan profetik zaman ini. Pertobatan ekologis bukan sekadar aksi lingkungan, melainkan wujud pertobatan hati yang berakar pada cinta kasih kepada Tuhan, sesama, dan bumi. Dengan demikian, umat Katolik berkontribusi nyata pada pewartaan Injil dan pemulihan dunia yang terluka.

Sumber:

  1. Paus Fransiskus. Laudato Si’: On Care for Our Common Home. Vatikan, 2015.

  2. Paus Fransiskus. Querida Amazonia. Vatikan, 2020.

  3. Pontifical Council for Justice and Peace. Compendium of the Social Doctrine of the Church. Vatikan, 2004.


Komentar

Postingan Populer