Vatikan Menjadi Negara ke‑8 yang Mencapai 100% Energi Hijau
Vatican City tengah menjalankan proyek ambisius untuk beralih sepenuhnya ke energi terbarukan dan akan menjadi negara ke‑8 di dunia yang memproduksi 100% listriknya dari energi hijau.
1. Latar Belakang dan Inisiatif
Paus Fransiskus dalam surat apostolik berjudul Fratello Sole (“Brother Sun”) menyampaikan instruksi pembangunan pembangkit tenaga surya di area ekstrateritorial milik Vatikan seluas sekitar 424 hektare di luar Roma.
Selain untuk pemasok energi listrik, lahan tersebut juga akan dimanfaatkan untuk pertanian yang menjadikannya pengembangan agrivoltaic atau bentuk baru energi matahari yang menggunakan tumbuhan untuk menghasilkan listrik.
Proyek “agrivoltaic” ini menyatukan produksi energi dan pertanian, serta menambah kapasitas panel surya yang sudah ada di dalam Kota Vatikan.
"Kita perlu melakukan transisi menuju model pembangunan berkelanjutan yang mengurangi emisi gas rumah kaca ke atmosfer, dengan tujuan netralitas iklim," tulis Paus Fransiskus.
Paus mengatakan umat manusia memiliki sarana teknologi yang diperlukan untuk menghadapi transformasi lingkungan dan konsekuensi etis, sosial, ekonomi, dan politiknya yang merusak. "Dan energi surya memainkan peran yang fundamental," tambahnya, dikutip dari The Independent.
2. Mengapa Jadi Negara ke‑8?
Menurut data dari Stanford University yang dikutip di The Independent, Vatikan akan bergabung dengan tujuh negara lain yang menghasilkan lebih dari 99,7% listriknya dari energi terbarukan: Albania, Bhutan, Nepal, Paraguay, Etiopia, Islandia, dan Republik Demokratik Kongo.
Sebanyak 40 negara lainnya menghasilkan setidaknya 50% listrik mereka dari teknologi energi terbarukan seperti panas bumi, hidro, matahari, atau angin.
"Kita tidak membutuhkan teknologi ajaib. Kita perlu menghentikan emisi dengan mengelektrifikasi segala sesuatu dan menyediakan listrik dengan Wind, Water and Solar (WWS), yang meliputi angin darat, fotovoltaik surya, tenaga surya terkonsentrasi, listrik geotermal, pembangkit listrik tenaga air kecil, dan pembangkit listrik tenaga air besar," kata Profesor Mark Z. Jacobson dari Universitas Stanford.
3. Ruang Lingkup dan Implementasi
Energi terbarukan mulai diadopsi Vatikan pada 2008, ketika 2.394 panel surya digelar di atap gedung The Paul VI Audience Hall. PLTS berkapasitas 221 kW tersebut sanggup membangkitkan energi listrik sebesar 300 MWh per tahun. Cukupkah? Berdasarkan dokumen yang diserahkan Vatikan kepada UNFCCC, konsumsi listrik Vatikan pada 2022 sebesar 30.000 MWh. Selain PLTS di atap The Paul VI Audience Hall, terdapat dua titik suplai listrik lain di Vatikan dari pembangkit Italia.
Berdasarkan situs resmi Vatikan, Paus Fransiskus pada Juni 2024, memerintahkan pembangunan "agrivoltaic plant" untuk memasok energi listrik kota tersebut.
Agrivoltaic berkonsep pemanfaatan areal untuk panel surya sekaligus kegiatan pertanian. Telah dipilih properti milik Vatikan di luar Kota Roma seluas 424 ha untuk mengadopsi konsep ini.
Pada 31 Juli 2025, Vatikan dan pemerintah Italia menandatangani perjanjian resmi untuk membangun fasilitas agrivoltaic ini. Proyek bertujuan menyediakan seluruh kebutuhan listrik Vatikan sambil menjaga fungsi pertanian di lahan tersebut.
Proyek ini telah dirancang dengan cermat untuk menghormati lanskap alam, meminimalkan dampak lingkungan, melindungi warisan budaya dan arkeologi, serta menjaga keseimbangan hidrogeologi wilayah tersebut.
Implementasi energi terbarukan hanyalah salah satu strategi pengurangan jejak karbon Vatikan. Seperti banyak negara lain, Vatikan menetapkan 2050 sebagai tahun untuk mencapai emisi nol bersih.
4. Motivasi dan Dampak
Paus Fransiskus menggarisbawahi pentingnya transisi menuju model pembangunan berkelanjutan dengan tujuan netralitas iklim, sekaligus sebagai bentuk tanggung jawab etika dan sosial terhadap perubahan iklim. “Energi surya memainkan peran penting dalam transformasi ini,” tulisnya dalam surat tersebut.
Lingkungan telah menjadi fokus utama kepausan Paus Fransiskus, yang pada tahun 2015 menyatakan bahwa perubahan iklim yang disebabkan oleh manusia merupakan salah satu keprihatinan utamanya terhadap masa depan planet bumi ini.
Kota Vatikan bergabung dengan Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim pada 2022, yang bertujuan untuk mengatasi campur tangan manusia yang berbahaya terhadap sistem iklim.
Pada Mei 2024, Paus menyatakan bahwa krisis iklim telah sampai pada titik dimana sudah tidak ada lagi kesempatan untuk kembali dan menggambarkan lintasannya saat ini sebagai jalan menuju kematian.
"Sangat sulit untuk menciptakan kesadaran akan hal ini. (Para pemimpin dunia) mengadakan konferensi, semua orang setuju, mereka semua menandatangani, dan kemudian selamat tinggal. Namun kita harus memahami, pemanasan global sangat mengkhawatirkan," kata Paus Fransiskus.
Kepemimpinan Vatikan dalam mengadopsi energi hijau, meskipun sebagai negara terkecil di dunia, menunjukkan bahwa pemimpin spiritual global juga dapat menjadi pelopor aksi lingkungan global.
Dengan langkah-langkah ini, Vatikan bukan hanya mendekati pencapaian nasional dalam hal energi hijau — tetapi juga memberi contoh bagi seluruh dunia mengenai pentingnya tindakan berani dalam menjaga lingkungan.
Sumber:
-
The Independent: Vatikan menjadi negara ke‑8 yang akan menghasilkan 100% listrik dari energi terbarukan.
-
Renewable Energy Institute dan berbagai laporan terkait: mengonfirmasi rencana energi terbarukan Vatikan.
-
Vatican News: Perjanjian antara Vatikan dan Italia untuk membangun pembangkit agrivoltaik pada 31 Juli 2025
- ANSA / Catholic News Agency / ZENIT / Euronews: liputan tentang proyeksi solar dan instalasi surya di Vatikan
-
FSSPX News: detail tahap-tahap instalasi panel fotovoltaik di dalam Kota Vatikan dan kebijakan mobilitas & energi bersih






Komentar
Posting Komentar