Beato Dionisius dan Redemptus a Cruce, Martir Indonesia
Dalam sejarah Gereja Katolik, tanah Indonesia tidak hanya dikenal sebagai ladang misi yang subur, tetapi juga sebagai tempat di mana benih iman disiram dengan darah para martir. Dua di antara mereka adalah Beato Dionisius (Pierre Berthelot) dan Beato Redemptus a Cruce. Kedua martir ini diperingati oleh Gereja pada 1 Desember, dan kehidupan mereka menjadi teladan kesetiaan serta keberanian dalam menghadapi penderitaan demi Kristus.
Latar Belakang
Dionisius bernama asli Pierre Berthelot, putra sulung pasangan bangsawan Perancis Berthelot dan Fleurie Morin. Ia lahir di Honfleur, Perancis, 12 Desember 1600. Ayahnya adalah dokter dan nahkoda kapal.
Pierre sangat berbakat di bidang pelayaran. Ia juga ahli menggambar peta untuk navigasi pelayaran. Tak heran, Pierre diangkat sebagai navigator L’Espérance, kapal dagang ekspedisi Perancis ke India pada usia 19 tahun. Naas, L’Espérance takluk di tangan VOC dalam perebutan rempah-rempah. Pierre menjadi tawanan di Jawa.
Begitu dibebaskan, Pierre mengadu nasib ke daerah koloni Portugis di Malaka. Ia bekerja pada Portugis. Namanya melejit berkat kejeniusan dan keberaniannya sebagai pelaut. Hal ini memikat hati Raja Portugis, yang menobatkannya sebagai ‘ahli navigasi dan pembuat peta Asia’.
Peta Pulau Sumatra adalah karya Pierre, yang hingga kini tersimpan di Museum Inggris. Dari Malaka, Pierre hijrah ke Goa, India. Di sinilah Pierre putar haluan. Ia masuk Biara Karmelit di Goa pada 1635. Pierre memilih nama biarawan Dionisius à Nativité.
Suatu saat Wakil Raja Portugis di Goa, Peter da Silva menghendaki Dionisius ikut dalam kunjungan persahabatan kepada Sultan Iskandar Tani di Aceh pada 1638.
Dionisius akan dijadikan navigator dalam pelayaran, sekaligus Bapa Rohani bagi delegasi Portugis yang ingin memperbaiki relasi dengan Aceh. Dionisius juga fasih berbahasa Melayu.
Dionisius meminta Bruder Redemptus à Crucé OCD untuk mendampingi perjalanannya. Bruder Karmelit yang bernama asli Thomas Rodriguez da Cunha itu adalah mantan serdadu Portugis yang ditugaskan di Goa. Ia menjadi bruder dan bekerja sebagai penjaga pintu biara, pelayan imam, koster, penerima tamu, dan pengajar anak-anak.
Perjalanan ke Aceh
Mereka berangkat pada 25 September 1638, dengan satu kapal dagang dan dua kapal perang.
Sebulan kemudian mereka berlabuh di Kutaraja. Penduduk menyambut baik. Namun Belanda menghasut Sultan Iskandar Tani. Belanda mengatakan bahwa misi Portugis hendak melakukan kristenisasi kepada masyarakat Aceh yang sudah memeluk agama Islam.
Kesetiaan sampai Mati
Termakan hasutan Belanda, semua anggota misi Portugis ditangkap. Mereka disiksa agar menyangkal imannya. Mereka meringkuk di penjara dalam kondisi mengenaskan selama sebulan. Kehabisan akal, Sultan Iskandar Tani pun mengeluarkan maklumat untuk menghukum mati para tawanan itu. Pembantaian massal pun terjadi pada 29 November 1638.
Peristiwa pendaratan dan pembantaian utusan Portugis ini disinggung juga dalam catatan perjalanan Karl May ke Aceh dan Padang dalam buku “Dan Damai di Bumi” (KPG. Cet.2, 2016).
Kemartiran Dionisius dengan kawan-kawannya disahkan Tuhan: jenasah mereka selama 7 bulan tidak hancur, tetap segar seperti sedang tidur. Menurut saksi mata, jenazah Dionisius sangat merepotkan orang sekitarnya, karena setiap kali dibuang - ke laut dan tengah hutan - senantiasa kembali lagi ke tempat ia dibunuh. Akhirnya jenazahnya dengan hormat dimakamkan di Pulau Dien ('pulau buangan'). Kemudian dipindahkan ke Goa, India.
Ketika kabar mengenai kemartiran yang mulia dari kedua Karmelit sampai di biara di Goa, seorang rahib membunyikan lonceng tanda kematian, dan para biarawan Karmel Tak Berkasut menyanyikan Te Deum karena dua orang kudus lagi, yakni kedua martir, berada di surga.
Ada sebuah surat tulisan tangan, meskipun singkat, dari utusan Portugis yang menjadi saksi mata kedua orang yang diberkati itu.
“P. Berthelot, meninggal sebagai martir yang sempurna, saat ia berkhotbah dalam dua bahasa, yaitu Portugis dan Melayu, membuat para algojo sendiri ketakutan. Selama tiga puluh hari ia dirantai dengan besi dan harus menanggung kelaparan besar serta pukulan yang kejam, sehingga hari kematiannya menjadi hari pembebasan baginya.”
Pengakuan Gereja
Pada 10 Juni 1900, Paus Leo XIII secara resmi mengangkat Dionisius dan Redemptus sebagai Beato Martir, dan mereka dihormati sebagai teladan keberanian iman.
Dionisius dan Redemptus bermisi membawa damai. Mereka ingin menjalin persahabatan dan persaudaraan. Tetapi persaingan dagang dan politik dengan VOC menghambat misi damai itu.
Beato Dionisius dan Redemptus a Cruce adalah martir yang mengorbankan hidup mereka. Kisah mereka mengingatkan kita bahwa benih iman di Nusantara tumbuh tidak hanya dari usaha para misionaris, tetapi juga dari darah para saksi Kristus. Semoga teladan mereka menguatkan umat Katolik Indonesia untuk tetap teguh dalam iman, setia dalam pelayanan, dan berani menjadi saksi Kristus di tengah dunia modern.
Sumber:
- Menjelajahi gereja di Serambi Mekah, katolikana.com
- Beato Dionisius dan Redemptus a Cruce, Martir Indonesia, imankatolik.or.id
- Kisah Hidup dan Novena Beato Dionisius dan Redemptus (MARTIR ACEH), Penerbit: Nyala Cinta
- Kisah Martir Portugis di Aceh, historia.id






Komentar
Posting Komentar