Bijak dalam Membuat Janji kepada Tuhan: Sebuah Peringatan Bagi Umat Katolik
Dalam Kitab Suci kita mendapati banyak tokoh yang membuat janji kepada Tuhan. Salah satunya adalah Yefta (Hakim-Hakim 11:29-39), yang bernazar dengan gegabah sehingga menimbulkan penderitaan besar dalam keluarganya. Kisah ini menjadi peringatan abadi bahwa janji kepada Tuhan bukanlah sesuatu yang main-main.
1. Janji sebagai Ungkapan Iman, Bukan Tawar-Menawar
Gereja Katolik mengajarkan bahwa doa dan nazar hendaknya lahir dari iman dan cinta, bukan dari semangat tawar-menawar dengan Allah. Tuhan bukanlah pihak yang harus kita suap agar memenuhi keinginan kita. Yesus sendiri mengingatkan:
“Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.” (Mat 5:37).
Dengan kata lain, kesetiaan dan kejujuran dalam perkataan jauh lebih berharga di mata Tuhan daripada janji-janji kosong.
2. Bahaya Janji yang Tergesa-gesa
Seringkali, dalam situasi sulit, umat tergoda membuat janji terburu-buru: “Kalau doa saya terkabul, saya akan melakukan ini atau itu.” Bahayanya, janji itu bisa tidak realistis atau bahkan mustahil dilaksanakan. Akibatnya, seseorang jatuh dalam rasa bersalah atau justru mengabaikan janji yang sudah terucap.
Santo Yakobus mengingatkan, “Tetapi yang terutama, saudara-saudara, janganlah kamu bersumpah demi sorga maupun demi bumi atau demi sesuatu yang lain. Jika ya, hendaklah kamu katakan ya, jika tidak hendaklah kamu katakan tidak, supaya kamu jangan kena hukuman.” (Yak 5:12).
3. Hati yang Setia Lebih Bernilai daripada Nazar
Tradisi Gereja Katolik mengenal nazar (votum) yang bersifat pribadi. Namun Gereja menekankan bahwa nazar sebaiknya dibuat dengan pertimbangan matang, dibimbing oleh kebijaksanaan, dan bila perlu dikonsultasikan dengan pembimbing rohani. Bahkan Kitab Hukum Kanonik (Kan. 1191 §1) menyebutkan bahwa nazar harus dilakukan dengan bebas dan penuh kesadaran.
Lebih daripada janji besar, Tuhan menghargai kesetiaan kecil yang kita jalankan setiap hari: doa sederhana, pelayanan tulus, kerja yang jujur, kasih dalam keluarga, serta kepedulian pada sesama.
4. Janji yang Menjadi Berkat
Jika umat ingin membuat janji, hendaklah janji itu:
-
Realistis: sesuai kemampuan dan keadaan hidup.
-
Bersumber dari kasih: bukan dari rasa takut atau pamrih.
-
Diarahkan pada kebaikan: membawa berkat, bukan malapetaka.
-
Dipersembahkan dengan rendah hati: menyadari bahwa segala sesuatu akhirnya berasal dari rahmat Allah.
5. Peringatan untuk Kita Semua
Kisah Yefta adalah peringatan: jangan gegabah dalam membuat janji kepada Tuhan. Lebih baik hidup setia dalam hal-hal kecil setiap hari, daripada mengucapkan janji besar yang tidak kita penuhi. Tuhan tidak menuntut janji yang muluk, melainkan hati yang taat dan penuh kasih.
Seperti kata Nabi Hosea: “Sebab Aku menyukai kasih setia, dan bukan korban sembelihan, dan menyukai pengenalan akan Allah, lebih dari pada korban-korban bakaran.” (Hos 6:6).
👉 Dengan demikian, umat Katolik diajak untuk bijak: bila membuat janji kepada Tuhan, lakukanlah dengan penuh kesadaran, cinta, dan tanggung jawab. Karena yang lebih penting dari semua janji adalah kesetiaan kita untuk berjalan bersama Kristus setiap hari.






Komentar
Posting Komentar