Maria Dimuliakan sebagai Ratu Surga setelah Diangkat ke Surga
Devosi Gereja Katolik kepada Santa Perawan Maria mencapai puncak dalam pengakuan bahwa Maria, Bunda Allah, setelah diangkat ke surga dengan jiwa dan raganya, dimuliakan oleh Allah sebagai Ratu Surga dan Bunda segala ciptaan. Ajaran ini diteguhkan oleh Paus Pius XII melalui konstitusi apostolik Munificentissimus Deus (1950), yang menegaskan dogma Maria Diangkat ke Surga. Tidak lama kemudian, Gereja juga merayakan perannya sebagai Ratu Surga dan Bunda segala Rahmat, yang dikaitkan dengan Kristus Sang Raja.
Dasar Kitab Suci
Walau Kitab Suci tidak mencatat secara eksplisit peristiwa Maria diangkat ke surga, ada banyak dasar biblis yang menopang iman Gereja:
-
Wahyu 12:1 – “Seorang perempuan berselubungkan matahari, dengan bulan di bawah kakinya dan sebuah mahkota dari dua belas bintang di atas kepalanya.”
Ayat ini dipahami sebagai gambaran Gereja, sekaligus pribadi Maria yang dimuliakan dalam kemuliaan surgawi. Mahkota melambangkan martabat ratu yang diberikan Allah kepadanya. Mazmur 45:9 – “..., di sebelah kananmu berdiri permaisuri berpakaian emas dari Ofir.”
Dalam tradisi, ratu yang duduk di sebelah kanan raja menjadi gambaran Maria yang mendampingi Putranya, Kristus, Sang Raja Segala Raja.Lukas 1:48-49 – “sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia, karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan nama-Nya adalah kudus.”
Nubuat Maria sendiri digenapi dalam kemuliaan surgawi: Allah memahkotainya sebagai Ratu karena kesetiaan dan kerendahannya.
Ajaran Gereja: Munificentissimus Deus
Dalam Munificentissimus Deus, Paus Pius XII menegaskan:
-
Maria, karena perannya yang unik sebagai Bunda Allah, tidak mengalami kebinasaan tubuh, melainkan dibawa ke dalam kemuliaan surgawi.
-
Pengangkatan Maria ke surga adalah buah dari persatuan eratnya dengan Kristus, Sang Penebus.
-
Setelah dimuliakan di surga, Maria berperan sebagai Ratu, yang menjadi pengantara kasih dan rahmat bagi umat beriman.
Tradisi dan Devosi Gereja
Tradisi Katolik sejak abad-abad awal menempatkan Maria sebagai ratu:
-
Dalam doa dan liturgi, umat menyebut Maria “Regina Caeli” (Ratu Surga).
-
Devosi Rosario meneguhkan pengakuan atas Maria sebagai ratu melalui Peristiwa Mulia ke-5: Maria Dimahkotai di Surga.
-
Tradisi Katolik di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia, mengekspresikan penghormatan ini melalui patung Maria bermahkota, prosesi Maria, dan perayaan bulan Mei serta Agustus.
Makna Teologis dan Spiritualitas
-
Persatuan dengan Kristus – Maria dimuliakan sebagai Ratu bukan karena kekuasaan duniawi, tetapi karena kesatuannya dengan Kristus, Sang Raja.
-
Teladan bagi umat beriman – Maria menunjukkan jalan kerendahan hati, ketaatan, dan kesetiaan yang membawa kepada kemuliaan.
-
Pengantara Rahmat – Sebagai Bunda dan Ratu, Maria terus mendoakan Gereja agar umat beriman setia mengikuti Kristus.
-
Harapan akan kemuliaan – Kemuliaan Maria di surga menjadi janji bagi seluruh umat beriman: mereka pun akan turut dimuliakan bila setia kepada Allah.






Komentar
Posting Komentar