Menghidupi Kasih dalam Kekerasan: Refleksi Matius 5:39
“... Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu,...”
— Matius 5:39 (TB)Kasih dalam Dunia yang Terluka
Dalam dunia yang dirundung konflik, kekerasan, dan dendam yang diwariskan dari generasi ke generasi, perkataan Yesus dalam Matius 5:39 terdengar begitu radikal, bahkan nyaris tidak masuk akal: “... Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu,...” Perintah ini bukan seruan untuk tunduk pasif pada ketidakadilan, melainkan undangan untuk memasuki jalan kasih yang membebaskan, yakni pengampunan.
Ayat ini merupakan bagian dari Khotbah di Bukit, di mana Yesus mengajarkan Sabda Bahagia, sebuah visi hidup yang bertentangan dengan logika dunia—mereka yang lembut hatinya, yang membawa damai, yang dianiaya karena kebenaran justru disebut berbahagia (Mat. 5:3–12).
Tantangan Sabda Bahagia dalam Konteks Kekerasan dan Perang
Dalam masa perang—seperti yang dialami saudara-saudari kita di Ukraina, Sudan, Gaza, dan berbagai tempat lain—menghidupi Sabda Bahagia menjadi perjuangan yang luar biasa berat. Bagaimana mungkin memaafkan mereka yang membunuh keluarga kita? Bagaimana mungkin tidak melawan mereka yang menghancurkan kampung halaman?
Namun, justru dalam konteks penderitaan inilah Sabda Bahagia menemukan kekuatan transformatifnya. Dalam Fratelli Tutti , Paus Fransiskus menegaskan bahwa kekerasan tidak pernah membawa perdamaian sejati:
“... Kekerasan mengarah pada lebih banyak kekerasan, kebencian mengarah pada lebih banyak kebencian, kematian mengarah pada lebih banyak kematian. Kita harus memutus siklus ini yang tampaknya tak terelakkan.” (FT 227)
Yesus bukan hanya mengajarkan pengampunan, Ia sendiri menghidupinya—di atas kayu salib, Ia berkata: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Luk. 23:34). Ini bukan kelemahan, melainkan puncak kekuatan kasih yang sejati.
Pengampunan Bukan Pengabaian Keadilan
Mengampuni bukan berarti membenarkan kekerasan. Gereja Katolik tetap menekankan keadilan dan perlindungan terhadap yang lemah (bdk. Kompendium Ajaran Sosial Gereja, art. 496). Namun, pengampunan membuka ruang untuk rekonsiliasi. Santo Yohanes Paulus II, yang pernah menjadi korban percobaan pembunuhan, menunjukkan teladan pengampunan dengan mengunjungi dan memaafkan pelakunya di penjara.
Pengampunan adalah tindakan profetik. Ia menyatakan bahwa kita tidak mau dikendalikan oleh kebencian, dan bahwa kita percaya akan kemungkinan pemulihan dan pertobatan.
Kesaksian dan Panggilan Kita
Di tengah perang dan kekerasan, umat Kristiani dipanggil menjadi pembawa damai (Mat. 5:9), bukan pembalas dendam. Dalam Fratelli Tutti, Paus Fransiskus mengajak kita semua untuk “tidak pernah membenarkan perang” dan mengusahakan jalan-jalan dialog, solidaritas, dan kasih.
Kita dapat mulai dari hal kecil: tidak membalas kebencian di media sosial, membela mereka yang tertindas dengan suara kasih, serta mendampingi mereka yang terluka secara spiritual dan emosional.
Jalan Salib, Jalan Damai
Menghidupi Matius 5:39 bukanlah jalan mudah. Itu adalah jalan salib—penuh penderitaan, namun juga penuh harapan. Kasih yang tidak membalas kejahatan dengan kejahatan adalah kekuatan yang lebih besar daripada semua senjata.
Di dunia yang haus balas dendam, marilah kita menjadi saksi kasih. Pengampunan bukan kelemahan, tetapi kekuatan Injil yang mengubah dunia—dimulai dari hati kita sendiri.
Sumber Referensi:
-
Alkitab Terjemahan Baru, LAI.
-
Katekismus Gereja Katolik, artikel 2842–2845 (tentang pengampunan).
-
Paus Fransiskus, Fratelli Tutti (2020).
-
Kompendium Ajaran Sosial Gereja






Masuk belum bisa untun tidak dendam 😀
BalasHapus