Menjadi Suara Bagi yang Tertindas: Refleksi atas Mazmur 10:17–18

“Keinginan orang-orang yang tertindas telah Kaudengarkan, ya TUHAN; Engkau menguatkan hati mereka, Engkau memasang telinga-Mu, untuk memberi keadilan kepada anak yatim dan orang yang terinjak; supaya tidak ada lagi seorang manusia di bumi yang berani menakut-nakuti.

(Mazmur 10:17–18, LAI TB)


Jeritan yang Belum Dijawab

Mazmur 10 merupakan seruan yang jujur dan penuh rasa sakit dari seorang pemazmur yang menyaksikan kejahatan merajalela, sementara orang-orang miskin dan tertindas tampak ditinggalkan tanpa pembela. Dalam ayat 17–18, ada keyakinan iman bahwa Tuhan tidak tuli terhadap penderitaan mereka—bahwa suara mereka, meskipun diabaikan oleh manusia, didengar oleh Allah.

Konteks ini relevan bagi banyak situasi masa kini, termasuk tragedi besar seperti ledakan di Beirut lima tahun silam, atau kasus-kasus pelanggaran hukum yang tak kunjung diselesaikan secara adil. Para keluarga korban terus menanti—jeritan mereka menggema dalam keheningan ruang pengadilan dan lorong-lorong birokrasi yang dingin. Hukum yang seharusnya menjadi tempat berlindung justru menjadi sumber frustrasi dan luka batin yang tak kunjung sembuh.

Ketika Sistem Hukum Bungkam

Keadilan dunia sering kali lambat, atau bahkan mandek karena korupsi, politik, atau ketidakpedulian. Dalam banyak kasus, penderitaan korban dan keluarganya tidak mendapat tempat di ruang publik. Mazmur ini menjadi pengingat bahwa jeritan mereka tidak sia-sia. Tuhan mendengar dan menguatkan hati mereka. Namun, pengharapan ini bukan alasan untuk berdiam diri.

Kateksimus Gereja Katolik (KGK) menegaskan bahwa:

“Keadilan sebagai kebajikan moral adalah kehendak yang tetap dan teguh untuk memberi kepada Allah dan sesama, apa yang menjadi hak mereka. Keadilan terhadap Allah dinamakan orang "kebajikan penghormatan kepada Allah" [virtus religionis]. Keadilan terhadap manusia mengatur, supaya menghormati hak setiap orang dan membentuk dalam hubungan antar manusia, harmoni yang memajukan kejujuran terhadap pribadi-pribadi dan kesejahteraan bersama. Manusia yang adil yang sering dibicarakan Kitab Suci, menonjol karena kejujuran pikirannya dan ketepatan tingkah lakunya terhadap sesama. "Janganlah engkau membeIa orang kecil dengan tidak sewajarnya dan janganlah engkau terpengaruh oleh orang-orang besar, tetapi engkau harus mengadili sesamamu dengan kebenaran" (Im 19:15). "Hai tuan-tuan, berlakulah adil dan jujur terhadap hambamu; ingatlah, kamu juga mempunyai tuan di surga" (Kol 4:1).

(KGK 1807)

Keadilan bukanlah ide abstrak, tetapi panggilan konkret yang harus dihidupi oleh setiap umat beriman.

Menjadi Suara bagi yang Tertindas

Sebagai pengikut Kristus, kita dipanggil bukan hanya untuk merasa iba, tetapi juga bertindak. Yesus sendiri berdiri di pihak yang miskin dan tertindas. Ia tidak hanya menyembuhkan yang sakit, tetapi juga menegur mereka yang menyalahgunakan kekuasaan (lih. Lukas 11:46–52). Gereja, sebagai Tubuh Kristus, meneruskan misi ini.

Paus Fransiskus menegaskan:

Kita tidak perlu takut mewartakan kebenaran, meskipun terkadang tidak nyaman, tetapi kita melakukannya dengan belas kasih dan dengan hati.

(Pesan Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-57)

Menjadi suara bagi yang tertindas berarti:

  • Menyuarakan ketidakadilan di ruang publik dan media;

  • Mendukung korban dengan kehadiran, doa, dan solidaritas konkret;

  • Mendesak sistem hukum untuk benar-benar menjadi alat keadilan, bukan kekuasaan;

  • Mengedukasi umat agar lebih peka dan peduli terhadap penderitaan sesama.

Harapan dalam Keadilan Ilahi

Meskipun sistem dunia gagal, iman Kristen meyakini bahwa Tuhan tidak tinggal diam. Ia menguatkan hati yang remuk, memberi kekuatan untuk terus berharap dan bertindak. Di tengah dunia yang keras dan sering kali tidak adil, umat Kristiani dipanggil menjadi saksi harapan—membawa suara Injil ke tempat di mana suara-suara manusia dibungkam.

“Keinginan orang-orang yang tertindas telah Kaudengarkan, ya TUHAN...”

Mazmur ini bukan hanya doa permohonan, tetapi juga seruan kenabian: bahwa keadilan adalah bagian dari pewartaan kita, dan bahwa suara umat Allah harus menjadi gema dari suara Allah sendiri—yang berpihak pada yang lemah, yatim, dan tertindas.

Sumber:

  • Alkitab LAI Terjemahan Baru – Mazmur 10:17–18

  • Katekismus Gereja Katolik (KGK) 1807

  • Paus Fransiskus, Pesan Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-57

  • Kompendium Ajaran Sosial Gereja Katolik (KASG) 388–391

  • Dokumen Evangelii Gaudium Paus Fransiskus, no. 187–201

Komentar

Postingan Populer