Pengkhotbah dan Psikologi Modern: Kecemasan Eksistensial dalam Dunia Serba Cepat
Dalam dunia modern yang ditandai oleh kecepatan, produktivitas, dan kompetisi, manusia semakin sering dihadapkan pada pertanyaan mendasar: “Apa arti hidup ini?” Pertanyaan ini juga merupakan inti dari Kitab Pengkhotbah, salah satu tulisan hikmat dalam Perjanjian Lama. Menariknya, pesan-pesan Pengkhotbah ternyata memiliki relevansi mendalam dengan konsep psikologi modern, terutama dalam memahami kecemasan eksistensial—suatu keadaan psikologis yang muncul dari kesadaran akan kefanaan, ketidaktentuan, dan makna hidup.
Kitab Pengkhotbah: Suara Kuno untuk Keresahan Modern
Kitab Pengkhotbah dibuka dengan pernyataan yang menggugah:
“Kesia-siaan belaka, kata Pengkhotbah, kesia-siaan belaka, segala sesuatu adalah sia-sia.” (Pkh. 1:2)
Pengkhotbah, yang disebut juga sebagai Qohelet, tidak menyuguhkan optimisme naif. Ia justru menelanjangi ilusi hidup manusia: kerja keras (Pkh. 2:21-23), pencapaian, kebijaksanaan, dan bahkan kenikmatan semuanya tampak tidak mampu memberikan kepuasan yang sejati. Pengkhotbah menyuarakan apa yang oleh psikologi eksistensial disebut sebagai kecemasan akan makna (meaning anxiety).
Kecemasan Eksistensial dalam Psikologi Modern
Psikologi eksistensial, sebagaimana dikembangkan oleh tokoh-tokoh seperti Viktor Frankl, Rollo May, dan Irvin D. Yalom, mengenali bahwa manusia tidak hanya bergumul dengan trauma masa lalu, tetapi juga dengan rasa hampa dan kehilangan makna dalam kehidupan. Yalom menyoroti empat masalah utama eksistensial: kematian, kebebasan, isolasi, dan makna.
Viktor Frankl dalam bukunya Man’s Search for Meaning menyatakan bahwa banyak gangguan psikologis modern justru lahir dari kehampaan eksistensial, bukan semata-mata dari trauma masa lalu. Dalam konteks ini, Kitab Pengkhotbah menjadi sangat relevan—Qohelet melihat bahwa bahkan dalam keberlimpahan, manusia tetap merasa kosong bila hidup tidak memiliki makna yang melampaui dirinya.
Dunia Serba Cepat dan Beban Psikologis
Dunia modern memperparah kecemasan ini. Budaya serba cepat dan konsumtif mendorong manusia mengejar pencapaian tanpa henti. Media sosial, tekanan ekonomi, dan tuntutan akan “produktif setiap waktu” menciptakan kelelahan emosional dan spiritual. Qohelet mengamati realitas ini jauh sebelum istilah burnout dikenal:
“Seluruh hidupnya penuh kesedihan dan pekerjaannya penuh kesusahan hati, bahkan pada malam hari hatinya tidak tenteram. Inipun sia-sia.” (Pkh. 2:23)
Mencari Makna dalam Ketakterdugaan
Namun, Qohelet tidak berhenti pada keputusasaan. Ia menyarankan manusia untuk menerima kehidupan sebagai anugerah:
“Nikmatilah hidup bersama istrimu yang kau kasihi... karena itulah bahagianmu dalam hidup dan dalam usaha yang engkau lakukan dengan jerih payah di bawah matahari.” (Pkh. 9:9)
Pengkhotbah menyiratkan bahwa makna hidup tidak selalu ditemukan dalam pencapaian besar, tetapi dalam kesederhanaan, rasa syukur, dan ketundukan pada Allah.
Ini sejalan dengan prinsip Viktor Frankl:
“Makna hidup tidak dapat diciptakan, tetapi ditemukan—dalam cinta, dalam penderitaan, dan dalam bekerja dengan tanggung jawab.”
Menemukan Relevansi
Kitab Pengkhotbah menawarkan insight mendalam dalam menghadapi kecemasan eksistensial di tengah dunia serba cepat. Ia tidak menuntut manusia menjadi “positif” sepanjang waktu, tetapi mengajak untuk mengakui absurditas hidup, sekaligus mengandalkan Allah dan menemukan makna dalam hal-hal kecil yang autentik. Dalam perspektif ini, spiritualitas dan psikologi dapat berjalan beriringan, menawarkan penyembuhan bagi jiwa modern yang lelah dan gelisah.
Referensi:
-
Alkitab Terjemahan Baru (LAI), Pengkhotbah 1–12.
-
Viktor E. Frankl, Man’s Search for Meaning (Beacon Press, 2006).
-
Irvin D. Yalom, Existential Psychotherapy (Basic Books, 1980).
-
Rollo May, The Discovery of Being (W.W. Norton & Company, 1983).
-
Smith, James K. A. You Are What You Love: The Spiritual Power of Habit (Brazos Press, 2016).
-
Peterson, Eugene H. The Message: The Bible in Contemporary Language.






Komentar
Posting Komentar