Refleksi 80 Tahun Kemerdekaan: Merdeka Bersama Alam, Merdeka untuk Semua

Tahun 2025 menjadi momen istimewa. Indonesia merayakan 80 tahun kemerdekaannya—sebuah tonggak sejarah panjang perjuangan, pengorbanan, dan tekad untuk berdiri di atas kaki sendiri. Namun, di tahun yang sama, Gereja Katolik juga menandai 800 tahun “Kidung Segenap Ciptaan” karya Santo Fransiskus dari Assisi, sebuah pujian sederhana namun mendalam tentang relasi harmonis antara manusia dan seluruh ciptaan. Lebih dari itu, Ensiklik Laudato Si’, dokumen Paus Fransiskus tentang “merawat rumah bersama”, genap 10 tahun sejak diterbitkan (2015–2025).

Tiga peringatan ini, meskipun berbeda konteks sejarahnya, sesungguhnya bertemu dalam satu seruan yang sama: kemerdekaan sejati tidak dapat dilepaskan dari keadilan sosial dan ekologis.

Kemerdekaan yang Menyentuh Bumi dan Manusia

Proklamasi 17 Agustus 1945 menyatakan kemerdekaan bangsa Indonesia. Namun, para pendiri bangsa tidak hanya memikirkan kebebasan dari penjajahan, tetapi juga sebuah janji—tertuang dalam Pembukaan UUD 1945—untuk mewujudkan kesejahteraan umum dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Kini, delapan dekade kemudian, kita dihadapkan pada tantangan baru: krisis ekologis. Banjir bandang, kebakaran hutan, pencemaran udara, dan krisis pangan bukan hanya persoalan teknis, tetapi juga persoalan keadilan. Masyarakat miskin paling merasakan dampaknya, padahal mereka paling sedikit berkontribusi pada kerusakan lingkungan.

Kemerdekaan tanpa perhatian pada alam dan sesama adalah kemerdekaan yang pincang.

Kidung Segenap Ciptaan: 800 Tahun Suara dari Alam

Pada tahun 1225, Santo Fransiskus dari Assisi menulis Cantico delle Creature atau Kidung Segenap Ciptaan, sebuah pujian yang menyapa “Saudara Matahari”, “Saudari Bulan”, “Saudari Air”, “Saudara Angin”, dan bahkan “Saudari Kematian”. Bagi Fransiskus, seluruh ciptaan adalah keluarga—bukan sekadar sumber daya yang bisa dieksploitasi.

Peringatan 800 tahun kidung ini mengingatkan kita bahwa relasi manusia dengan alam bukan hanya urusan teknologi atau ekonomi, tetapi urusan spiritual dan moral. Menghormati bumi berarti menghormati Sang Pencipta.

Laudato Si’: Suara Profetik untuk Zaman Ini

Sepuluh tahun lalu, Paus Fransiskus mengeluarkan Ensiklik Laudato Si’ (2015), yang mengajak dunia untuk bertobat ekologis. Dokumen ini menekankan bahwa krisis lingkungan tidak bisa dipisahkan dari krisis kemanusiaan. Kemiskinan, ketidakadilan, dan kerusakan ekosistem adalah bagian dari satu sistem yang rapuh.

Pesannya tegas:

“Kita tidak dihadapkan pada dua krisis yang terpisah, satu krisis lingkungan dan yang lainnya krisis sosial, melainkan satu krisis kompleks yang bersifat sosial dan lingkungan.” (Laudato Si’ no. 139)

Merdeka untuk Merawat Rumah Bersama

Memadukan refleksi 80 tahun kemerdekaan RI, 800 tahun Kidung Segenap Ciptaan, dan 10 tahun Laudato Si’ berarti mengubah cara kita melihat kemerdekaan.

  • Merdeka dari kemiskinan: memastikan setiap orang punya akses pada pangan sehat, air bersih, dan udara segar.

  • Merdeka dari ketidakadilan ekologis: menghentikan eksploitasi alam yang merugikan komunitas kecil demi keuntungan segelintir pihak.

  • Merdeka untuk membangun masa depan hijau: mengembangkan energi terbarukan, pertanian berkelanjutan, dan gaya hidup sederhana yang ramah lingkungan 

Kemerdekaan yang kita rayakan seharusnya menjadi momentum untuk memperkuat solidaritas dengan alam dan sesama manusia, terutama mereka yang paling rentan.

Seruan Tindakan

Refleksi ini menuntut aksi nyata:

  1. Pendidikan ekologis di sekolah, paroki, dan komunitas.

  2. Gerakan hidup sederhana yang mengurangi sampah dan konsumsi berlebihan.

  3. Advokasi kebijakan yang melindungi lingkungan dan memastikan distribusi sumber daya yang adil.

  4. Doa dan pertobatan ekologis, menempatkan relasi dengan Tuhan, sesama, dan alam sebagai satu kesatuan.

Tahun 2025 bukan sekadar deretan angka peringatan, melainkan sebuah panggilan moral. Kemerdekaan sejati adalah kemerdekaan yang memberi ruang bagi semua makhluk untuk hidup—manusia, hewan, tumbuhan, dan bumi sendiri.

Sebagaimana Santo Fransiskus memuji Sang Pencipta melalui alam, dan Paus Fransiskus mengingatkan kita untuk “merawat rumah bersama”, demikian pula bangsa Indonesia dipanggil untuk mengisi kemerdekaan dengan keadilan sosial dan keadilan ekologis.
Karena, tanpa bumi yang merdeka dari kerusakan, kemerdekaan manusia pun akan kehilangan maknanya.

Komentar

Postingan Populer