Santo Ludovikus: Raja yang Mengabdikan Hidup bagi Kristus

 


1. Riwayat Hidup

Raja Ludovikus dilahirkan dalam sebuah puri di Poissy dekat Paris pada 25 April 1215. Ibunya yang saleh, Blanche, sudah berketatapan bahwa dia akan dididik tidak hanya bagi kerajaan yang akan dipimpinnya, tetapi terlebih lagi bagi kerjaaan surga. Dia membiasakannya melihat segala sesuatu dalam terang iman, dan dengan demikian dia meletakkan fondasi bagi sikap kesahajaan bila mengalami nasib baik dan sikap ketekunan dalam waktu-waktu malang. Hal inilah yang menjadi sifat khas dari raja yang suci ini.

Ludovikus dimahkotai menjadi raja ketika baru berusia 12 tahun. Namun ibunyalah yang dipercayai menjalankan tugas pemerintahan yang sebenarnya selama masa mudanya itu. Sementara itu, Ludovikus dididik dalam semua kewajiban sebagai seorang putera mahkota Katolik. Di antara pengajar-pengajarnya terdapat beberapa Saudara Fransiskan, dan kemudian raja muda itu sendiri bergabung dalam Ordo Ketiga St. Fransiskus.

2. Iman dan Kesalehan

Dalam memerintah Kerajaannya, Ludovikus membuktikan betapa kesalehan itu sangat bermanfaat dalam segala aspeknya. Dia memajukan kesejahteraan kerajaan dan rakyatnya dengan cara yang mencolok. Hidupnya sebagai seorang Kristen dan sebagai seorang ayah Kristen sedemikian dapat menjadi contoh sehingga dia dipilih layak menjadi pelindung dan model dari para Tertiaris. Prinsip yang paling penting dari hidupnya adalah melaksanakan dan menaati hukum dan peraturan Allah dalam segala keadaan. Penulis riwayat hidupnya meyakinkan kita bahwa dia tak pernah kehilangan kesucian baptisnya karena dosa besar. Dia secara pribadi sedemikian menghayati dan menghargai rahmat baptisnya, sehingga, dalam surat pribadinya yang rahasia, dia dengan senang hati memberi tanda tangan “Ludovikus dari Poissy” karena di dalam gereja Poissylah dia telah dibaptis.

Ludovikus tidak pernah membiarkan percakapan yang bernada kutukan dan dosa, baik di antara para pelayan maupun para bangsawan; dan dari mulutnya pun tidak pernah terdengar kata yang tidak ramah atau tidak sabar. Dia menghendaki semua kemeriahan dan kemewahan yang tidak perlu dihindarkan dalam istananya, sehingga dapat diberikan lebih banyak bantuan kepada mereka yang miskin. Dia sendiri pun secara pribadi memberi makan dan melayani mereka ini. Lemari pakaiannya begitu sederhana, dan selalu dikenakannya tanda Ordo Ketiga di bawah pakaian luarnya. Pada kesempatan-kesempatan khusus, dalam penampilannya di muka umum dia mengenakan pakaian Tertiaris.

Demi mengendalikan sensualitasnya, dia tidak hanya menjalani semua masa puasa Gereja dengan luar biasa kerasnya, melainkan juga berpantang dari makanan tertentu yang sangat dia sukai. Dia adalah seorang ayah yang penuh perhatian terhadap sebelas orang anaknya, yang merupakan berkat Allah atas hidup perkawinannya. Dia sendiri setiap hari berdoa bersama dengan mereka itu, menguji mereka dalam pelajaran-pelajaran yang mereka peroleh hari itu, membimbing mereka melakukan karya-karya cinta kasih Kristiani, dan dalam wasiatnya dia mewariskan bagi mereka nasehat-nasehat yang sangat indah.

Dia mendukung devosi khusus kepada sengsara Kristus; dan merupakan penghiburan besar baginya ketika dia dapat memiliki Mahkota Duri Kristus; dan untuk menyimpannya dengan layak, diperintahkannya mendirikan sebuah Kapel Kudus nan indah. 

3. Perjuangan dan Salib

Baru menjalankan pemerintahan kerajaannya dalam namanya sendiri selama beberapa tahun, Ludovikus jatuh sakit keras. Dalam sakit kerasnya itu dia berjanji: bila sembuh, dia akan melancarkan perang salib ke Tanah Suci untuk merebut tempat-tempat suci itu dari tangan orang-orang tak beriman. Ketia dia menjadi sembuh kembali, dengan segera janjinya itu dilaksanakannya. Dia merebut benteng Damietta dari orang-orang Saracen, tetapi kemudian ditangkap sebagai tawanan ketika tentaranya melemah karena suatu epidemi penyakit.

Setelah selama beberapa bulan dilewatkannya dengan kecernihan kudus segala penderitaan sebagai tawanan orang-orang tak beriman, dihadapkan kepadanyalah syarat-syarat pembebasannya. Tetapi pada syarat-syarat pembebasan itu dilampirkan bahwa bila dia tidak memenuhi syarat-syarat itu, dia harus menyangkal Kristus dan menolak Kekristenan. Raja kudus itu pun menjawab: “Kata-kata hujatan semacam itu tidak akan melintas pada bibirku.” Mereka mengancamnya dengan kematian. “Baik sekali,” katanya, “kalian akan membunuh tubuhku, tetapi kalian tidak pernah akan membunuh jiwaku.” Penuh dengan ketakjuban akan keberaniannya yang kokoh itu, mereka akhirnya membebaskannya tanpa syarat-syarat yang patut diberati. Setelah memastikan adanya banyak butir-butir lain yang berkenan pada orang-orang Kristen, dia harus kembali ke Perancis, karena sementara itu ibunya telah meninggal dunia.

Ketika keluhan yang serius perihal penindasan orang-orang Kristen di Tanah Suci sampai ke telinganya, dia melancarkan perang salib yang ke dua pada 1270. Tetapi di tengah jalan dia meninggal dunia karena wabah. Penyakit itu menularinya ketika dia mengunjungi serdadu-serdadunya yang sedang menderita sakit.

Di tengah kegembiraan kudus karena dia di ambang pintu rumah Tuhan, dia menyerahkan jiwanya kepada Allah pada 25 Agustus.

4. Teladan bagi Gereja

Santo Ludovikus adalah contoh nyata seorang pemimpin yang hidup sesuai Injil. Ia tidak hanya memerintah dengan keadilan, tetapi juga mendasarkan kepemimpinannya pada cinta kasih Kristus.

Beberapa teladan yang dapat diambil:

  • Keadilan: ia selalu memutuskan perkara dengan bijaksana, tanpa memandang status sosial.

  • Kehidupan doa: meski sibuk sebagai raja, ia tetap setia dalam doa dan sakramen.

  • Kasih kepada orang miskin: ia menganggap melayani kaum kecil sama berharganya dengan memimpin kerajaan.

  • Kesetiaan pada Gereja: seluruh hidupnya diabdikan untuk Kristus dan Gereja-Nya.

5. Warisan Rohani

Santo Ludovikus wafat pada 25 Agustus 1270. Ia dikanonisasi oleh Paus Bonifasius VIII pada tahun 1297. Hingga kini, ia dihormati sebagai pelindung Fransiskan Sekular (Ordo Ketiga Santo Fransiskus) karena kedekatannya dengan semangat Fransiskan.

Hari pestanya dirayakan setiap 25 Agustus dalam Gereja Katolik.

6. Relevansi untuk Kita

Bagi umat Katolik masa kini, Santo Ludovikus mengingatkan bahwa:

  • Iman harus menjadi dasar dalam setiap bidang kehidupan, bahkan dalam politik dan pemerintahan.

  • Kekuasaan sejati bukan untuk menguasai, melainkan untuk melayani.

  • Setiap orang, entah kaya atau miskin, dipanggil untuk hidup dalam kesetiaan kepada Kristus sampai akhir.

Sumber: 
  • The Franciscan Book of Saints, ed. by Marion Habig, ofm., © 1959 Franciscan Herald Press. Diterjemahkan oleh: Alfons S. Suhardi, OFM.
  • ofm-indonesia.org

Komentar

Postingan Populer