Teladan Para Rasul dan Bapa Gereja yang Menolak Keserakahan
Tradisi Suci dalam Gereja Katolik bukan hanya berupa ajaran yang tertulis, tetapi juga hidup dalam teladan iman para Rasul, Bapa Gereja, dan para kudus. Salah satu nilai penting yang diwariskan adalah sikap menolak keserakahan. Sejak awal, para Rasul dan Bapa Gereja menekankan bahwa keserakahan bukan hanya kelemahan moral, tetapi juga bentuk penyembahan berhala yang menjauhkan manusia dari Allah dan sesama.
Teladan Para Rasul
Para Rasul, yang hidup sederhana sebagai murid Kristus, mengajarkan melalui kata dan perbuatan tentang bahaya keserakahan.
-
Yesus sendiri mengingatkan: “Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.” (Mat 6:24). Para Rasul melanjutkan peringatan ini dalam pewartaan mereka.
-
Santo Petrus mengingatkan para pemimpin jemaat agar menggembalakan kawanan “Gembalakanlah kawanan domba Allah yang ada padamu, jangan dengan paksa, tetapi dengan sukarela sesuai dengan kehendak Allah, dan jangan karena mau mencari keuntungan, tetapi dengan pengabdian diri.” (1Ptr 5:2).
Santo Paulus menasihati jemaat Tesalonika dan Korintus agar hidup dengan bekerja, sederhana, serta tidak diperbudak oleh harta. Ia sendiri memberi teladan dengan bekerja sebagai pembuat tenda, sehingga tidak membebani jemaat (1Tes 2:9; Kis 18:3).
Santo Yohanes dalam surat-suratnya mengingatkan agar jangan mencintai dunia dan segala keinginannya, sebab itu akan lenyap (1Yoh 2:15-17).
Teladan Para Bapa Gereja
Para Bapa Gereja melanjutkan warisan apostolik ini dengan menekankan bahaya keserakahan dan pentingnya berbagi dengan sesama.
-
Santo Ambrosius dari Milan berkata: “Bukan dari milikmu engkau memberi kepada orang miskin, melainkan dari apa yang menjadi milik bersama yang engkau tahan sendiri.” Ia menegaskan bahwa harta berlebihan bukan hak pribadi, tetapi titipan untuk dibagikan.
Santo Agustinus mengingatkan bahwa keserakahan adalah akar dari banyak dosa, sebab manusia menjadikan harta sebagai tuhan palsu. Ia menulis: “Keserakahan adalah suatu perbudakan, ia menundukkan jiwa kepada hal-hal fana.”
-
Santo Basilius Agung bahkan menegur orang kaya yang menimbun kekayaan: “Roti yang engkau simpan adalah milik orang yang lapar, pakaian yang engkau tumpuk di lemari adalah milik orang yang telanjang.”
Santo Yohanes Krisostomus menekankan bahwa umat beriman tidak boleh hidup mewah sementara banyak orang miskin menderita. Ia menghubungkan keserakahan dengan ketidakadilan sosial.
Hubungan dengan Tradisi Suci
Tradisi Suci memuat ajaran hidup para Rasul dan Bapa Gereja sebagai pedoman bagi umat sepanjang zaman. Penolakan terhadap keserakahan menjadi inti dari spiritualitas Kristiani yang mengutamakan kasih, keadilan, dan solidaritas. Gereja mengajarkan, melalui Tradisi ini, bahwa harta benda hanyalah sarana untuk melayani Allah dan sesama, bukan tujuan akhir hidup.
Relevansi bagi Zaman Sekarang
Dalam dunia modern yang ditandai oleh konsumerisme, materialisme, dan kesenjangan sosial, teladan para Rasul dan Bapa Gereja tetap aktual. Keserakahan hadir dalam berbagai bentuk: korupsi, eksploitasi lingkungan, ketidakadilan ekonomi, hingga gaya hidup berlebihan. Tradisi Suci meneguhkan umat agar kembali pada kesederhanaan injili, solidaritas, dan kepedulian terhadap yang miskin.
Para Rasul dan Bapa Gereja mengajarkan bahwa menolak keserakahan bukan hanya masalah etika, melainkan juga jalan menuju kesucian. Dengan meneladani mereka, umat beriman diajak untuk menghidupi kasih Kristus secara nyata: berbagi dengan sesama, mengutamakan keadilan, dan menjaga hati tetap murni dari ikatan harta duniawi.






Komentar
Posting Komentar