Tradisi Suci: Warisan Pewartaan Sabda dari Para Rasul
Dalam iman Katolik, Tradisi Suci dipahami sebagai warisan hidup dari pewartaan para Rasul yang diteruskan kepada Gereja sepanjang zaman. Tradisi ini bukan sekadar kebiasaan manusiawi, melainkan cara Gereja menyimpan, menghidupi, dan mewartakan Sabda Allah yang telah dipercayakan sejak awal. Pewartaan Sabda yang berasal dari para Rasul tetap relevan hingga hari ini karena memelihara keutuhan iman, memberi arah hidup rohani, dan membimbing umat untuk semakin dekat kepada Kristus.
Dasar Kitab Suci
Yesus Kristus sendiri memberikan amanat kepada para Rasul:
" Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." (Mat 28:19-20).
Amanat inilah yang menjadi fondasi pewartaan apostolik. Para Rasul tidak hanya menulis atau mencatat, melainkan juga mengajarkan secara lisan, memberi teladan hidup, dan membentuk komunitas iman. Apa yang mereka sampaikan, baik dalam bentuk tulisan (Kitab Suci) maupun ajaran hidup (Tradisi Suci), merupakan satu kesatuan.
Tradisi Suci dalam Ajaran Gereja
Konsili Vatikan II melalui Dei Verbum menegaskan:
“Apa yang diwariskan oleh para Rasul mencakup segala sesuatu yang berkontribusi bagi kekudusan hidup dan pertumbuhan iman umat Allah; demikian pula Gereja, dalam ajaran, kehidupan, dan ibadahnya, melestarikan dan mewariskan kepada semua generasi segala keberadaannya, segala sesuatu yang diyakininya.” (DV 8).
Artinya, Tradisi Suci bukanlah “tambahan” terhadap Kitab Suci, melainkan saluran hidup yang memastikan bahwa iman yang sama tetap diwariskan secara utuh dari zaman para Rasul hingga Gereja masa kini.
Realita dalam Kehidupan Gereja
Tradisi Suci nyata dalam berbagai bentuk:
-
Liturgi: doa, nyanyian, dan tata cara perayaan Ekaristi yang diwariskan sejak awal.
-
Katekese: pengajaran iman yang dirumuskan dalam Katekismus, doa-doa dasar, serta pengakuan iman (Credo).
-
Kesaksian Hidup: cara hidup para martir, bapa Gereja, biarawan-biarawati, dan umat beriman yang menghidupi Injil.
-
Magisterium Gereja: otoritas pengajaran Paus dan para uskup yang menjaga agar pewartaan tetap setia pada Sabda Allah.
Tradisi dan Budaya Lokal
Pewartaan para Rasul selalu berjumpa dengan budaya lokal. Di Indonesia misalnya, nilai gotong royong, hormat pada orang tua, serta kearifan lokal tentang keselarasan hidup dapat dipadukan dengan ajaran Injil. Seperti para Rasul yang menginjili dunia Yunani-Romawi dengan menggunakan bahasa dan simbol budaya setempat, Gereja di Nusantara pun menghidupi Tradisi Suci dengan wajah khas lokal, tanpa kehilangan inti iman yang satu.
Filosofi Hidup dan Relevansi
Tradisi Suci dapat dilihat sebagai mata rantai sejarah iman. Ibarat obor yang berpindah dari tangan ke tangan, pewartaan para Rasul sampai kepada kita agar terang Kristus tidak pernah padam. Filosofi Jawa mengatakan: “urip iku mung mampir ngombe” (hidup hanya singgah sebentar untuk minum). Tradisi Suci membantu kita memahami bahwa hidup yang singkat ini diarahkan menuju kekekalan bersama Allah.
Tradisi Suci adalah warisan pewartaan Sabda dari para Rasul yang tetap hidup dalam Gereja. Ia bukan sekadar arsip sejarah, melainkan napas iman yang membimbing umat di setiap zaman. Dengan setia pada Tradisi ini, Gereja menjaga kesinambungan iman dari para Rasul, menghidupi Sabda Allah dalam liturgi dan kesaksian hidup, serta menyalurkan terang Kristus bagi dunia.






Komentar
Posting Komentar