Gereja yang Katolik
Dalam Syahadat Para Rasul dan Syahadat Nikea-Konstantinopel, umat beriman mengakui iman kepada "Gereja yang satu, kudus, katolik, dan apostolik." Keempat sifat ini—disebut juga notae ecclesiae—merupakan ciri hakiki Gereja. Kata “katolik” berasal dari bahasa Yunani katholikos yang berarti universal atau menyeluruh. Gereja disebut katolik karena di dalamnya terdapat kepenuhan sarana keselamatan, serta karena diutus untuk mewartakan Injil kepada segala bangsa sampai akhir zaman (bdk. Mat. 28:19-20).
Dengan memahami arti Gereja yang katolik, umat beriman diajak untuk semakin menghayati imannya dalam keterbukaan, kesatuan, dan misi bagi seluruh dunia.
1. Dasar Biblis Gereja yang Katolik
Kitab Suci memberikan dasar yang kuat bagi sifat katolik dari Gereja:
-
Perintah Yesus untuk Mewartakan kepada Semua Bangsa
Yesus berkata: “Pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu” (Mat. 28:19-20). Perintah ini bersifat universal: Injil bukan hanya untuk kelompok tertentu, melainkan untuk semua bangsa dan segala zaman. Kisah Pentakosta (Kis. 2:1-13)
Pada hari Pentakosta, Roh Kudus turun atas para rasul, dan mereka mulai berbicara dalam berbagai bahasa. Orang-orang dari berbagai bangsa yang sedang berada di Yerusalem mendengar Injil dalam bahasa mereka sendiri. Peristiwa ini menandai sifat universal Gereja sejak awal: Gereja tidak terbatas pada satu budaya atau bahasa, melainkan terbuka untuk semua.Visi Paulus tentang Tubuh Kristus
Rasul Paulus menulis: “demikian juga kita, walaupun banyak, adalah satu tubuh di dalam Kristus; tetapi kita masing-masing adalah anggota yang seorang terhadap yang lain.” (Rom. 12:5). Dalam tubuh Kristus, tidak ada perbedaan antara orang Yahudi atau Yunani, budak atau merdeka, laki-laki atau perempuan (Gal. 3:28). Hal ini menunjukkan sifat inklusif Gereja.
2. Pengertian Katolik Menurut Tradisi Gereja
a. Katekismus Gereja Katolik (KGK)
KGK menegaskan:
-
“Gereja itu katolik dalam arti ganda: Ia katolik karena di dalamnya ada Kristus. "Di mana Yesus Kristus ada, di situ ada Gereja Katolik" (Ignasius dari Antiokia, Smym. 8,2). Di dalam Dia, Tubuh Kristus yang dipersatukan dengan Kepalanya terlaksana sepenuhnya Bdk. Ef 1:22-23.. Dengan demikian ia menerima dari-Nya "kepenuhan sarana keselamatan" (AG 6),... ” (KGK 830).
-
Gereja bersifat katolik, karena ia diutus oleh Kristus kepada seluruh umat manusia (KGK 831).
b. Santo Ignatius dari Antiokhia
Salah satu Bapa Gereja awal, St. Ignatius dari Antiokhia (wafat ±107 M), adalah yang pertama kali menggunakan istilah “Gereja Katolik”. Dalam suratnya kepada jemaat di Smirna, ia menulis: “Di mana Yesus Kristus berada, di situlah Gereja Katolik berada.” (Surat kepada Jemaat di Smirna, 8:2). Pernyataan ini menunjukkan bahwa kehadiran Kristuslah yang menjadikan Gereja itu katolik.
c. Konsili Vatikan II
Konsili Vatikan II dalam Lumen Gentium menegaskan bahwa Gereja bersifat katolik karena dipanggil untuk menghimpun seluruh umat manusia: “Semua orang dipanggil untuk menjadi bagian dari umat Allah yang baru. Karena itu, umat ini, meskipun tetap satu dan hanya satu, harus tersebar di seluruh dunia dan harus ada sepanjang masa, agar ketetapan kehendak Allah dapat digenapi.” (LG 13).
3. Dua Dimensi Kekatolikan Gereja
Kekatolikan Gereja dapat dipahami dalam dua dimensi:
-
Kepenuhan (Fullness)
Gereja katolik karena memiliki kepenuhan rahmat dan sarana keselamatan:-
Sabda Allah yang murni.
-
Sakramen-sakramen yang lengkap, terutama Ekaristi.
-
Kesatuan dengan para uskup dalam persekutuan dengan Paus, penerus Santo Petrus.
Dengan demikian, segala sesuatu yang diperlukan untuk mencapai keselamatan ada dalam Gereja.
-
Universalitas (Universality)
Gereja katolik karena terbuka bagi semua bangsa, bahasa, dan budaya. Ia tidak terikat pada satu suku, bangsa, atau sistem politik tertentu. Injil dapat berakar di setiap budaya, namun sekaligus melampaui batas budaya itu sendiri.
4. Kekatolikan dalam Kehidupan Konkret
Sifat katolik Gereja tampak nyata dalam kehidupan sehari-hari umat beriman:
-
Liturgi dan Inkulturasi
Liturgi Katolik dirayakan di seluruh dunia dengan tata dasar yang sama, tetapi dengan corak lokal yang khas. Misalnya, di Indonesia digunakan bahasa Indonesia dan lagu-lagu liturgi bercorak Nusantara. Hal ini menunjukkan bahwa Gereja menghormati budaya lokal, namun tetap menjaga kesatuan iman. -
Kesatuan dalam Keberagaman
Umat Katolik berasal dari berbagai latar belakang suku, bahasa, dan bangsa. Meskipun berbeda-beda, semua disatukan dalam iman yang sama, sakramen yang sama, dan persatuan dengan Paus. Inilah yang dimaksud dengan semboyan Gereja: “Unum corpus in Christo” (satu tubuh dalam Kristus). -
Misi dan Evangelisasi
Kekatolikan juga tampak dalam misi Gereja yang tiada henti. Sejak awal, misionaris Katolik diutus ke berbagai belahan dunia: Santo Fransiskus Xaverius ke Asia, Santo Damian de Veuster ke Molokai, hingga misionaris modern di Afrika dan Amerika Latin. Hal ini mengingatkan bahwa Gereja selalu keluar dari dirinya untuk menjangkau yang lain.
5. Tantangan Gereja Katolik di Era Modern
Meski Gereja adalah katolik, dalam kenyataan ada berbagai tantangan yang dihadapi:
-
Sekularisme
Dunia modern sering menyingkirkan agama ke ruang privat. Gereja ditantang untuk menghadirkan Injil dalam masyarakat yang cenderung materialistis. -
Pluralisme Agama
Gereja dipanggil untuk bersikap terbuka, berdialog, dan bekerjasama dengan agama-agama lain tanpa kehilangan identitasnya. Dokumen Nostra Aetate dari Konsili Vatikan II menegaskan pentingnya dialog antaragama sebagai bagian dari misi Gereja. -
Globalisasi dan Budaya Digital
Universalitas kini ditantang oleh globalisasi dan media digital yang kadang justru memecah-belah manusia. Gereja perlu menggunakan sarana komunikasi modern untuk menyebarkan Kabar Gembira dengan bijaksana.
6. Gereja Katolik di Indonesia
Di Indonesia, kekatolikan Gereja tampak dalam beberapa hal:
-
Kebhinekaan Budaya
Gereja hadir di tengah beragam budaya, dari Sabang sampai Merauke. Inkulturasi liturgi menjadi ciri khas, misalnya misa inkulturasi dengan gamelan Jawa atau tarian Papua. -
Dialog dengan Agama Lain
Sebagai minoritas, Gereja Katolik di Indonesia aktif menjalin dialog dengan umat Islam, Hindu, Buddha, dan agama-agama lain. Hal ini menjadi wujud konkret sifat katolik: keterbukaan dan persaudaraan universal. Perutusan Sosial
Gereja Katolik di Indonesia terlibat dalam pendidikan, kesehatan, dan karya sosial, yang semuanya ditujukan bukan hanya bagi umat Katolik, melainkan bagi seluruh masyarakat.
Gereja disebut katolik karena di dalamnya terdapat kepenuhan sarana keselamatan dan karena ia diutus untuk semua bangsa. Sifat katolik ini menuntut umat beriman untuk hidup terbuka, menyambut semua orang, serta berani bermisi. Gereja Katolik bukan hanya sebuah lembaga religius, melainkan tanda kehadiran Kerajaan Allah di tengah dunia.
Dalam dunia yang semakin plural dan global, panggilan untuk menjadi Gereja yang katolik berarti berani menghadirkan kasih Kristus kepada semua orang tanpa batas. Dengan demikian, umat Kristiani tidak hanya mengakui sifat katolik dalam Syahadat, tetapi sungguh mewujudkannya dalam hidup sehari-hari.
Sumber
-
Katekismus Gereja Katolik (KGK) 830–831.
-
Konsili Vatikan II, Lumen Gentium (Konstitusi Dogmatis tentang Gereja).
-
Konsili Vatikan II, Nostra Aetate (Deklarasi tentang Hubungan Gereja dengan Agama-agama Non-Kristen).
-
St. Ignatius dari Antiokhia, Surat kepada Jemaat di Smirna, 8:2.
-
Alkitab: Mat. 28:19-20; Kis. 2:1-13; Rom. 12:5; Gal. 3:28.
-
Ratzinger, Joseph (Paus Benediktus XVI). Called to Communion. San Francisco: Ignatius Press, 1996.






Komentar
Posting Komentar