PENGENALAN AKAN ALLAH

Setiap manusia pada dasarnya memiliki kerinduan untuk mengenal Allah. Kerinduan ini tidak muncul semata-mata dari usaha manusia, melainkan dari inisiatif Allah sendiri yang terlebih dahulu menyatakan diri-Nya. Katekismus Gereja Katolik (KGK) menegaskan bahwa “Kerinduan akan Allah sudah terukir dalam hati manusia karena manusia diciptakan oleh Allah dan untuk Allah. Allah tidak henti-hentinya menarik dia kepada diri-Nya” (KGK 27). Dengan demikian, pengenalan akan Allah adalah perjalanan iman yang berakar pada relasi, bukan sekadar pengetahuan intelektual.

1. Allah Menyatakan Diri-Nya

Pengenalan akan Allah dimungkinkan karena Allah terlebih dahulu berinisiatif menyatakan diri. Dalam Kitab Suci, Allah memperkenalkan diri-Nya melalui sejarah keselamatan. Kepada Musa, Allah menyingkapkan nama-Nya: “Aku adalah Aku” (YHWH) (Kel. 3:14). Nama ini bukan sekadar identitas, melainkan penegasan bahwa Allah adalah keberadaan itu sendiri, yang setia hadir menyertai umat-Nya.

Surat kepada orang Ibrani menegaskan:
“Setelah pada zaman dahulu Allah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi, maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya” (Ibr. 1:1-2).

Yesus Kristus adalah puncak pewahyuan Allah. Melalui sabda, karya, dan pengorbanan-Nya, manusia diajak mengenal wajah Allah yang penuh kasih. Yesus sendiri berkata: “Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa” (Yoh. 14:9). Maka, pengenalan akan Allah mencapai kepenuhannya dalam diri Kristus.

2. Dimensi Pengenalan Akan Allah

Pengenalan akan Allah tidak sama dengan pengetahuan akademis tentang suatu objek. Ada beberapa dimensi penting:

a. Pengenalan sebagai Relasi

Dalam bahasa Kitab Suci, “mengenal” (Ibrani: yada) sering kali berarti relasi intim, bukan hanya pengetahuan rasional. Misalnya, dalam Yeremia 31:34 dikatakan: “Sebab mereka semua, besar kecil, akan mengenal Aku, demikianlah firman TUHAN, sebab Aku akan mengampuni kesalahan mereka dan tidak lagi mengingat dosa mereka.”
Pengenalan akan Allah berarti masuk dalam relasi kasih dengan Dia yang hidup.

b. Pengenalan yang Melibatkan Hati dan Budi

Yesus mengajarkan bahwa hukum yang terutama adalah mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa, akal budi, dan kekuatan (Mrk. 12:30). Artinya, pengenalan akan Allah menyentuh seluruh aspek manusia: akal budi (rasio), hati (perasaan), dan kehendak (tindakan).

c. Pengenalan dalam Iman

Pengenalan akan Allah hanya mungkin melalui iman. Santo Anselmus menekankan prinsip fides quaerens intellectum – iman yang mencari pengertian. Iman mendahului pengertian, tetapi akal budi membantu memperdalamnya. Iman tidak meniadakan akal, melainkan mengarahkannya kepada kebenaran sejati.

3. Cara Mengenal Allah

Gereja mengajarkan beberapa jalan untuk mengenal Allah:

a. Melalui Ciptaan

Kitab Kebijaksanaan menyatakan: “Sebab orang dapat mengenal Khalik dengan membanding-bandingkan kebesaran dan keindahan ciptaan-ciptaan-Nya.” (Keb. 13:5). Santo Paulus pun berkata: “Sebab apa yang tidak nampak dari pada-Nya, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat nampak kepada pikiran dari karya-Nya sejak dunia diciptakan” (Rm. 1:20).
Alam semesta adalah “kitab pertama” yang menyingkapkan kebesaran Allah.

b. Melalui Sabda Allah

Kitab Suci adalah sarana utama pengenalan akan Allah. Di dalamnya, Allah berbicara kepada umat manusia dalam bahasa manusia. Konsili Vatikan II dalam Dei Verbum 21 menyatakan: “Gereja senantiasa menghormati Kitab Suci sebagaimana ia menghormati Tubuh Tuhan, karena, khususnya dalam liturgi suci, Gereja senantiasa menerima dan mempersembahkan kepada umat beriman roti kehidupan dari meja, baik berupa Sabda Allah maupun Tubuh Kristus.”

c. Melalui Doa dan Sakramen

Doa adalah percakapan pribadi dengan Allah. Melalui doa, manusia tidak hanya mengetahui, tetapi mengalami Allah. Demikian juga sakramen, terutama Ekaristi, menjadi perjumpaan nyata dengan Allah yang hadir dalam Kristus. Santo Yohanes Paulus II menyebut Ekaristi sebagai “pusat dan puncak kehidupan Kristiani” (Ecclesia de Eucharistia, 3).

d. Melalui Hidup Kudus

Yesus berkata: “Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah” (Mat. 5:8). Hidup dalam kasih, keadilan, dan kesucian menyingkapkan Allah secara nyata dalam keseharian.

4. Tantangan Pengenalan Akan Allah di Zaman Modern

Di tengah arus modernitas, pengenalan akan Allah menghadapi berbagai tantangan:

  1. Sekularisme: banyak orang hidup seakan-akan Allah tidak ada, sibuk mengejar materi dan karier.

  2. Relativisme: kebenaran dianggap relatif, sehingga iman dipandang hanya sebagai salah satu “pilihan pribadi”.

  3. Ilmu Pengetahuan vs Iman: sebagian orang melihat sains bertentangan dengan iman, padahal keduanya dapat saling melengkapi.

  4. Krisis Makna: perkembangan teknologi sering membuat manusia kehilangan arah hidup, sehingga melupakan sumber sejati kehidupannya, yaitu Allah.

Gereja menanggapi tantangan ini dengan menekankan evangelisasi baru: memperkenalkan kembali wajah Allah yang penuh kasih kepada dunia yang haus akan makna. Paus Benediktus XVI dalam Deus Caritas Est menegaskan bahwa inti iman Kristiani bukanlah ide atau etika, tetapi perjumpaan dengan Pribadi yang hidup, yaitu Yesus Kristus.

5. Pengenalan Akan Allah dan Buahnya

Mengenal Allah bukan tujuan akhir, melainkan awal dari transformasi hidup. Rasul Yohanes menulis: “Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih” (1Yoh. 4:8). Artinya, pengenalan sejati akan Allah harus nyata dalam perbuatan kasih.

Buah pengenalan akan Allah antara lain:

  • Iman yang teguh: percaya kepada Allah dalam suka dan duka.

  • Pengharapan yang kokoh: tidak putus asa meski menghadapi penderitaan.

  • Kasih yang nyata: peduli pada sesama, terutama yang miskin dan tersingkir.

Dengan demikian, pengenalan akan Allah memampukan kita untuk menghidupi identitas sebagai anak-anak Allah dan menjadi saksi-Nya di dunia.

Pengenalan akan Allah adalah perjalanan seumur hidup. Allah yang tidak terbatas selalu lebih besar dari pemahaman manusia. Namun, melalui ciptaan, sabda, doa, sakramen, dan hidup dalam kasih, manusia dapat masuk dalam relasi yang semakin dalam dengan-Nya.

Pada akhirnya, pengenalan akan Allah mencapai kepenuhannya dalam kehidupan kekal, ketika kita akan melihat Allah “muka dengan muka” (1Kor. 13:12). Maka, marilah kita senantiasa membuka hati, menumbuhkan iman, dan hidup dalam kasih, agar pengenalan kita akan Allah semakin nyata dalam keseharian.

Daftar Pustaka & Sumber

  1. Alkitab Deuterokanonika, Lembaga Alkitab Indonesia.

  2. Katekismus Gereja Katolik (1992).

  3. Konsili Vatikan II, Dei Verbum (1965).

  4. Yohanes Paulus II, Ecclesia de Eucharistia (2003).

  5. Benediktus XVI, Deus Caritas Est (2005).

  6. Santo Anselmus, Proslogion.

Komentar

Postingan Populer