Sebagai seorang Katolik, Haruskah Saya Mengakui Hal-hal Buruk yang Pernah Saya Katakan kepada Seseorang di Masa Lalu?
Hampir setiap orang pernah menyesali kata-kata yang keluar dari mulutnya. Ada kalanya dalam emosi, kita mengatakan hal-hal yang menyakiti orang lain, bahkan tanpa sadar. Dalam hati nurani, perasaan bersalah itu dapat muncul kembali, terutama saat kita semakin mendalami iman Katolik dan menyadari bahwa perkataan bukan hanya sekadar bunyi, tetapi dapat melukai hati orang lain. Pertanyaan penting kemudian muncul: Sebagai seorang Katolik, haruskah saya mengakui hal-hal buruk yang pernah saya katakan kepada seseorang di masa lalu?
Apakah saya harus mendatangi orang tersebut dan mengatakan: “Maafkan saya karena telah mengatakan hal-hal yang tidak pantas kepada Anda” atau bahkan lebih spesifik: “Maafkan saya karena telah mengatakan x”?
Perkataan dalam Perspektif Iman Katolik
Dalam Kitab Suci, lidah digambarkan memiliki kekuatan besar. Santo Yakobus menulis:
“Lidahpun adalah api; ia merupakan suatu dunia kejahatan dan mengambil tempat di antara anggota-anggota tubuh kita sebagai sesuatu yang dapat menodai seluruh tubuh dan menyalakan roda kehidupan kita, ...” (Yakobus 3:6).
Artinya, perkataan dapat membawa kehidupan, tetapi juga dapat merusak. Yesus sendiri mengingatkan:
“Tetapi Aku berkata kepadamu: setiap kata sia-sia yang diucapkan orang harus dipertanggungjawabkan pada hari penghakiman.” (Matius 12:36).
Maka, bagi umat Katolik, kata-kata bukan hal sepele. Ucapan yang melukai sesama adalah bentuk dosa terhadap kasih (bdk. Katekismus Gereja Katolik [KGK] 2477 tentang fitnah dan 2482 tentang dusta).
Pengakuan Dosa dan Rekonsiliasi
Sakramen Tobat menjadi jalan utama untuk mengakui dosa kepada Allah. Dalam pengakuan, kita tidak hanya mengakui perbuatan eksternal, tetapi juga sikap hati yang melandasinya. Katekismus menyatakan:
“Pengakuan di depan imam merupakan bagian hakiki dari Sakramen Pengakuan ...” (KGK 1456).
Namun, pengakuan dosa tidak otomatis menghapus kewajiban kita untuk memperbaiki kesalahan kepada sesama. KGK menegaskan:
“Banyak dosa menyebabkan kerugian bagi sesama. Orang harus sedapat mungkin mengganti rugi (umpamanya mengembalikan barang yang dicuri, memperbaiki nama baik orang yang difitnah, memberi silih untuk penghinaan). Keadilan sendiri sudah menuntut ini. Tetapi di samping itu dosa melukai dan melemahkan pendosa sendiri, demikian pula hubungannya dengan Allah dan dengan sesama. Absolusi menghapuskan dosa, namun tidak mengatasi semua ketidak-adilan yang disebabkan oleh dosa Bdk. Konsili Trente: DS 1712.. Setelah pendosa mengangkat diri dari dosa, ia masih harus mendapat kesehatan rohani yang penuh. Ia harus "membuat silih", untuk dosa-dosanya, harus memperbaiki kesalahan atas suatu cara yang cocok. ... ” (KGK 1459).
Dengan kata lain, bila dosa kita berupa perkataan yang melukai, maka selain mengakuinya di hadapan Tuhan, kita dipanggil untuk melakukan tindakan nyata untuk memperbaikinya.
Mengakui Kesalahan kepada Sesama: Perlu atau Tidak?
Yesus memberikan prinsip dasar dalam Matius 5:23-24:
“Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu.”
Ayat ini menegaskan pentingnya rekonsiliasi dengan sesama sebelum kita datang kepada Allah. Maka, bila kata-kata kita di masa lalu melukai seseorang, pengakuan dan permintaan maaf merupakan langkah yang sesuai dengan ajaran Kristus.
Namun, bagaimana bentuk pengakuan itu? Ada dua pilihan:
-
Pengakuan umum: “Saya mohon maaf karena pernah mengatakan hal-hal yang tidak pantas kepada Anda.”
-
Pengakuan spesifik: “Saya mohon maaf karena pernah mengatakan ‘x’ kepada Anda.”
Pertimbangan Moral dan Pastoral
-
Apakah hal itu akan menyembuhkan atau malah membuka luka lama?
Tujuan utama permintaan maaf adalah pemulihan relasi, bukan sekadar menenangkan hati kita sendiri. Bila menyebutkan hal spesifik justru membuat orang tersebut kembali tersakiti, lebih baik menggunakan permintaan maaf umum. -
Apakah orang tersebut masih mengingat kejadian itu?
Jika peristiwa sudah lama terjadi dan ia sudah melupakannya, mengungkit detail bisa jadi tidak bijaksana. Namun, bila ia masih terluka, pengakuan yang lebih spesifik dapat membantu proses penyembuhan. Apakah ini menjadi batu sandungan dalam hidup rohani saya?
Bila rasa bersalah terus menghantui dan menghalangi doa atau sakramen, mungkin Tuhan sedang menggerakkan hati untuk benar-benar berdamai melalui pengakuan langsung.
Langkah-langkah Praktis
Sebagai orang Katolik, beberapa langkah ini dapat dipertimbangkan:
-
Doakan orang yang pernah Anda lukai.
Doa adalah langkah pertama untuk membuka hati, baik hati Anda maupun hatinya. -
Minta bimbingan Roh Kudus.
Sebelum mendekati orang tersebut, mintalah kebijaksanaan. Roh Kudus dapat memberi kepekaan apakah perlu menyebut detail atau cukup umum. Gunakan bahasa yang rendah hati.
Misalnya:-
“Saya sadar pernah mengucapkan hal-hal yang tidak pantas kepada Anda. Saya sungguh menyesal dan mohon maaf.”
-
Hindari kalimat defensif seperti, “Kalau saya menyakiti, itu bukan maksud saya.”
- Terima kemungkinan respon yang berbeda.
Orang bisa saja langsung memaafkan, tetapi juga bisa menolak. Tugas Anda adalah mengakui dengan tulus; selebihnya ada di tangan Tuhan. - Lanjutkan dengan perbuatan kasih.
Minta maaf bukanlah akhir, melainkan awal dari perbaikan relasi. Tunjukkan kasih melalui sikap nyata.
Kesaksian dari Tradisi Gereja
Banyak santo-santa menekankan pentingnya kerendahan hati dalam mengakui kesalahan. St. Fransiskus dari Assisi menasihati para pengikutnya:
“Hamba yang setia dan bijaksana ialah orang, yang setiap kali melukai orang, tidak menunda-nunda menghukum dirinya dalam batin melalui penyesalan, dan secara lahiriah dengan pengakuan dan pemulihan nyata.”
St. Fransiskus dari Assisi juga tidak takut mengumumkan kesalahannya sendiri saat ia berkhotbah. Santo Bonaventura tidak mengatakannya, tetapi mungkin salah satu faktor yang berkontribusi pada efektivitas khotbahnya yang luar biasa adalah kerendahan hati dalam berbagi kekurangannya yang membuatnya mudah dipahami orang lain dan bukan seolah-olah ia menganggap dirinya lebih baik daripada orang lain.
Sementara St. Yohanes Paulus II menulis dalam ensiklik Reconciliation And Penance (1984) bahwa rekonsiliasi sejati menuntut “pengakuan akan dosa” dan keberanian untuk memohon pengampunan.
Keseimbangan antara Pertobatan dan Kebijaksanaan
Gereja Katolik tidak memberi aturan kaku bahwa setiap perkataan salah di masa lalu harus diungkapkan satu per satu kepada orang yang bersangkutan. Yang lebih penting adalah sikap hati yang bertobat dan kerelaan memperbaiki relasi. Dalam beberapa kasus, pengakuan spesifik memang perlu, tetapi dalam kasus lain, permintaan maaf umum lebih bijaksana.
Yang jelas, pengakuan dosa dalam Sakramen Tobat tetap menjadi landasan. Dari situ, umat Katolik mendapat kekuatan rohani untuk berdamai dengan sesama.
Kembali ke pertanyaan awal: Sebagai seorang Katolik, haruskah saya mengakui hal-hal buruk yang pernah saya katakan kepada seseorang di masa lalu? Jawabannya adalah ya, bila memungkinkan dan bila itu membawa pemulihan relasi. Namun, cara mengungkapkannya harus dipimpin oleh kasih dan kebijaksanaan.
Kita tidak selalu harus menyebut detail spesifik bila itu justru membuka luka lama. Tetapi kita dipanggil untuk dengan rendah hati berkata: “Saya mohon maaf karena pernah menyakiti Anda dengan kata-kata saya.”
Dengan demikian, kita menjalankan ajaran Yesus untuk berdamai dengan sesama, dan membuka jalan bagi rahmat pengampunan Allah yang melimpah.
Daftar Pustaka
-
Kitab Suci Perjanjian Baru.
-
Katekismus Gereja Katolik, Libreria Editrice Vaticana, 1992.
-
Yohanes Paulus II, Reconciliation And Penance, 1984
-
Yakobus 3:6; Matius 12:36; Matius 5:23-24.
-
Tulisan-tulisan St. Fransiskus dari Assisi.






Komentar
Posting Komentar