Allah yang Bertindak di Tengah Kekuasaan Dunia




Foto: Hermin Kris

Di tengah hiruk-pikuk dunia yang sarat akan kekuasaan, politik, ekonomi, dan kepentingan manusia, sering kali kita bertanya: di manakah Allah? Ketika para penguasa saling berebut posisi, ketika kebenaran dikaburkan demi kekuasaan, dan ketika suara kecil kaum tertindas tidak terdengar, iman kita diuji. Namun, Kitab Suci menegaskan bahwa Allah tidak diam. Ia bertindak, bahkan di tengah-tengah sistem dunia yang tampak dikuasai oleh manusia. Kuasa Allah tidak pernah kalah oleh kuasa dunia; justru di balik segala peristiwa, tangan-Nya bekerja dalam keheningan, menuntun sejarah menuju keselamatan.

1. Allah Bertindak dalam Sejarah Manusia

Sejak awal Kitab Suci, Allah memperlihatkan diri-Nya sebagai Allah yang hadir dalam sejarah. Ia bukan Allah yang jauh atau sekadar penonton pasif. Ia masuk ke dalam kehidupan manusia dan bertindak nyata. Dalam Keluaran 3:7-8, Allah berkata kepada Musa:

“Aku telah memperhatikan dengan sungguh kesengsaraan umat-Ku di tanah Mesir, dan Aku telah mendengar seruan mereka yang disebabkan oleh pengerah-pengerah mereka, ya, Aku mengetahui penderitaan mereka. Sebab itu Aku telah turun untuk melepaskan mereka dari tangan orang Mesir dan menuntun mereka keluar dari negeri itu ke suatu negeri yang baik dan luas, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya, ke tempat orang Kanaan, orang Het, orang Amori, orang Feris, orang Hewi dan orang Yebus.”

Tindakan Allah bukan hanya berupa kata-kata, tetapi perbuatan nyata: membebaskan, menyembuhkan, dan menuntun. Ia hadir di tengah kekuasaan Firaun, simbol pemerintahan dunia yang menindas, dan menunjukkan bahwa tidak ada kekuasaan manusia yang dapat menghalangi rencana keselamatan-Nya.

Kisah Keluaran ini menjadi simbol universal bagi semua zaman: bahwa di balik sistem kekuasaan manusia, Allah selalu bertindak untuk memulihkan martabat manusia dan menegakkan keadilan.

2. Kekuasaan Dunia: Antara Berkat dan Godaan

Kekuasaan di dunia tidak selalu jahat. Dalam pandangan Katolik, kekuasaan dapat menjadi sarana untuk melayani, jika dijalankan dengan semangat kasih dan tanggung jawab. Katekismus Gereja Katolik (KGK) menegaskan: setiap bentuk kekuasaan di dunia ini berasal dari Allah: ‘Tidak ada pemerintah yang tidak berasal dari Allah’ (Rm 13:1). Kekuasaan itu harus dijalankan demi kebaikan bersama (KGK 1899–1903).

Namun, sejarah manusia menunjukkan bahwa kekuasaan sering disalahgunakan. Ketika kekuasaan dipisahkan dari kasih dan kebenaran, ia menjadi alat penindasan. Dalam konteks ini, umat beriman dipanggil untuk peka terhadap tanda-tanda zaman — melihat di mana keadilan terancam dan di mana Allah memanggil kita untuk menjadi alat-Nya.

Yesus sendiri pernah dicobai oleh Iblis dengan tawaran kekuasaan dunia. Dalam Matius 4:8-10, Iblis menunjukkan semua kerajaan dunia dan berkata: “Semuanya itu akan kuberikan kepadamu, jika engkau sujud menyembah aku.” Tetapi Yesus menolak, karena Ia tahu bahwa kekuasaan sejati tidak berasal dari penguasaan atas orang lain, melainkan dari pelayanan. Ia berkata, “Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti.” 

Dengan penolakan ini, Yesus menegaskan bahwa kuasa duniawi bukanlah jalan menuju keselamatan; hanya ketaatan kepada kehendak Bapa yang menjadi sumber kuasa sejati.

3. Yesus: Allah yang Bertindak di Tengah Kekuasaan Dunia

Puncak tindakan Allah di tengah kekuasaan dunia terjadi dalam diri Yesus Kristus. Ia lahir bukan di istana, tetapi di kandang. Ia tidak datang dengan kekuatan militer, tetapi dengan kelembutan dan kerendahan hati. Namun justru melalui jalan salib — simbol kelemahan dalam pandangan dunia — Allah menunjukkan kuasa-Nya yang sejati.

Ketika Yesus berdiri di hadapan Pilatus, seorang wakil kekuasaan dunia, dialog mereka menjadi sangat signifikan:

Maka kata Pilatus kepada-Nya: "Tidakkah Engkau mau bicara dengan aku? Tidakkah Engkau tahu, bahwa aku berkuasa untuk membebaskan Engkau, dan berkuasa juga untuk menyalibkan Engkau?" Yesus menjawab: "Engkau tidak mempunyai kuasa apapun terhadap Aku, jikalau kuasa itu tidak diberikan kepadamu dari atas. Sebab itu: dia, yang menyerahkan Aku kepadamu, lebih besar dosanya." (Yohanes 19:10–11).

Jawaban Yesus menyingkapkan bahwa semua kekuasaan duniawi berada di bawah kedaulatan Allah. Dunia boleh tampak berkuasa, tetapi kuasa itu bersifat sementara dan terbatas. Allah tetap memegang kendali atas sejarah.

Salib, yang tadinya simbol kehinaan dan kekalahan, justru menjadi tanda kemenangan kasih Allah atas dosa dan kejahatan. Dengan kebangkitan Kristus, Allah membalikkan tatanan kekuasaan dunia: yang kuat menjadi lemah, dan yang lemah dimuliakan. Itulah tindakan Allah di tengah kekuasaan dunia — tidak dengan menindas, tetapi dengan menebus.

4. Gereja: Alat Tindakan Allah di Dunia

Dalam dunia modern yang kompleks, Gereja dipanggil untuk menjadi tanda kehadiran Allah yang bertindak. Konsili Vatikan II dalam Gaudium et Spes menegaskan:

“Sukacita dan harapan, duka dan kecemasan manusia zaman ini, terutama mereka yang miskin atau menderita, adalah sukacita dan harapan, duka dan kecemasan para pengikut Kristus” (GS 1).

Artinya, Allah bertindak melalui Gereja-Nya, melalui umat yang berani memperjuangkan kebenaran dan keadilan. Ketika Gereja berpihak pada kaum tertindas, ketika umat Katolik menjadi suara bagi yang tidak bersuara, di sanalah Allah bekerja.

Namun Gereja juga diingatkan untuk tidak jatuh ke dalam godaan kekuasaan duniawi. Paus Fransiskus sering menekankan bahwa Gereja harus menjadi “rumah sakit lapangan,” bukan istana kekuasaan. Ia menulis dalam Evangelii Gaudium:

“Kita tidak boleh menjadi Gereja yang terobsesi dengan kekuasaan dan status, tetapi Gereja yang keluar ke pinggiran untuk menyembuhkan luka dan menghangatkan hati manusia.”

Dengan demikian, tindakan Allah di dunia tampak melalui kesaksian kasih, keadilan, dan pelayanan yang tulus.

5. Panggilan Umat: Menjadi Saksi Kuasa Allah

Setiap umat Katolik dipanggil untuk ikut ambil bagian dalam karya Allah di dunia. Dalam lingkungan kerja, masyarakat, dan keluarga, kita dapat menjadi tanda bahwa Allah masih bertindak. Caranya bukan dengan berkuasa atas orang lain, tetapi dengan menghidupi nilai Injil di tengah dunia.

Dalam Matius 20:26–28, Yesus berkata:

“Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”

Ketika kita menjalankan tanggung jawab dengan kejujuran, memperjuangkan keadilan, dan menolak segala bentuk korupsi serta penyalahgunaan kuasa, kita sebenarnya sedang mewujudkan tindakan Allah di tengah kekuasaan dunia.

6. Kesimpulan: Allah Tidak Pernah Diam

Dunia boleh tampak dikuasai oleh manusia, tetapi sejarah menunjukkan bahwa tangan Allah tetap bekerja. Ia hadir dalam keheningan, dalam hati yang berbelas kasih, dan dalam tindakan-tindakan kecil yang membawa kebaikan. Tugas kita adalah membuka mata iman untuk mengenali kehadiran-Nya di tengah kekuasaan dunia.

Ketika kita melihat ketidakadilan, jangan putus asa. Ketika kita melihat kekuasaan disalahgunakan, jangan diam. Sebab Allah memanggil kita menjadi saksi bahwa kasih lebih kuat dari kebencian, bahwa kebenaran lebih abadi daripada kebohongan, dan bahwa kuasa Allah tidak pernah dapat dikalahkan oleh kuasa dunia.

Seperti kata Santo Yohanes Paulus II:

“Jangan takut. Bukalah pintu lebar-lebar bagi Kristus. Bagi kuasa penyelamatan-Nya, bukalah batas-batas negara, sistem ekonomi dan politik, serta bidang-bidang budaya, peradaban, dan pembangunan yang luas. Jangan takut. Kristus tahu "apa yang ada dalam diri manusia". Hanya Dia yang mengetahuinya.”

Maka marilah kita berjalan dengan keyakinan: Allah tetap bertindak — di dalam, melalui, dan melampaui segala bentuk kekuasaan dunia.

Sumber Referensi:

  1. Kitab Suci: Keluaran 3:7–8; Matius 4:8–10; Yohanes 19:10–11; Matius 20:26–28; Roma 13:1.

  2. Katekismus Gereja Katolik (KGK 1899–1903).

  3. Konsili Vatikan II, Gaudium et Spes (no. 1).

  4. Paus Fransiskus, Evangelii Gaudium (2013).

  5. Santo Yohanes Paulus II, Homili Pembukaan Pontifikat (1978).

Komentar

Postingan Populer