Allah yang Setia di Tengah Umat yang Bandel
![]() |
| Foto: Hermin Kris |
Sepanjang sejarah keselamatan, kita melihat bahwa Allah adalah Pribadi yang setia. Ia tidak pernah meninggalkan umat-Nya, bahkan ketika mereka berpaling dari-Nya, membangkang, atau bersungut-sungut. Sebaliknya, manusia kerap kali tidak setia—mudah lupa akan kasih Tuhan, dan cepat berbalik kepada keinginan daging dan penyembahan berhala. Namun, di tengah kebandelan manusia, kesetiaan Allah tetap teguh, penuh kasih, sabar, dan selalu membuka jalan kembali bagi mereka yang mau bertobat.
1. Umat yang Bandel: Cermin Kelemahan Manusia
Kitab Keluaran menggambarkan dengan jelas betapa “bandelnya” umat Israel di padang gurun. Mereka baru saja dibebaskan dari perbudakan Mesir melalui tangan Musa—disertai mukjizat luar biasa: air laut terbelah, tiang awan dan tiang api menuntun mereka, dan manna turun dari langit. Namun, ketika menghadapi kesulitan, mereka segera bersungut-sungut dan berkata,
“Mengapa pula engkau memimpin kami keluar dari Mesir, untuk membunuh kami, anak-anak kami dan ternak kami dengan kehausan?” (Kel. 17:3).
Mereka tidak hanya meragukan Musa, tetapi juga meragukan Allah yang telah menyelamatkan mereka. Di tempat itu, Musa menamai lokasi tersebut Masa dan Meriba, yang berarti “perselisihan dan pencobaan,” karena di sanalah umat Israel mencobai Tuhan dengan berkata:
“Adakah Tuhan di tengah-tengah kita atau tidak?” (Kel. 17:7).
Kita pun sering seperti umat Israel. Ketika keadaan hidup kita nyaman, kita bersyukur. Tetapi ketika tantangan datang, iman kita goyah. Kita mudah mengeluh, mempertanyakan kasih Tuhan, bahkan mencari solusi di luar kehendak-Nya. Kebandelan ini bukan sekadar sifat keras kepala, melainkan tanda kurangnya kepercayaan dan kedewasaan rohani.
2. Kesetiaan Allah yang Tidak Berubah
Walaupun umat Israel sering tidak setia, Allah tidak meninggalkan mereka. Ia tetap memelihara mereka sepanjang perjalanan di padang gurun selama empat puluh tahun. Ia memberi mereka makanan, minuman, dan hukum yang menuntun hidup mereka. Mazmur mengingatkan kita:
“Hati mereka tidak tetap pada Dia, dan mereka tidak setia pada perjanjian-Nya. Tetapi Ia bersifat penyayang, Ia mengampuni kesalahan mereka dan tidak memusnahkan mereka; banyak kali Ia menahan murka-Nya dan tidak membangkitkan segenap amarah-Nya.” (Mzm. 78:37-38).
Inilah misteri kasih Allah: kesetiaan-Nya tidak bergantung pada kesetiaan manusia. Dalam 2 Timotius 2:13 dikatakan,
“jika kita tidak setia, Dia tetap setia, karena Dia tidak dapat menyangkal diri-Nya.”
Allah adalah kasih (1 Yoh. 4:8), dan kasih sejati tidak berhenti hanya karena pihak yang dikasihi gagal atau berkhianat. Dalam seluruh Perjanjian Lama, Allah berulang kali “mengulurkan tangan” kepada umat-Nya—mengutus nabi-nabi untuk menegur, menuntun, dan membawa mereka kembali kepada perjanjian kasih.
3. Puncak Kesetiaan: Kristus yang Taat Sampai Mati
Kesetiaan Allah mencapai puncaknya dalam diri Yesus Kristus, Putra-Nya. Ketika manusia berulang kali jatuh dalam dosa dan ketidaktaatan, Allah mengutus Yesus untuk menebus dan memulihkan hubungan yang rusak itu. Santo Paulus menulis,
“Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita ketika kita masih berdosa” (Rm. 5:8).
Yesus bukan hanya menjadi tanda kesetiaan Allah, tetapi juga teladan bagi kita tentang kesetiaan sejati. Dalam ketaatan-Nya kepada Bapa, Yesus menanggung salib, sekalipun dikhianati, ditolak, dan ditinggalkan oleh murid-murid-Nya. Di Getsemani, Ia berkata,
“Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku; tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki” (Mat. 26:39).
Inilah puncak kesetiaan: tetap taat kepada kehendak Allah meskipun harus menanggung penderitaan. Salib menjadi tanda bahwa Allah tidak pernah berhenti mengasihi manusia yang bandel, melainkan rela memberikan segalanya demi menyelamatkan mereka.
4. Gereja: Sakramen Kesetiaan Allah yang Hidup
Melalui Gereja, kesetiaan Allah terus hadir dalam dunia. Dalam sakramen-sakramen, terutama Ekaristi, umat Katolik mengalami kesetiaan Allah secara nyata. Setiap kali imam mengangkat hosti dan berkata, “Inilah Tubuh-Ku yang diserahkan bagimu,” kita diingatkan bahwa Allah tidak hanya setia di masa lalu, tetapi juga kini dan selamanya.
Gereja juga adalah tempat di mana umat yang “bandel” disembuhkan. Dalam Sakramen Tobat, Allah yang setia menanti anak-anak-Nya untuk kembali. Ia tidak pernah menutup pintu pengampunan, karena Ia tahu bahwa manusia adalah debu dan mudah jatuh (bdk.Mzm. 103:14).
Maka, kesetiaan Allah bukan hanya kisah kuno di padang gurun, tetapi realitas yang hidup dalam Gereja sampai hari ini. Ia tetap hadir, menyertai, menegur, dan menyembuhkan kita.
5. Menanggapi Kesetiaan Allah
Mengetahui bahwa Allah setia di tengah umat yang bandel bukanlah alasan untuk terus hidup dalam dosa, melainkan panggilan untuk bertobat dan menjadi setia seperti Dia. Santo Yohanes Paulus II pernah mengatakan,
“Kesetiaan adalah nama lain dari kasih yang matang.”
Kesetiaan Allah seharusnya menggerakkan kita untuk berubah—bukan karena takut dihukum, tetapi karena terharu oleh kasih yang tidak berkesudahan.
Kesetiaan kita dapat diwujudkan dalam hal-hal sederhana:
Setia berdoa, meski hati sedang kering.
-
Setia menghadiri Ekaristi, meski tubuh lelah.
-
Setia mengasihi pasangan dan keluarga, meski ada perbedaan dan kesalahpahaman.
-
Setia melayani Gereja dan sesama, meski tidak dihargai.
Dalam hal-hal kecil inilah kita belajar meniru kesetiaan Allah.
6. Allah Tidak Pernah Menyerah
Allah tidak pernah menyerah terhadap manusia, bahkan ketika manusia menyerah terhadap diri sendiri. Ia adalah gembala yang mencari domba yang hilang, ayah yang menanti anak yang hilang, dan dokter yang menyembuhkan yang sakit.
Seperti dikatakan dalam Mazmur 36:6,
“Ya TUHAN, kasih setia-Mu sampai ke langit, kesetiaan-Mu sampai ke awan!”
Kita mungkin bandel, keras kepala, dan sering lupa. Namun Allah tetap sabar, penuh kasih, dan setia. Ia menuntun kita dari padang gurun dosa menuju tanah perjanjian keselamatan.
Marilah kita menjawab kesetiaan Allah dengan kesetiaan kita sendiri—setia dalam doa, dalam kasih, dalam pengharapan, dan dalam iman. Sebab kesetiaan bukan sekadar bertahan dalam waktu, melainkan tetap percaya dan mencintai meskipun dunia berubah.
Sumber:
-
Kitab Suci: Keluaran 17:1–7; Mazmur 78:37–38; Mazmur 36:6; Roma 5:8; 2 Timotius 2:13; Matius 26:39; 1 Yohanes 4:8
-
Katekismus Gereja Katolik (KGK) 214–221: Allah adalah kebenaran dan kesetiaan.
-
Yohanes Paulus II, Homili tentang Kesetiaan dalam Kasih, 1983.
-
Dokumen Konsili Vatikan II, Dei Verbum 2–4.






Komentar
Posting Komentar