Mazmur 93: Allah yang Mulia

Foto: Hermin Kris

Mazmur 93 adalah salah satu mazmur yang singkat, tetapi mengandung kedalaman teologis yang luar biasa. Hanya lima ayat, namun setiap kalimatnya menyatakan kemuliaan, kekuasaan, dan keagungan Allah sebagai Raja atas semesta. Dalam Mazmur ini, pemazmur mengajak umat untuk mengenali kebesaran Tuhan yang berdaulat atas alam dan sejarah, serta kekokohan takhta-Nya yang kekal.

Teks Mazmur 93 berbunyi:

“TUHAN adalah Raja, Ia berpakaian kemegahan, TUHAN berpakaian, berikat pinggang kekuatan. Sungguh, telah tegak dunia, tidak bergoyang; takhta-Mu tegak sejak dahulu kala, dari kekal Engkau ada. Sungai-sungai telah mengangkat, ya TUHAN, sungai-sungai telah mengangkat suaranya, sungai-sungai mengangkat bunyi hempasannya. Dari pada suara air yang besar, dari pada pecahan ombak laut yang hebat, lebih hebat TUHAN di tempat tinggi. Peraturan-Mu sangat teguh; bait-Mu layak kudus, ya TUHAN, untuk sepanjang masa.”

Mazmur 93:1–5

Mazmur ini menempatkan Allah dalam posisi tertinggi sebagai Raja yang memerintah seluruh ciptaan. Bagi umat beriman, teks ini bukan hanya pernyataan iman tentang kemuliaan Allah, tetapi juga sumber penghiburan dan keteguhan batin, terutama ketika menghadapi kekacauan dunia dan badai kehidupan.

1. Allah yang Berpakaian Kemegahan

Pembukaan Mazmur ini langsung menegaskan: “Tuhan itu Raja! Ia berpakaian kemegahan.” Dalam dunia Ibrani, pakaian raja melambangkan martabat dan kuasa. Dengan menyatakan bahwa Tuhan “berpakaian kemegahan”, pemazmur hendak mengatakan bahwa seluruh ciptaan adalah cermin dari kebesaran Allah. Alam semesta menjadi “jubah kemuliaan” Tuhan.

St. Agustinus dalam Exposition on the Psalms menafsirkan bagian ini dengan sangat indah:

“Tuhan berpakaian kemegahan ketika Ia menampakkan diri dalam ciptaan-Nya; karena segala yang diciptakan-Nya menjadi tanda yang mengumandangkan kemuliaan-Nya.”

(St. Augustine, Exposition on the Psalms, Psalm 93)

Kemegahan Allah bukan hanya tampak dalam keindahan dunia, tetapi juga dalam kehadiran-Nya yang berdaulat di tengah sejarah manusia. Ketika pemazmur berkata bahwa Tuhan “mengenakan kekuasaan”, hal itu menunjukkan bahwa tidak ada kekuatan duniawi—baik politik, ekonomi, maupun alam—yang dapat melampaui kuasa Allah. Ia tidak hanya mencipta dunia, tetapi juga menopangnya dengan tangan-Nya yang kuat. 

2. Dunia yang Tegak Karena Kehendak-Nya

Mazmur 93:1b menyatakan, “Sungguh, telah tegak dunia, tidak bergoyang.” Ini adalah pernyataan iman yang kuat. Di dunia yang penuh ketidakpastian, iman Israel menemukan ketenangan dalam kenyataan bahwa dunia berdiri kokoh karena Tuhan menopangnya.

Teks ini bukan berarti dunia bebas dari bencana atau krisis, tetapi bahwa di balik segala gejolak, ada ketertiban ilahi yang menopang segalanya. Dalam konteks iman Katolik, hal ini mengingatkan kita pada surat Santo Paulus kepada jemaat di Kolose: 

“karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia. Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu ada di dalam Dia.”
(Kolose 1:16–17)

Yesus Kristus sendiri adalah wujud nyata dari penegakan dunia yang kokoh. Dialah Firman yang menjadikan segala sesuatu ada (Yoh. 1:3). Maka, ketika Gereja membaca Mazmur 93, kita melihat di dalamnya gambaran Kristus sebagai Raja semesta, Sang Firman yang menopang dunia dengan kuasa kasih-Nya.

3. Takhta Allah yang Kekal

Ayat 2 menyatakan: “Takhta-Mu tegak sejak dahulu kala, dari kekal Engkau ada.”
Pernyataan ini menyingkapkan dimensi kekekalan Allah. Tidak seperti raja dunia yang silih berganti, takhta Tuhan tidak tergoyahkan oleh waktu.

Dalam liturgi Katolik, Allah disebut “Raja yang kekal dan abadi.” Takhta-Nya bukan di istana duniawi, melainkan di surga—namun kekuasaan-Nya menjangkau bumi. Dengan demikian, ayat ini mengajarkan bahwa pemerintahan Allah tidak terbatas oleh sejarah manusia, melainkan menjadi dasar bagi seluruh sejarah keselamatan.

Katekismus Gereja Katolik (KGK 269) menegaskan:

“Kitab Suci mengakui berulang kali, bahwa kekuasaan Allah menyangkut segala sesuatu. Ia dinamakan "yang maha kuat pelindung Israel" Bdk. Yes 1:24., "Tuhan semesta alam" (Mzm 24:10), "jaya dan perkasa" (Mzm 24:8). Allah "maha kuasa di langit dan di bumi" (Mzm 135:6), karena Ia menciptakannya. Karena itu, untuk Dia "tidak ada yang mustahil" Bdk. Yer 32:17; Luk 1:37., dan Ia berkuasa atas karya-Nya seturut kehendak-Nya yang bebas Bdk. Yer 27:5.. Ia adalah Tuhan alam semesta, yang peraturannya telah ditetapkan-Nya, yang berada sepenuhnya di bawah kuasa-Nya dan takluk kepada-Nya; Ia adalah Tuhan sejarah; Ia mengemudikan hati dan kejadian sesuai dengan kehendak-Nya Bdk. Est 4:17b; Ams 21:1; Tob 13:2. "Engkau selalu mampu mengembangkan kekuasaan-Mu yang besar. Siapa dapat melawan kekuatan lengan-Mu?" (Keb 11:21).”

Keyakinan bahwa takhta Allah tegak dari kekal memberi umat beriman dasar untuk percaya bahwa rencana-Nya tidak akan gagal. Bahkan ketika dunia tampak kacau, pemerintahan Allah tetap berlaku dalam diam, menuntun segala sesuatu menuju keselamatan.

4. Kekuasaan atas Alam dan Laut

Ayat 3–4 menggambarkan lautan yang bergemuruh:

“Sungai-sungai telah mengangkat, ya TUHAN, sungai-sungai telah mengangkat suaranya, sungai-sungai mengangkat bunyi hempasannya. Dari pada suara air yang besar, dari pada pecahan ombak laut yang hebat, lebih hebat TUHAN di tempat tinggi”

Dalam pandangan bangsa Israel kuno, laut sering melambangkan kekacauan dan kekuatan jahat yang melawan tatanan ciptaan. Maka ketika pemazmur mengatakan bahwa Tuhan lebih hebat dari gemuruh laut, ia menyatakan bahwa kekuasaan Allah mengatasi segala kekacauan dan ancaman dunia.

Gambaran ini juga bergaung dalam kisah Yesus yang meredakan badai di danau (Markus 4:35–41). Ketika para murid panik, Yesus hanya berkata: “Diam! Tenanglah!” dan angin pun reda. Di sini, kita melihat Mazmur 93 tergenapi dalam diri Kristus: Dialah Raja atas alam semesta yang bahkan angin dan ombak pun taat kepada-Nya.

Dalam hidup rohani, “ombak” sering melambangkan gejolak batin, ketakutan, atau dosa yang mengguncang hati. Mazmur ini mengingatkan bahwa Tuhan yang mulia mampu meredakan semua badai kehidupan jika kita bersandar pada kuasa-Nya. Ia tidak hanya berdaulat atas laut fisik, tetapi juga atas “laut hati manusia.”

5. Kekudusan sebagai Mahkota Kemuliaan Allah

Ayat terakhir menegaskan:

“Peraturan-Mu sangat teguh; bait-Mu layak kudus, ya TUHAN, untuk sepanjang masa.”

Kemuliaan Allah bukan hanya tentang kuasa, tetapi juga tentang kekudusan. Rumah Tuhan—baik Bait Allah di Yerusalem maupun Gereja Kristus sekarang—dipanggil untuk menjadi tempat kudus karena di situlah kemuliaan Allah tinggal.

Dengan demikian, kemuliaan Allah tidak hanya harus dikagumi, tetapi juga dihidupi. Setiap umat Katolik dipanggil untuk menjadi bagian dari “rumah Allah yang kudus”, hidup dalam kebenaran dan kesetiaan terhadap sabda-Nya. Mazmur 93 menegaskan bahwa kemuliaan Allah tampak nyata dalam kesetiaan umat kepada hukum dan kasih-Nya.

6. Refleksi Bagi Hidup Iman

Mazmur 93 mengajarkan tiga hal utama bagi kehidupan rohani umat beriman:

  1. Allah berkuasa dan layak disembah.
    Kita tidak boleh membiarkan dunia modern yang sibuk menutupi pandangan kita akan kemuliaan Allah. Segala ciptaan mengingatkan kita akan kebesaran-Nya.

  2. Takhta Allah kokoh dan kekal.
    Di tengah krisis moral, politik, dan lingkungan, umat beriman menemukan keteguhan bahwa Tuhan tetap memegang kendali. Iman menjadi jangkar yang membuat hati tidak goyah.

  3. Kekudusan adalah tanggapan terhadap kemuliaan Allah.
    Kemuliaan Allah bukan hanya untuk dikagumi, tetapi untuk diteladani. Dengan hidup kudus, kita memantulkan cahaya-Nya di dunia.

Mazmur 93 menampilkan Allah sebagai Raja yang mulia, berkuasa, dan kudus. Ia mengatur alam semesta dengan keadilan dan kasih, menopang dunia agar tetap tegak, dan mengundang umat-Nya untuk hidup dalam kekudusan.

Kemuliaan Allah tidak hanya terpancar di surga, tetapi juga dalam kehidupan orang yang percaya dan setia kepada-Nya. Setiap kali kita berdoa mazmur ini, kita menyatukan diri dengan pujian surgawi, mengakui bahwa hanya Tuhan yang layak dimuliakan selamanya.

“Ialah yang empunya kuasa sampai selama-lamanya! Amin.”
1 Petrus 5:11

 

Sumber-sumber:

  1. Alkitab Deuterokanonika, Mazmur 93

  2. Katekismus Gereja Katolik (KGK 268, 269)

  3. St. Agustinus, Exposition on the Psalms (Psalm 93)

  4. Kitab Suci Perjanjian Baru: Kolose 1:16–17; Yohanes 1:3; Markus 4:35–41

  5. Katekese Liturgi Harian Gereja Katolik: Liturgia Horarum, Ps 93 (94)

Komentar

Postingan Populer