Apa yang Dipercayai Gereja Perdana tentang Pahala dan Jasa?

Dalam tradisi Gereja Katolik, konsep pahala (merit) dan jasa (works) merupakan salah satu hal yang tidak terpisahkan dari spiritualitas dan kehidupan iman, khususnya dalam kaitannya dengan keselamatan, pengudusan, dan hidup kekal. Namun, bagaimana sebenarnya Gereja Perdana (abad pertama hingga keempat) memahami dan mengajarkan tentang pahala dan jasa? Apakah ajaran tersebut sama dengan ajaran Gereja Katolik saat ini?

1. Keselamatan adalah Anugerah (Gratia), bukan Prestasi Manusia

Gereja Perdana dengan tegas mengajarkan bahwa keselamatan tidak dapat diperoleh semata-mata karena usaha atau jasa manusia, melainkan merupakan anugerah Allah yang gratis (gratia). Santo Paulus menulis:

“Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.”
(Efesus 2:8-9)

Ayat ini menjadi dasar bahwa semua pahala manusia hanyalah mungkin karena rahmat Allah. Tidak ada manusia yang layak di hadapan Allah berdasarkan perbuatannya saja. Gereja Perdana secara konsisten menekankan hal ini: keselamatan adalah anugerah, dan iman menjadi pintu gerbangnya.

Tidak ada yang dapat membanggakan dirinya, karena kita tidak pernah memiliki sesuatu dari diri kita, semuanya dari Allah.

2. Pahala bukan Nilai Ekonomi, Melainkan Relasi Kasih

Meskipun keselamatan adalah anugerah, namun Gereja Perdana mengajarkan bahwa perbuatan baik memiliki nilai di hadapan Allah, bukan karena nilai ekonomisnya, tetapi karena tuntutan iman yang hidup dalam kasih. Iman tanpa perbuatan adalah mati (Yakobus 2:17).

Santo Ignatius dari Antiokhia (†107) menekankan:

Setiap jenis luka tidak disembuhkan dengan plester yang sama. Redakan serangan hebat [penyakit] dengan aplikasi yang lembut. Jadilah cerdik seperti ular dalam segala hal, dan tulus seperti merpati. (Matius 10:16) Untuk tujuan ini kamu terdiri dari daging dan roh, agar kamu dapat menangani dengan lembut [ kejahatan ] yang muncul di hadapanmu. Dan sehubungan dengan mereka yang tidak terlihat, berdoalah agar [Tuhan] menyatakannya kepadamu, agar kamu tidak kekurangan apa pun, tetapi berlimpah dalam setiap karunia. Waktunya memanggilmu, seperti pilot yang memanggil angin, dan seperti orang yang diombang-ambingkan badai mencari tempat berlindung, sehingga kamu [dan mereka yang berada di bawah perawatanmu] dapat mencapai Tuhan. Jadilah sadar seperti atlet Tuhan: hadiah yang disediakan bagimu adalah keabadian dan hidup yang kekal , yang juga engkau yakini.

(Surat kepada Polikarpus, bab 2)

Bagi Gereja Perdana, pahala adalah buah dari iman dan kasih, bukan sebuah “nilai tukar” untuk membeli keselamatan. Pahala bukanlah kompensasi komersial, tetapi penghargaan Allah atas kesetiaan umat-Nya.

3. Skema Pahala: Allah Mengganjar karena Kasih Setia-Nya

Perjanjian Baru mengajarkan bahwa Allah akan memberikan upah kepada setiap orang sesuai dengan perbuatannya (Roma 2:6). Dalam tradisi Gereja Perdana, konsep pahala ini tidak dilihat sebagai “balasan duniawi” tetapi sebagai janji penggenapan Allah di kehidupan kekal.

Santo Ireneus dari Lyon (†202) menulis:

“Jika Allah menuntut ketaatan dari manusia, jika Dia membentuk manusia, mendorong dan menempatkannya di bawah hukum, hal itu hanyalah untuk kesejahteraan manusia; bukan berarti bahwa Allah membutuhkan manusia melainkan Dia dengan murah hati menganugerahkan kebaikan kepada manusia dengan segala cara yang mungkin.”
(Against Heresies, Book IV, 14)

Pahala adalah bagian dari janji Allah yang tetap berdasarkan rahmat-Nya. Perbuatan baik mengungkapkan kerja sama antara kehendak manusia dengan rahmat Allah.

4. Pahala dalam Tradisi Doa dan Amal

Bapa-bapa Gereja sangat menekankan doa, puasa, dan amal sebagai tindakan yang menunjukkan iman sejati. Santo Polikarpus (†155) menyebut ketiganya sebagai bagian dari hidup Kristiani yang mengarah kepada pahala:

“Karena itu, berdirilah teguh dalam hal-hal ini, dan ikutilah teladan Tuhan, teguh dan tidak berubah dalam iman, kasihilah persaudaraan, (1 Petrus 2:17) dan terikat satu sama lain, bersatu dalam kebenaran, tunjukkanlah kelembutan hati Tuhan dalam hubunganmu satu sama lain, dan janganlah meremehkan siapa pun. Ketika kamu dapat berbuat baik, jangan tunda, karena sedekah membebaskan dari kematian.  (Tobit 4:10, Tobit 12:9) Hendaklah kamu semua tunduk satu sama lain (1 Petrus 5:5)  agar tingkah lakumu tidak bercacat di antara bangsa-bangsa lain,  (1 Petrus 2:12) supaya kamu berdua menerima pujian atas perbuatan baikmu, dan Tuhan jangan dihujat melalui kamu. Tetapi celakalah dia yang olehnya nama Tuhan dihujat! (Yesaya 52:5) Karena itu, ajarkanlah kesederhanaan kepada semua orang, dan nyatakanlah juga dalam tingkah lakumu sendiri.”

(Surat Polikarpus kepada Jemaat Filipi, 10)

Bagi Gereja Perdana, amal kasih kepada sesama merupakan jalur nyata bagi seseorang untuk “mengumpulkan harta di surga” (Mat. 6:20). Ini bukan transaksi, tetapi ekspresi kasih yang hidup.

5. Pahala dan Martir: Puncak Kesetiaan Iman

Dalam sejarah Gereja Perdana, martir dianggap sebagai saksi tertinggi iman. Mereka yang mati demi Kristus dilihat sebagai orang yang memperoleh pahala besar di surga (Mat. 5:12).

Santo Klemens dari Roma (†99) mencatat:

“Namun, tanpa membahas contoh-contoh kuno, mari kita beralih ke pahlawan-pahlawan rohani terkini. Mari kita ambil contoh-contoh mulia yang diberikan pada generasi kita sendiri. Melalui iri hati dan kecemburuan, pilar-pilar [gereja] yang terbesar dan paling benar telah dianiaya dan dihukum mati . Mari kita lihat di depan mata kita para rasul yang termasyhur. Petrus, karena iri hati yang tidak benar, menanggung bukan hanya satu atau dua, tetapi banyak jerih payah; dan setelah akhirnya menderita kemartiran, ia pergi ke tempat kemuliaan yang menjadi haknya. Karena iri hati, Paulus juga memperoleh pahala ketekunan yang sabar, setelah tujuh kali ditawan, dipaksa melarikan diri, dan dirajam dengan batu. Setelah berkhotbah di timur dan barat, ia memperoleh reputasi yang termasyhur karena imannya , setelah mengajarkan kebenaran kepada seluruh dunia, dan datang ke ujung barat, dan menderita kemartiran di bawah para pengawas. Demikianlah ia disingkirkan dari dunia, dan masuk ke tempat kudus, setelah membuktikan dirinya sebagai teladan kesabaran yang luar biasa.”

(Surat kepada Jemaat di Korintus, 5)

Namun, Gereja tidak pernah mengajarkan bahwa martir “membeli” surga – melainkan bahwa mereka dipersatukan dengan pengorbanan Kristus, yang menjadi satu-satunya dasar keselamatan. 

6. Kesinambungan Ajaran: Konsili Trente dan Zaman Modern

Gereja Katolik kemudian menegaskan kembali ajaran Gereja Perdana tentang pahala dalam Konsili Trente (1545–1563). Konsili tersebut mengajarkan:

Oleh karena itu, di hadapan orang-orang yang telah dibenarkan dengan cara ini—entah mereka telah memelihara kasih karunia yang diterima tanpa henti, atau apakah mereka telah memulihkannya ketika hilang—harus disampaikan perkataan Rasul: Berlimpahlah dalam segala pekerjaan baik, sebab kamu tahu, bahwa di dalam Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia. Sebab Allah bukan tidak adil, sehingga Ia lupa akan pekerjaanmu dan kasih yang telah kamu tunjukkan terhadap nama-Nya. Janganlah kehilangan kepercayaanmu, karena besar upah yang menantinya. Dan, karena alasan ini, hidup kekal harus ditawarkan kepada mereka yang bekerja dengan baik sampai akhir, dan berharap kepada Allah, baik sebagai kasih karunia yang dijanjikan dengan penuh belas kasihan kepada anak-anak Allah melalui Yesus Kristus, maupun sebagai upah yang sesuai dengan janji Allah sendiri, yang akan diberikan dengan setia kepada perbuatan baik dan jasa mereka. Karena inilah mahkota keadilan yang dinyatakan Rasul, setelah perjuangan dan perjalanannya, telah disimpan baginya, untuk diberikan kepadanya oleh hakim yang adil, dan bukan hanya kepadanya, tetapi juga kepada semua orang yang merindukan kedatangan-Nya. 

(Konsili Trente, Dekrit tentang Pembenaran, Bab 16)

Namun ditegaskan juga bahwa tidak ada perbuatan baik yang bernilai tanpa rahmat Kristus dan karya Roh Kudus.

Dalam Katekismus Gereja Katolik (KGK), dijelaskan:

2008. Jasa manusia di hadapan Allah dalam kehidupan Kristen hanya muncul dari kenyataan bahwa Allah telah menetapkan secara bebas untuk mengizinkan manusia bekerja sama dengan rahmat-Nya. Titik tolak kerja sama ini adalah selalu tindakan Allah sebagai Bapa yang memberi dorongan supaya manusia dapat bertindak bebas, sehingga jasa-jasa untuk pekerjaan-pekerjaan baik pada tempat pertama harus dialamatkan kepada rahmat Allah dan sesudah itu baru kepada orang beriman. Jasa manusia pada dasamya adalah milik Allah, karena perbuatan-nya yang baik berasal dari rahmat dan bantuan Roh Kudus di dalam Kristus.

2009. Pengangkatan sebagai anak membuat kita mengambil bagian dalam kodrat ilahi karena rahmat. Karena itu ia dapat memberikan suatu jasa yang sungguh, sesuai dengan keadilan cuma-cuma dari pihak Allah. Inilah suatu hak karena rahmat, hak penuh dari kasih, yang menjadikan kita "rekan ahli waris" Kristus, layak untuk "menerima kehidupan abadi pada waktunya" (Konsili Trente: DS 1546). Jasa-jasa pekerjaan kita yang baik adalah anugerah kebaikan Allah Bdk. Konsili Trente: DS 1548.. "Rahmat telah mendahului; sekarang diganjar, apa yang sebenarnya utang... Jasa-jasa adalah hadiah Allah" (Agustinus, Berm. 298,4-5). 

2010. Karena di dalam tata rahmat tindakan pertama berasal dari Allah, maka seorang pun tidak dapat memperoleh rahmat pertama, yang darinya muncul pertobatan, pengampunan, dan pembenaran. Baru setelah didorong oleh Roh Kudus dan kasih, kita dapat memperoleh untuk kita sendiri dan untuk orang lain, rahmat yang menyumbang demi kekudusan kita, demi pertumbuhan rahmat dan kasih, serta demi penerimaan kehidupan abadi. Sesuai dengan kebijaksanaan Allah, maka harta-harta sementara pun dapat diperoleh, umpamanya kesehatan dan persahabatan. Rahmat dan harta-harta ini adalah obyek doa Kristen. Doa menyediakan rahmat, yang mutlak perlu untuk perbuatan kita yang menghasilkan jasa. 

2011. Kasih Kristus di dalam kita adalah sumber segala jasa kita di hadirat Allah. Rahmat mempersatukan kita dengan Kristus dalam kasih yang aktif dan dengan demikian menjamin sifat adikodrati dari perbuatan kita dan karena itu sifat jasa di hadapan Allah dan manusia. Para kudus selalu sangat sadar bahwa jasa-jasanya adalah rahmat semata-mata:

"Sesudah pengasingan di dunia berharap bahwa aku akan bergembira di surga karena Engkau; tetapi aku tidak mau mengumpulkan jasa-jasa untuk surga, tetapi hanya bekerja untuk kasih-Mu.... Pada akhir kehidupan ini aku akan tampil di hadirat-Mu dengan tangan kosong; karena aku tidak mohon kepada-Mu, ya Tuhan, untuk menghitung- hitung pekerjaanku. Semua keadilan kami adalah penuh cacat dalam mata-Mu! Karena itu aku mau mengenakan keadilan-Mu sendiri dan menerima dari kasih-Mu harta abadi ialah diri-Mu sendiri" (Teresia dari Kanak-kanak Yesus, offr).

(KGK 2008–2011)

Kesimpulan

Gereja Perdana percaya bahwa:

  1. Keselamatan adalah anugerah Allah – bukan semata-mata hasil usaha manusia.

  2. Perbuatan baik, doa, dan pengorbanan memiliki nilai pahala, tetapi hanya karena rahmat Allah yang bekerja dalam diri manusia.

  3. Pahala adalah janji Allah, bukan transaksi ekonomi.

  4. Perbuatan baik adalah ungkapan iman yang hidup dalam kasih, yang terus ditekankan sejak zaman para rasul.

  5. Para martir dipandang sebagai teladan pahala tertinggi, melalui pengorbanan mereka dalam kesetiaan kepada Kristus.

Ajaran ini menunjukkan bahwa pemahaman Gereja Katolik saat ini tentang pahala dan jasa memiliki dasar kokoh sejak Gereja Perdana. Pahala bukanlah soal “mengumpulkan poin”, tetapi menikmati buah kasih setia Allah ketika manusia menanggapi rahmat-Nya dengan setia.


Sumber:

  • Kitab Suci (Efesus 2:8-9, Yakobus 2:17, Roma 2:6, Matius 5:12, Matius 6:20).

  • Santo Ignatius dari Antiokhia, Surat kepada Polikarpus.

  • Santo Ireneus, Against Heresies.

  • Santo Klemens dari Roma, Surat kepada Korintus.

  • Konsili Trente, Dekrit tentang Pembenaran.

  • Katekismus Gereja Katolik, 2008–2011.

Komentar

Postingan Populer