Bukan Karena Jasa Kita: Menyadari Anugerah Allah

Foto: dok.pri hermin kris

Dalam hidup ini, kita sering dihadapkan pada dinamika antara usaha manusia dan penyelenggaraan Ilahi. Di satu sisi, kita diajar untuk bekerja keras, berkarya sungguh-sungguh, dan berusaha tanpa henti. Namun di sisi lain, Kitab Suci dengan tegas mengingatkan bahwa keberhasilan kita bukan semata hasil jerih payah atau jasa kita, melainkan karena anugerah Allah semata.

Ungkapan ini sangat kuat terasa dalam Mazmur 127:1-2, yang mengatakan:

“Jikalau bukan Tuhan yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya; jikalau bukan Tuhan yang mengawal kota, sia-sialah pengawal berjaga-jaga. Sia-sialah kamu bangun pagi-pagi dan duduk-duduk sampai jauh malam, dan makan roti yang diperoleh dengan susah payah — sebab Ia memberikannya kepada yang dicintai-Nya pada waktu tidur.” (Mazmur 127:1-2)

Ayat ini menyentak kita secara spiritual: Tuhanlah fondasi dari setiap hasil, setiap keberhasilan, dan setiap anugerah dalam hidup kita. Kita bekerja, ya, tetapi Tuhan yang menyempurnakan. Kita berusaha, ya, tetapi Tuhan yang memberi hasil.

Anugerah di Atas Usaha

St. Paulus melalui suratnya kepada Jemaat di Efesus mempertegas hal ini:

“Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.” (Efesus 2:8-9)

Kita diselamatkan bukan karena jasa kita, bukan karena ibadah yang sempurna, bukan karena amal yang banyak, tetapi karena rahmat. Ini bukan berarti kita menjadi pasif atau malas. Sebaliknya, kita tetap bekerja dan berbuat baik, tetapi dengan kesadaran yang mendalam bahwa semua itu adalah tanggapan atas kasih Allah, bukan syarat untuk mendapatkan kasih-Nya.

Dalam tradisi Katolik, ini sejalan dengan ajaran Gereja tentang rahmat dan perbuatan baik. Katekismus Gereja Katolik menegaskan:

“Karena di dalam tata rahmat tindakan pertama berasal dari Allah, maka seorang pun tidak dapat memperoleh rahmat pertama, yang darinya muncul pertobatan, pengampunan, dan pembenaran. Baru setelah didorong oleh Roh Kudus dan kasih, kita dapat memperoleh untuk kita sendiri dan untuk orang lain, rahmat yang menyumbang demi kekudusan kita, demi pertumbuhan rahmat dan kasih, serta demi penerimaan kehidupan abadi. Sesuai dengan kebijaksanaan Allah, maka harta-harta sementara pun dapat diperoleh, umpamanya kesehatan dan persahabatan. Rahmat dan harta-harta ini adalah obyek doa Kristen. Doa menyediakan rahmat, yang mutlak perlu untuk perbuatan kita yang menghasilkan jasa.” (KGK 2010)

Anugerah adalah gratis. Kita menerima karena Allah mengasihi, bukan karena kita layak.

Kesombongan Rohani: Bahaya Tersembunyi

Ada bahaya tersembunyi dalam kehidupan spiritual: kesombongan rohani. Ketika seseorang merasa bahwa ia berhasil dalam hidup karena doanya, karena kedisiplinannya, atau karena "kebaikan" yang dilakukan, tanpa menyadari peran rahmat Allah di dalamnya, ia sedang terjebak dalam kesombongan.

Padahal, Yesus sendiri mengingatkan dalam Lukas 17:10:

“Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang harus kami lakukan.”

Intinya, kita berbuat baik bukan untuk mendapat pujian atau imbalan, tetapi untuk menjalankan kehendak Allah yang telah mengasihi kita lebih dulu.

Melihat Pekerjaan sebagai Jawaban atas Rahmat

Seorang ibu rumah tangga yang bekerja dari pagi hingga malam demi keluarganya, seorang petani yang mencangkul tanah dengan setia, seorang karyawan yang tekun dalam tanggung jawabnya — semua adalah panggilan yang mulia. Tetapi dalam iman, mereka tahu bahwa hasil panen, kesehatan keluarga, dan kelancaran pekerjaan adalah bukti penyelenggaraan Allah yang bekerja lewat usaha mereka.

Kita bekerja bukan untuk "mengendalikan" hasil, tetapi untuk berpartisipasi dalam karya Allah. Seperti yang dikatakan St. Teresia dari Lisieux:

“Segala sesuatu adalah rahmat.”

Setiap napas, setiap keberhasilan, bahkan setiap kegagalan yang membentuk karakter kita — semuanya adalah kesempatan untuk mengenal lebih dalam kasih Allah.

Hidup dalam Syukur, Bukan Takut

Jika keberhasilan adalah akibat usaha semata, maka kegagalan bisa membuat kita merasa hancur, dendam pada diri sendiri, bahkan marah pada Tuhan. Tetapi jika kita menyadari bahwa hidup ini adalah anugerah, kita akan hidup dalam sikap syukur, bahkan di tengah keterbatasan.

Inilah inti sikap batin yang diajarkan oleh Santo Paulus:

“...  aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan. Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan. Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” (Filipi 4:11-13)

Dengan kesadaran ini, syukur kita tidak hanya lahir ketika berhasil, tetapi juga ketika gagal — karena keduanya berasal dari tangan Allah, yang ingin membentuk dan memurnikan kita.

Kesadaran Akan Anugerah Menjadi Sumber Kerendahan Hati

Kesadaran bahwa segala sesuatu adalah anugerah menumbuhkan kerendahan hati sejati. Kerendahan hati bukan rendah diri, tetapi sikap hati yang jujur, yang tahu bahwa kita adalah ciptaan yang dikasihi dan dijaga. Kerendahan hati ini memampukan kita untuk tidak bersombong dalam keberhasilan dan tidak putus asa dalam kegagalan.

Ini pula yang diajarkan Yesus dalam perumpamaan tentang orang Farisi dan pemungut cukai (Lukas 18:9-14). Orang Farisi menyombongkan jasanya, sedangkan pemungut cukai memohon belas kasihan. Dan justru yang rendah hati itulah yang lebih dibenarkan Allah.

Kesimpulan

Kita dipanggil untuk berkarya, tetapi karya itu hanya sempurna dalam tangan Allah. Kita diundang untuk melayani, tetapi pelayanan itu hanya bermakna jika ditopang rahmat. Dan kita diselamatkan, bukan oleh jasa kita, tetapi oleh kasih yang tak bersyarat dari Allah Bapa.

Maka, marilah kita hidup dalam kesadaran bahwa segala sesuatu adalah anugerah. Kita bekerja bukan untuk memegahkan diri, tetapi untuk mengembalikan segala pujian kepada Allah yang penuh kasih.

“Jikalau bukan Tuhan yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya.” (Mazmur 127:1)

Semoga kita tidak hanya tahu, tetapi sungguh menghayati: bukan karena jasa kita, tetapi karena rahmat Allah semata.


Sumber:

  • Alkitab Deuterokanonika, Terjemahan Lama dan TB (LAI)

  • Katekismus Gereja Katolik (KGK) 2010

  • Surat Efesus 2:8-9; Mazmur 127:1-2; Filipi 4:11-13; Lukas 18:9-14; Lukas 17:10

  • Tulisan dan kutipan Santo Teresia dari Lisieux

Komentar

Postingan Populer