Mengatasi Rasa Takut Kekurangan: Percaya pada Allah yang Menyediakan


Foto: Hermin Kris

Setiap manusia, tanpa terkecuali, pernah bergumul dengan rasa takut akan kekurangan. Kekurangan uang, makanan, tempat tinggal, pekerjaan, bahkan kasih sayang—semua itu sering menimbulkan kecemasan yang menggerogoti hati. Ketika kebutuhan hidup tampak lebih besar dari kemampuan kita, rasa takut mulai menguasai pikiran dan mengurangi iman kita kepada Allah.

Namun, Kitab Suci dan ajaran Gereja Katolik mengajarkan bahwa ketakutan semacam itu hanya bisa diatasi melalui iman yang teguh kepada Allah sebagai Sang Penyelenggara Hidup (Providentia Dei). Allah bukan hanya pencipta, melainkan juga Bapa yang setia menyediakan kebutuhan anak-anak-Nya.

1. Ketakutan akan Kekurangan: Wajah Modern dari Kurangnya Iman

Rasa takut kekurangan sebenarnya bukan hal baru. Sejak zaman Israel di padang gurun, manusia sudah menunjukkan kelemahan ini. Bangsa Israel, meskipun baru saja diselamatkan dari perbudakan Mesir dengan mukjizat besar, masih berkata:

“Ah, kalau kami mati tadinya di tanah Mesir oleh tangan TUHAN ketika kami duduk menghadapi kuali berisi daging dan makan roti sampai kenyang!” (Kel. 16:3)

Mereka lupa bahwa Allah yang membebaskan mereka juga sanggup memberi makan mereka. Rasa takut membuat mereka menatap ke belakang dan meragukan janji Tuhan.

Begitu pula di zaman modern ini, banyak orang Katolik hidup dalam kekhawatiran yang sama—takut miskin, takut tidak punya tabungan, takut masa depan anak tidak terjamin. Padahal Yesus dengan tegas berkata:

“Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai.” (Mat. 6:25)

Rasa takut kekurangan sering kali muncul karena kita menilai hidup dari ukuran duniawi: seberapa banyak yang kita miliki, bukan seberapa dalam kita mempercayai Allah. Inilah yang dikecam oleh Yesus ketika Ia berkata,

“Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.” (Mat. 6:24)

2. Allah yang Menyelenggarakan Hidup

Iman Katolik mengajarkan bahwa Allah tidak pernah menelantarkan ciptaan-Nya. Katekismus Gereja Katolik (KGK 302–314) menegaskan bahwa Allah terus menopang ciptaan-Nya dengan kasih dan kebijaksanaan. Segala sesuatu yang terjadi—termasuk kekurangan—ada dalam rencana penyelenggaraan Ilahi yang bertujuan membawa manusia kepada keselamatan.

Yesus memberi teladan penyelenggaraan Ilahi dalam kehidupan sehari-hari:

“Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu?” (Mat. 6:26)

Ayat ini bukan sekadar ajakan untuk pasrah tanpa usaha, melainkan undangan untuk percaya bahwa Allah bekerja melalui segala cara—pekerjaan kita, orang-orang di sekitar kita, bahkan situasi yang tampak sulit—untuk mencukupi kebutuhan hidup kita.

3. Iman yang Bertumbuh di Tengah Kekurangan

Kekurangan sering kali menjadi tempat pertumbuhan iman. Santo Paulus mengalami banyak penderitaan dan kesusahan, tetapi justru di situlah ia menemukan kekuatan sejati:

“Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan. Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” (Flp. 4:12–13)

Iman sejati bukan berarti hidup tanpa kekurangan, melainkan kemampuan untuk tetap bersyukur dan berharap di tengah kekurangan. Ketika kita percaya bahwa Allah memegang kendali, rasa takut kehilangan berubah menjadi ketenangan yang dalam.

Bunda Teresa dari Kalkuta juga pernah berkata, “Anakku, aku tidak dipanggil untuk berhasil, tetapi aku dipanggil untuk setia.” Setia berarti terus bekerja, berdoa, dan berbuat kasih tanpa membiarkan rasa takut menguasai hati.

4. Mengubah Ketakutan Menjadi Kepercayaan

Bagaimana cara konkret mengatasi rasa takut kekurangan? Ajaran Katolik menawarkan tiga jalan utama:

a. Doa dan Penyerahan Diri

Doa “Bapa Kami” mengandung inti kepercayaan kepada penyelenggaraan Allah:

“Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya.” (Mat. 6:11)

Kata hari ini mengajarkan kita untuk tidak hidup dalam ketakutan masa depan. Kita diajak mempercayai bahwa Allah memberi cukup untuk setiap hari. Ketika kita berdoa dengan iman, ketenangan hati mulai menggantikan ketakutan.

b. Bersyukur dan Hidup Sederhana

Rasa takut kekurangan sering muncul dari keinginan yang tidak terkendali. Kita ingin lebih dari yang dibutuhkan. Padahal, hidup sederhana justru membuka mata hati untuk melihat berkat Allah yang sudah ada. 

Praktik hidup sederhana bukan berarti menolak kemajuan, tetapi menata kembali prioritas: Allah di atas segalanya.

c. Berbagi dengan Kasih

Aneh tapi nyata—cara terbaik mengatasi rasa takut kekurangan adalah memberi. Amsal berkata:

“Ada yang menyebar harta, tetapi bertambah kaya, ada yang menghemat secara luar biasa, namun selalu berkekurangan.” (Ams. 11:24)

Memberi adalah tindakan iman yang menunjukkan bahwa kita percaya Allah akan mengganti berlipat ganda. Yesus sendiri menjanjikan:

“Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.” (Luk. 6:38)

Dalam konteks Katolik, perbuatan kasih (amal) bukan hanya menolong sesama, tetapi juga memurnikan hati dari rasa takut. Sebab cinta mengusir ketakutan (1Yoh. 4:18).

5. Gereja: Tempat Belajar Percaya pada Penyelenggaraan Allah

Gereja Katolik, melalui Sakramen dan hidup komunitas, menjadi ruang bagi umat beriman untuk saling menguatkan dalam menghadapi kekurangan. Sakramen Ekaristi, khususnya, adalah tanda nyata bahwa Allah selalu menyediakan “roti kehidupan” bagi umat-Nya.

Ketika kita menyambut Ekaristi, kita menerima Kristus yang menjadi sumber kehidupan rohani dan jasmani. Kita diajak percaya bahwa Allah yang memberi tubuh dan darah Putra-Nya juga akan memenuhi kebutuhan sehari-hari kita.

Komunitas Gereja pun menghidupi semangat berbagi, seperti jemaat perdana yang digambarkan dalam Kisah Para Rasul:

“Sebab tidak ada seorangpun yang berkekurangan di antara mereka; karena semua orang yang mempunyai tanah atau rumah, menjual kepunyaannya itu, dan hasil penjualan itu mereka bawa dan mereka letakkan di depan kaki rasul-rasul; lalu dibagi-bagikan kepada setiap orang sesuai dengan keperluannya.” (Kis. 4:34-35)

Inilah cita-cita iman: hidup dalam kasih, bukan ketakutan; saling menopang, bukan saling bersaing.

6. Menemukan Damai dalam Keyakinan

Mengatasi rasa takut kekurangan berarti belajar mengandalkan Allah sepenuhnya. Iman tidak menjanjikan kekayaan materi, tetapi menjamin damai yang sejati. Santo Ignatius Loyola dalam Latihan Rohani menulis:

“Manusia diciptakan untuk memuji, menghormati, dan melayani Tuhan, dan dengan demikian ia memperoleh keselamatan jiwanya. Dan segala sesuatu yang lain di dunia diciptakan untuk manusia dan bahwa mereka dapat membantunya untuk mencapai tujuan akhir yang untuknya manusia diciptakan. Dari sini, artinya, manusia harus mempergunakan hal-hal duniawi tersebut asalkan hal-hal tersebut dapat membantunya mencapai tujuan akhir-nya, dan ia harus membuang hal-hal tersebut sejauh itu menghalanginya untuk mencapai tujuan akhir. Untuk ini, adalah penting untuk membuat diri kita tidak terikat kepada semua hal yang diciptakan, di dalam segala sesuatu yang diperbolehkan menjadi pilihan bebas kita dan yang tidak dilarang; sehingga di pihak kita, kita tidak menginginkan kesehatan daripada penyakit, kekayaan daripada kemiskinan, penghormatan daripada penghinaan, umur panjang daripada umur pendek, sehingga di dalam segala sesuatu, hanya menginginkan dan memilih apa yang paling kondusif bagi kita untuk mencapai tujuan akhir yang untuknya kita diciptakan.” (SE, 23)

Artinya, kekayaan bukan tujuan, melainkan sarana. Ketika kita melihat segala sesuatu sebagai pemberian Allah untuk memuliakan-Nya, maka rasa takut kehilangan akan sirna. 

Rasa takut kekurangan adalah pergumulan manusiawi, tetapi iman Katolik mengajarkan bahwa Allah adalah Bapa yang penuh kasih dan penyelenggaraan-Nya tidak pernah gagal. Ketika kita hidup dalam doa, kesederhanaan, dan kasih, kita akan menemukan bahwa berkat Allah selalu cukup—bahkan melimpah—bagi mereka yang percaya.

Mari kita renungkan sabda Yesus ini sebagai pegangan:

“Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” (Mat. 6:33)

Dengan hati yang percaya, kita bisa berkata bersama Santo Paulus:

“Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus.” (Flp. 4:19)


Sumber:

  1. Kitab Suci Katolik – Injil Matius 6:24–34; Filipi 4:12–19; Kisah Para Rasul 4:34; Amsal 11:24

  2. Katekismus Gereja Katolik (KGK) No. 302–314 – tentang Penyelenggaraan Ilahi

  3. Santo Ignatius Loyola, Latihan Rohani

  4. Bunda Teresa dari Kalkuta, A Simple Path


Komentar

Postingan Populer