PUNYA HARTA, BIAYAI KULIAH: HIDUP BERBAGI DALAM TERANG AJARAN KATOLIK
Dalam masyarakat modern, pendidikan telah menjadi salah satu kunci utama untuk membuka masa depan yang lebih baik. Banyak orang tua bekerja keras, menabung, bahkan mengorbankan kenyamanan hidup demi membiayai pendidikan anak-anak mereka hingga perguruan tinggi. Di tengah perjuangan itu, Gereja Katolik memberikan perspektif rohani yang kaya tentang bagaimana memahami harta, tanggung jawab moral, serta panggilan untuk menggunakannya demi kebaikan.
1. HARTA SEBAGAI ANUGERAH DAN TANGGUNG JAWAB
Ajaran Gereja menegaskan bahwa harta bukanlah sesuatu yang salah. Harta adalah anugerah Tuhan yang harus digunakan dengan bijak. Katekismus Gereja Katolik menyatakan:
“Sejak awal Allah telah mempercayakan bumi dengan harta miliknya kepada manusia untuk diolah bersama, sehingga mereka mengusahakan bumi, menguasainya melalui karyanya, dan menikmati hasil-hasilnya (Bdk. Kej 1:26-29.). Harta ciptaan ditentukan untuk seluruh umat manusia. Tetapi bumi ini dibagi-bagikan antara manusia, untuk menjamin keamanan kehidupannya yang berada dalam bahaya, menderita kekurangan, dan menjadi korban keganasan. Memiliki harta benda itu sah, untuk menjamin kebebasan dan martabat manusia, dan untuk memberi kemungkinan kepada tiap orang, supaya memenuhi kebutuhan pokoknya sendiri dan kebutuhan dari mereka yang dipercayakan kepadanya. Harta milik membuka kemungkinan agar di antara manusia terdapat satu solidaritas alami.”
(KGK 2402)
Namun, pada saat yang sama, Gereja menekankan bahwa kepemilikan pribadi harus selalu diarahkan kepada kebaikan bersama:
“Hak atas milik pribadi, yang diusahakan sendiri atau yang diwarisi atau diterima dari orang lain, tidak menghilangkan kenyataan bahwa bumi ini pada awalnya diberikan kepada seluruh umat manusia. Bahwa harta benda ditentukan untuk semua manusia, tetap tinggal prioritas pertama, juga apabila kesejahteraan umum menuntut untuk menghormati hak atas milik pribadi dan penggunaannya.”
(KGK 2403)
Dari sini, jelas bahwa memiliki harta selalu disertai tanggung jawab moral: bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk keluarga, sesama, dan masyarakat. Membiayai pendidikan anak—termasuk kuliah—merupakan salah satu cara konkret menggunakan harta secara bertanggung jawab dan bermoral Kristen.
2. MEMBIAYAI PENDIDIKAN ANAK ADALAH TINDAKAN KASIH
Mengusahakan pendidikan terbaik bagi anak adalah salah satu bentuk kasih orang tua yang diajarkan dalam Kitab Suci. Santo Paulus menulis:
“Karena bukan anak-anak yang harus mengumpulkan harta untuk orang tuanya, melainkan orang tualah untuk anak-anaknya.”
(2 Kor 12:14)
Dalam konteks zaman modern, menyediakan kebutuhan anak bukan hanya mengenai makanan dan tempat tinggal, tetapi juga pendidikan yang bermakna. Pendidikan membuat anak dapat hidup mandiri, bertumbuh dalam kebijaksanaan, dan mengambil bagian dalam pembangunan masyarakat.
Dalam Familiaris Consortio, Paus Yohanes Paulus II menekankan:
“Tugas mendidik berakar pada panggilan utama pasangan suami istri untuk berpartisipasi dalam karya kreatif Allah: dengan melahirkan dalam kasih dan untuk kasih seorang pribadi baru yang memiliki dalam dirinya panggilan untuk bertumbuh dan berkembang, orang tua dengan sendirinya mengemban tugas untuk membantu pribadi tersebut secara efektif menjalani kehidupan manusia seutuhnya. Sebagaimana diingatkan oleh Konsili Vatikan II, "karena orang tua telah menganugerahkan kehidupan kepada anak-anak mereka, mereka memiliki kewajiban yang sangat khidmat untuk mendidik anak-anak mereka. Oleh karena itu, orang tua harus diakui sebagai pendidik pertama dan terutama bagi anak-anak mereka. Peran mereka sebagai pendidik begitu menentukan sehingga hampir tidak ada yang dapat menggantikan kegagalan mereka dalam hal itu. Karena orang tua bertanggung jawab untuk menciptakan suasana keluarga yang begitu dijiwai dengan kasih dan rasa hormat kepada Allah dan sesama sehingga perkembangan pribadi dan sosial yang utuh akan dipupuk di antara anak-anak. Oleh karena itu, keluarga adalah sekolah pertama bagi kebajikan-kebajikan sosial yang dibutuhkan setiap masyarakat.”
(Familiaris Consortio, 36)
Pendidikan tidak hanya terjadi di dalam rumah, tetapi juga melalui akses sekolah dan perguruan tinggi. Dengan membiayai kuliah, orang tua ikut memastikan bahwa anak memiliki masa depan yang lebih cerah dan layak. Di sinilah kasih diwujudkan secara konkret—kasih yang berkorban, memberi, dan berpikir jauh ke depan.
3. HARTA BUKAN UNTUK DITUMPUK, MELAINKAN UNTUK MENGHASILKAN BUAH
Dalam tradisi Katolik, harta bukan untuk ditimbun atau dipertahankan demi kebanggaan pribadi. Yesus memberikan peringatan keras:
“Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya.”
(Matius 6:19–20)
Bagi keluarga Katolik, menginvestasikan harta untuk pendidikan anak merupakan cara menabur harta surgawi. Mengapa? Karena pendidikan anak tidak hanya menciptakan peluang ekonomi, tetapi juga membentuk karakter, kebijaksanaan, dan nilai moral. Ini adalah buah-buah rohani yang berguna bukan hanya bagi masa depan anak, tetapi juga bagi Gereja dan masyarakat.
Menggunakan harta untuk mendukung pendidikan adalah bentuk stewardship—pengelolaan harta sesuai kehendak Tuhan. Dalam perumpamaan talenta (Matius 25:14–30), Yesus menyampaikan bahwa Tuhan mengharapkan kita mengelola apa yang Ia percayakan, bukan menyimpannya tanpa menghasilkan apa pun. Ketika keluarga menggunakan harta untuk membiayai kuliah, mereka sedang “menggandakan talenta” dengan cara membangun masa depan anak sebagai manusia yang berdaya dan bertanggung jawab.
4. KULIAH SEBAGAI JALAN PANGGILAN DAN PERTUMBUHAN IMAN
Pendidikan tinggi bukan hanya tentang karier. Dalam perspektif Katolik, pendidikan dapat menjadi jalan untuk menemukan panggilan hidup (vocation). Paus Fransiskus dalam Christus Vivit menulis bahwa kaum muda dipanggil untuk menemukan misi khas mereka di dunia melalui pembelajaran, pergumulan, dan pengalaman.
Dengan membiayai pendidikan, orang tua membantu anak menemukan:
-
panggilan profesionalnya,
-
peran dalam masyarakat,
-
tempat untuk mewujudkan nilai Injili melalui karya,
-
dan cara untuk melayani sesuai bakat yang dianugerahkan Tuhan.
Gereja melihat pendidikan sebagai sarana memanusiakan manusia, bukan sekadar alat mencari pekerjaan. Ketika anak kuliah, ia sedang berkembang menjadi gambar Allah yang lebih matang—berpikir, berkreasi, dan bertanggung jawab.
5. HIDUP BERBAGI: KETIKA HARTA MENJADI JALAN KESELAMATAN
Dalam ajaran sosial Gereja, berbagi harta adalah tanda kasih dan keadilan. Gaudium et Spes menegaskan:
“Allah menghendaki bumi beserta segala isinya untuk dimanfaatkan oleh seluruh umat manusia dan bangsa. Maka, di bawah pimpinan keadilan dan dalam naungan kasih, kekayaan ciptaan hendaknya berlimpah bagi semua orang dengan cara yang sama.”
(Gaudium et Spes, 69)
Ketika orang tua menggunakan harta untuk pendidikan anak, mereka sedang melakukan tindakan keadilan keluarga. Namun tindakan ini juga dapat diperluas kepada sesama. Banyak keluarga Katolik yang tidak hanya membiayai pendidikan anak kandung, tetapi juga keponakan, saudara, anak yatim piatu, atau mahasiswa kurang mampu melalui beasiswa.
Yesus mengingatkan:
“... sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.”
(Matius 25:40)
Dengan demikian, membiayai kuliah bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga karya kasih. Kita mencerminkan wajah Allah Bapa yang murah hati.
6. KELUARGA DAN PERENCANAAN KEUANGAN KRISTIANI
Memiliki harta berarti harus bijak dalam mengelolanya. Gereja menganjurkan umat untuk hidup teratur, sederhana, dan memprioritaskan hal-hal yang benar.
Prinsip Katolik dalam mengelola keuangan keluarga meliputi:
-
Membedakan kebutuhan dan keinginan.
-
Mengutamakan pendidikan dan kesehatan keluarga.
-
Menghindari gaya hidup berlebihan.
-
Menggunakan harta untuk tujuan moral.
-
Menjalankan kemurahan hati dan solidaritas.
7. HARTA YANG BERBUAH KEKEKALAN
Harta adalah alat, bukan tujuan. Dalam terang iman Katolik:
-
Harta merupakan anugerah.
-
Pendidikan adalah bentuk kasih.
-
Berbagi adalah kewajiban moral.
-
Dan pendidikan anak adalah ladang untuk menabur buah kebajikan.
Ketika keluarga Katolik memutuskan untuk menggunakan harta demi pendidikan, mereka sedang membangun masa depan yang lebih manusiawi, lebih bermartabat, dan lebih sesuai dengan kehendak Allah.
Pada akhirnya, kita dipanggil untuk meneladani Allah Bapa yang selalu memberi. Harta kita mungkin terbatas, tetapi kasih kita tidak boleh terbatas. Dan dari kasih yang diwujudkan dalam pengorbanan untuk pendidikan, Tuhan akan menumbuhkan buah-buah kebaikan yang kekal.
Sumber
-
Kitab Suci — Matius 6:19–20; Matius 25:14–30; Matius 25:40; 2 Korintus 12:14.
-
Katekismus Gereja Katolik — KGK 2402–2403.
-
Paus Yohanes Paulus II, Familiaris Consortio (1981).
-
Konsili Vatikan II, Gaudium et Spes (1965).
-
Paus Fransiskus, Christus Vivit (2019).






Komentar
Posting Komentar