Tak Adil: Siapa yang Seharusnya Bertanggung Jawab?

Ketidakadilan adalah salah satu pengalaman paling menyakitkan dalam hidup manusia. Kita merasakannya ketika diperlakukan tidak semestinya, ketika usaha kita tidak dihargai, atau ketika orang jahat tampak berhasil tanpa konsekuensi yang setimpal. Dunia ini sering terasa tidak adil, dan pengalaman itu membuat kita bertanya: “Mengapa Tuhan membiarkan ketidakadilan? Siapa yang harus bertanggung jawab?” Dalam pandangan iman Katolik, pertanyaan ini tidak dijawab dengan simplistik; justru Gereja mengajak kita masuk lebih dalam ke dalam misteri kejatuhan manusia, kebebasan, dan kasih Allah yang adil sekaligus penuh belas kasih.

1. Akar Ketidakadilan: Hati Manusia yang Terluka oleh Dosa

Kitab Suci menyatakan bahwa ketidakadilan bermula dari dosa manusia. Ketika Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa, hubungan manusia dengan Tuhan, sesama, dan dirinya sendiri menjadi rusak (Kej 3). Sejak itu, manusia cenderung menyalahkan orang lain atas kesalahan sendiri. Adam berkata, “Perempuan yang Kautempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku” (Kej 3:12). Manusia menghindar dari tanggung jawab.

Inilah akar pertama ketidakadilan: manusia yang tidak mau bertanggung jawab atas pilihannya.

Kateksimus Gereja Katolik (KGK) mengajarkan:

“Dosa adalah satu tindakan pribadi. Tetapi kita juga mempunyai tanggung jawab untuk dosa orang lain kalau kita turut di dalamnya,

- kalau kita mengambil bagian dalam dosa itu secara langsung dan dengan suka rela,

- kalau kita memerintahkannya, menasihatkan, memuji, dan membenarkannya,

- kalau kita menutup-nutupinya atau tidak menghalang-halanginya, walaupun kita berkewajiban untuk itu,

- kalau kita melindungi penjahat.” (KGK 1868).

Artinya, ketidakadilan di dunia tidak hanya berasal dari keputusan pribadi seseorang, tetapi juga dari sikap diam kita, kelalaian, atau tindakan yang memungkinkan kejahatan terus terjadi.

2. Tuhan dan Ketidakadilan: Apakah Tuhan Bertanggung Jawab?

Pertanyaan besar muncul: jika Tuhan Mahakuasa dan Mahabaik, mengapa Ia membiarkan ketidakadilan?

Kitab Suci memberi gambaran penting. Tuhan tidak menciptakan dunia penuh kejahatan. Sebaliknya, Ia memberikan kebebasan agar manusia bisa mengasihi dengan tulus. Tetapi kebebasan itu membuka ruang penyalahgunaan. Kebebasan adalah anugerah, tetapi juga tanggung jawab.

Kitab Kebijaksanaan berkata:

“Memang maut tidak dibuat oleh Allah, dan Iapun tak bergembira karena yang hidup musnah lenyap.” (Keb 1:13)

Tetapi karena dengki setan maka maut masuk ke dunia, dan yang menjadi milik setan mencari maut itu.” (Keb 2:24).

Artinya, ketidakadilan bukan berasal dari Allah, melainkan dari akibat penolakan manusia terhadap kehendak Allah.

Namun demikian, Allah tidak tinggal diam di tengah ketidakadilan. Dalam Keluaran, Allah berkata kepada Musa:

“Aku telah memperhatikan dengan sungguh kesengsaraan umat-Ku di tanah Mesir, dan Aku telah mendengar seruan mereka yang disebabkan oleh pengerah-pengerah mereka, ya, Aku mengetahui penderitaan mereka. Sebab itu Aku telah turun untuk melepaskan mereka dari tangan orang Mesir dan menuntun mereka keluar dari negeri itu ke suatu negeri yang baik dan luas, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya, ke tempat orang Kanaan, orang Het, orang Amori, orang Feris, orang Hewi dan orang Yebus.” (Kel 3:7-8).

Allah turun tangan, tetapi Ia bekerja melalui manusia—melalui Musa, para nabi, para rasul, dan Gereja.

Jadi, Tuhan bukan penyebab ketidakadilan, melainkan penyembuhnya.

3. Lalu Siapa yang Bertanggung Jawab?

a. Individu dengan Kehendak Bebasnya

Setiap tindakan manusia, terutama ketika merugikan sesama, membawa konsekuensi moral. Dalam Yehezkiel 18:20, Tuhan berkata:

“Orang yang berbuat dosa, itu yang harus mati. Anak tidak akan turut menanggung kesalahan ayahnya dan ayah tidak akan turut menanggung kesalahan anaknya. Orang benar akan menerima berkat kebenarannya, dan kefasikan orang fasik akan tertanggung atasnya.”

Artinya, setiap orang bertanggung jawab atas tindakannya sendiri.

Gereja menegaskan hal ini:

“Karena kebebasan. manusia bertanggung jawab atas perbuatannya sejauh ia menghendakinya. Kemajuan dalam kebajikan, pengertian tentang yang baik dan askese menguatkan kekuasaan kehendak atas perbuatan.” (KGK 1734)

Ketidakadilan di keluarga, lingkungan kerja, masyarakat—semuanya bermula dari pilihan pribadi yang tidak selaras dengan kebenaran.

b. Struktur Sosial yang Rusak

Ketidakadilan juga sering bersifat struktural, bukan hanya individu. Paus Yohanes Paulus II menyebutnya sebagai “struktur dosa”, yaitu pola sosial yang memungkinkan ketidakadilan terjadi secara sistemik (Reconciliatio et Paenitentia, no. 16).

Misalnya:

  • praktik korupsi,

  • diskriminasi terhadap kaum kecil,

  • ketimpangan sosial,

  • budaya kekerasan.

Meski demikian, struktur ini juga lahir dari pilihan moral individu sebelumnya. Jadi, tanggung jawab tetap berada pada manusia, baik sebagai pribadi maupun kelompok.

c. Gereja dan Orang Beriman

Umat Kristiani tidak boleh hanya mengeluh soal ketidakadilan; kita dipanggil menjadi bagian dari solusinya.

Mikha 6:8 berkata:

“Yang dituntut Tuhan daripadamu: berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu.”

Dalam ajaran sosial Gereja, setiap orang dipanggil menjadi:

  • promotor keadilan,
  • pembela martabat manusia,
  • pembawa damai,
  • saksi belas kasih.
Dengan kata lain, kita bertanggung jawab menghadirkan keadilan Allah di dunia.

4. Yesus: Wajah Allah yang Adil dan Penanggung Ketidakadilan Manusia

Puncak jawaban atas pertanyaan tentang keadilan adalah Yesus Kristus. Ia datang bukan hanya untuk mengajarkan keadilan, tetapi untuk menanggung ketidakadilan paling besar dalam sejarah—salib.

Yesus tidak melakukan dosa, tetapi Ia dihukum sebagai penjahat (Luk 23:41). Ia mengalami:

  • fitnah,

  • penolakan,

  • pengkhianatan,

  • kekerasan,

  • hukuman mati.

Mengapa Ia mau menanggung ketidakadilan itu?

Untuk menebus dosa manusia dan memenangkan keadilan Allah. Salib menunjukkan bahwa Allah tidak tinggal diam melihat kejahatan; Ia sendiri masuk ke dalam penderitaan manusia.

1 Petrus 2:23 berkata:

“Ketika Ia dicaci maki, Ia tidak membalas dengan mencaci maki; ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam, tetapi Ia menyerahkannya kepada Dia, yang menghakimi dengan adil.”

Yesus menunjukkan bahwa keadilan sejati lahir dari kasih yang rela berkorban, bukan dari balas dendam.

5. Ketika Kita Mengalami Ketidakadilan

Bagaimana orang Katolik harus bersikap ketika diperhadapkan pada situasi tidak adil?

a. Jangan lekas menyalahkan Tuhan

Ingat bahwa Allah ada di pihak orang yang tertindas. Mazmur 34:19 berkata:

“TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya.”

b. Lihat kembali tanggung jawab diri

Apakah saya telah mengambil bagian dalam membiarkan ketidakadilan terjadi?
Apakah saya diam ketika melihat kejahatan?
Apakah saya menyakiti orang lain tanpa sadar?

c. Berani bertindak secara benar

Paus Fransiskus menegaskan dalam Evangelii Gaudium 183 bahwa setiap orang beriman wajib terlibat dalam karya sosial yang memperjuangkan keadilan.

d. Menyerahkan diri pada keadilan Allah

Ada saat ketika kita harus memperjuangkan hak kita. Namun ada pula saat ketika kita tidak mendapat keadilan duniawi—maka kita mempercayakan hidup kepada Tuhan yang mahaadil.

Roma 12:19 berkata:

“Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah, sebab ada tertulis: Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan, firman Tuhan.”

6. Kesimpulan: Siapa yang Bertanggung Jawab?

Dalam iman Katolik, jawaban tentang ketidakadilan bukanlah saling menyalahkan, tetapi bertobat dan bertindak:

  1. Manusia bertanggung jawab atas ketidakadilan melalui kebebasan yang disalahgunakan.

  2. Struktur dosa bertanggung jawab, tetapi itu lahir dari tindakan manusia.

  3. Gereja dan umat beriman bertanggung jawab menjadi pembawa keadilan Allah.

  4. Tuhan tidak menyebabkan ketidakadilan, tetapi Ia turun tangan melalui Kristus untuk menyembuhkannya.

Ketidakadilan dunia ini tidak akan hilang sepenuhnya sampai Kristus datang kembali. Namun sebagai murid Kristus, kita dipanggil untuk memulai dari diri sendiri: bersikap adil, mengasihi, dan membawa terang di tempat yang gelap.

Dengan demikian, kita menyadari bahwa pertanyaan “Siapa yang bertanggung jawab?” tidak ditujukan kepada Tuhan, tetapi kepada kita—manusia yang dipanggil untuk mengusahakan kebaikan dalam kebebasan yang diberikan oleh-Nya.

Sumber

  • Kitab Suci (Kej 3; Kel 3:7-8; Mik 6:8; Maz 34:19; Keb 1:13–2:24; 1 Ptr 2:23; Roma 12:19; Luk 23:41).

  • Katekismus Gereja Katolik (KGK 1734; 1868).

  • Yohanes Paulus II, Reconciliatio et Paenitentia (no. 16).

  • Paus Fransiskus, Evangelii Gaudium (183).

Komentar

Postingan Populer