Tabut Perjanjian: Gambaran Maria sebagai Tabut Baru
Dalam seluruh sejarah keselamatan, Allah selalu memilih dan memakai sarana-sarana manusiawi untuk menyatakan kehadiran-Nya. Salah satu lambang paling agung dalam Perjanjian Lama adalah Tabut Perjanjian, peti suci yang menjadi simbol kehadiran Allah di tengah bangsa Israel. Ketika memasuki Perjanjian Baru, Gereja melihat bahwa seluruh makna tabut itu mencapai kepenuhan dalam diri Maria, Bunda Yesus. Para Bapa Gereja bahkan menyebut Maria sebagai Tabut Perjanjian yang Baru, karena di dalam rahimnyalah Sang Firman Allah berdiam secara nyata.
1. Tabut Perjanjian dalam Perjanjian Lama
Tabut Perjanjian adalah artefak paling suci dalam ibadat Israel. Dalam Ulangan 10:1-11, Musa menerima perintah Tuhan untuk membuat dua loh batu baru dan sebuah tabut kayu akasia sebagai tempat meletakkan loh hukum. Tabut itu menjadi tanda fisik perjanjian antara Allah dan umat-Nya.
Secara tradisional, Tabut Perjanjian memuat tiga hal (bdk. Ibr 9:4):
-
Loh batu Hukum Taurat – Sabda Allah yang tertulis.
-
Manná – makanan yang diturunkan dari surga.
Tongkat Harun – lambang imamat dan kuasa Allah.
Selain fungsinya sebagai wadah, Tabut Perjanjian menandakan kehadiran Allah. Ketika tabut dibawa, umat berseru: “Bangkitlah, TUHAN, supaya musuh-Mu berserak dan orang-orang yang membenci Engkau melarikan diri dari hadapan-Mu.” (Bil 10:35). Tabut menjadi pusat liturgi Israel: diletakkan dalam Kemah Suci, dan kemudian di Bait Suci, pada ruang Mahakudus.
Dengan demikian, tabut bukan sekadar benda, tetapi simbol perjanjian, tempat Sabda, dan tanda kehadiran Allah.
2. Maria sebagai Tabut Perjanjian yang Baru
Ketika Gereja membaca Perjanjian Baru, muncul paralel yang sangat kuat antara tabut dan Maria. Para teolog dan Bapa Gereja melihat bahwa apa yang dulu dilambangkan tabut, kini mencapai penggenapannya dalam diri Maria.
a. Pararel Biblis: Lukas 1 dan 2 Samuel 6
Injil Lukas sarat dengan gambaran yang secara sengaja menggemakan kisah tabut dalam Perjanjian Lama. Bandingan berikut memperlihatkan keindahan paralel tersebut:
| Tabut Perjanjian (2 Sam 6) | Maria, Tabut Baru (Luk 1) |
|---|---|
| Tabut pergi ke daerah Yehuda (2 Sam 6:2) | Maria pergi ke daerah Yehuda (Luk 1:39) |
| Daud berseru: “Bagaimana tabut Tuhan datang kepadaku?” (2 Sam 6:9) | Elisabet berseru: “Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang kepadaku?” (Luk 1:43) |
| Tabut tinggal 3 bulan di rumah Obed-Edom (2 Sam 6:11) | Maria tinggal 3 bulan di rumah Elisabet (Luk 1:56) |
| Daud menari dengan sukacita di hadapan tabut (2 Sam 6:14-16) | Yohanes melonjak kegirangan dalam rahim (Luk 1:44) |
Kesamaan itu bukan kebetulan literer, tetapi pengungkapan teologis bahwa Maria adalah tabut yang sesungguhnya: pembawa hadirat Allah dalam rupa Sang Putra.
b. Isi Tabut Lama vs Tabut Baru
Tabut Lama berisi:
-
Loh Hukum → Dalam Maria: Yesus, Sang Sabda Allah (Yoh 1:14).
-
Maná → Dalam Maria: Yesus, Roti Hidup (Yoh 6:51).
-
Tongkat Harun → Dalam Maria: Yesus, Imam Agung (Ibr 4:14).
Dengan kata lain, apa yang dulu menjadi tanda-tanda simbolis dalam tabut sekarang menjadi kenyataan hidup dalam rahim Maria.
3. Kesaksian Tradisi Gereja
Gereja sejak awal memahami dan mengimani Maria sebagai Tabut Baru. Beberapa kesaksian:
a. Bapa-Bapa Gereja
-
Santo Athanasius (abad ke-4) menyebut Maria sebagai “Tabut Perjanjian, yang diliputi oleh kemurnian bukan oleh emas! Tabut di mana ditemukan bejana emas yang mengandung roti manna yang sesungguhnya, yaitu, daging di mana ke-ilahian tinggal menetap.”
-
Santo Ambrosius menyatakan, “Tabut itu memuat loh-loh Perjanjian, tetapi Maria mengandung Pewaris dari Perjanjian itu sendiri. Tabut yang pertama memuat Hukum Taurat, yang kedua Injil. Tabut yang pertama berisi suara Allah, yang kedua berisi Firman-Nya. Tabut itu memang berkilauan di dalam dan di luar dengan kilauan emas, tetapi Santa Maria bersinar di dalam dan di luar dengan kemegahan keperawanan. Tabut yang pertama dihiasi dengan emas duniawi, yang kedua dengan emas surgawi” (Serm. xlii. 6, Int. Opp., S. Ambrosii) (Santa Perawan, hlm. 77).”
-
Santo Gregorius Thaumaturgus menggambarkan Maria sebagai “Tabut yang disucikan oleh Roh Kudus.” (Orat. in Deip. Annunciat. Int. Op. S. Greg. Thaumaturg) (Perawan Suci, hlm. 89).
b. Katekismus Gereja Katolik
KGK 2676 mengajarkan bahwa Maria disebut “Penuh Rahmat” karena Roh Kudus memenuhi dia dan membuatnya menjadi kediaman Allah. Ini paralel dengan tabut yang dikuduskan dan dipenuhi oleh kemuliaan Tuhan (Kel 40:34).
KGK 721-726 menjelaskan:
Maria adalah “Zion Baru” dan “Tabernakel Allah di antara manusia”.
c. Liturgi Gereja
Dalam Liturgi Timur, antifon memanggil Maria sebagai “Tabut yang berlapis emas oleh Roh Kudus”.
Dalam Litani Santa Perawan Maria, kita menyebutnya:
“Tabut Perjanjian” — gelar resmi Gereja.
4. Tabut Perjanjian dalam Wahyu 11–12
Dalam Wahyu 11:19, Yohanes melihat Tabut Perjanjian di surga:
“Maka terbukalah Bait Suci Allah yang di surga dan kelihatanlah Tabut Perjanjian-Nya di dalam Bait Suci itu”
Segera setelah itu, tanpa jeda pasal, muncul gambaran seorang perempuan berselubungkan matahari (Why 12:1). Dalam tradisi Katolik, ini bukan kebetulan redaksional: “tabut” yang muncul di surga adalah Maria, perempuan yang melahirkan Mesias.
Dengan pengertian simbolis, Wahyu menunjukkan:
Tabut yang hilang secara historis muncul kembali dalam diri Maria di surga.
5. Makna Teologis bagi Gereja
a. Maria sebagai tempat kediaman Allah
Seperti tabut dulu menjadi pusat ibadah dan kehadiran Allah, demikian pula Maria menjadi tempat di mana Allah masuk ke dalam dunia sebagai manusia. Ia adalah “kemah Allah” (bdk. Yoh 1:14, “Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita”).
b. Maria sebagai tanda perjanjian baru
Perjanjian Lama ditandai dengan loh batu; Perjanjian Baru ditandai dengan Sabda yang menjadi manusia dalam rahim Maria. Dengan demikian, Maria adalah tanda perjanjian yang hidup.
c. Maria sebagai teladan kesucian
d. Maria menyertai perjalanan umat
Tabut selalu berada di tengah perjalanan bangsa Israel, menuntun mereka melalui bahaya menuju tanah terjanji. Demikian pula, Gereja percaya bahwa Maria menyertai, membimbing, dan mendoakan umat Allah menuju keselamatan.
6. Relevansi Spiritualitas bagi Umat Beriman Masa Kini
a. Menghargai kehadiran Allah dalam hidup
Jika Maria adalah Tabut Baru karena ia membuka diri secara total kepada Allah, maka umat beriman dipanggil meneladani keterbukaan itu:
-
membuka hati bagi Sabda,
-
membiarkan Roh Kudus bekerja,
-
membawa Kristus ke mana pun kita pergi.
b. Menghormati tubuh sebagai bait Roh Kudus
St. Paulus mengingatkan bahwa tubuh kita adalah bait Roh Kudus (1 Kor 6:19). Maria menunjukkan bagaimana manusia dapat menjadi tempat bersemayamnya belas kasih Allah melalui kesucian hidup dan kesetiaan pada kehendak Tuhan.
c. Menghidupi iman melalui pelayanan
Maria membawa Kristus saat mengunjungi Elisabet, dan kehadirannya menghadirkan sukacita. Gereja dipanggil untuk “membawa Kristus” ke dunia melalui belas kasih, pelayanan, dan kesaksian hidup.
d. Perlindungan Maria
Seperti tabut dulu menjadi pelindung bangsa Israel dalam peperangan rohani, Maria sebagai Tabut Baru tetap menjadi pengantara dan pelindung Gereja, terutama dalam pergumulan moral dan spiritual zaman ini.
Gambaran Maria sebagai Tabut Perjanjian yang Baru bukan sekadar simbol puitis, tetapi kebenaran teologis yang berakar dalam Kitab Suci, tradisi Gereja, liturgi, dan refleksi para kudus. Dalam Maria, kita melihat penggenapan perjanjian Allah: Ia menjadi wadah kehadiran Sabda, Roti Hidup, dan Imam Agung kita, Yesus Kristus.
Dengan meneladani Maria, Gereja dipanggil menjadi tabut rohani yang membawa Kristus ke dunia, menyimpan Sabda-Nya, dan menghadirkan kasih-Nya kepada semua manusia.
Sumber
Kitab Suci
-
Ulangan 10:1–11
-
2 Samuel 6
-
Lukas 1:39–56
-
Ibrani 9:4
-
Wahyu 11–12
-
Yohanes 1:14; 6:51
-
Bilangan 10:35
Magisterium Gereja
-
Katekismus Gereja Katolik 2676, 721–726
-
Litani Santa Perawan Maria (gelar “Tabut Perjanjian”)
Bapa-Bapa Gereja
-
Athanasius dari Aleksandria
-
Ambrosius dari Milan
-
Gregorius Thaumaturgus






Komentar
Posting Komentar