Doaku Seperti Tak Digubris: Di Mana Tuhan?

Merenungkan Mazmur Ratapan dan Iman yang Bertahan dalam Keheningan


“Aku berseru pada-Mu, ya Tuhan, tetapi Engkau tidak menjawab.” Keluhan seperti ini mungkin pernah terucap lirih di kamar doa kita. Ketika masalah keluarga tak kunjung selesai, ketika sakit tak segera sembuh, ketika ekonomi terasa sesak—kita bertanya dalam hati: Di mana Tuhan? Mengapa doaku seperti tak digubris?

Pertanyaan ini bukan tanda kurang iman. Justru Kitab Suci memberi ruang yang luas bagi jeritan hati manusia. Dalam Kitab Mazmur, kita menemukan banyak doa ratapan—doa yang lahir dari penderitaan, kebingungan, bahkan perasaan ditinggalkan.

Jeritan yang Jujur di Hadapan Allah

Salah satu ratapan paling terkenal terdapat dalam Mazmur 22:
“Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku? Aku berseru, tetapi Engkau tetap jauh dan tidak menolong aku.” (Mzm 22:2).

Kata-kata ini begitu kuat hingga dikutip oleh Yesus Kristus di kayu salib (bdk. Mat 27:46). Bahkan Putra Allah pun masuk ke dalam pengalaman manusia yang merasa seolah-olah ditinggalkan. Namun Mazmur 22 tidak berhenti pada keputusasaan. Di bagian akhir, sang pemazmur bersaksi tentang penyelamatan Tuhan. Ratapan berubah menjadi pujian.

Demikian pula dalam Mazmur 13, kita membaca: 

“Berapa lama lagi, TUHAN, Kaulupakan aku terus-menerus? Berapa lama lagi Kausembunyikan wajah-Mu terhadap aku?” (Mzm 13:2).

Empat kali pemazmur bertanya “berapa lama?”—sebuah ungkapan kelelahan batin. Namun mazmur itu ditutup dengan pengakuan iman:
“Tetapi aku percaya kepada kasih setia-Mu.”

Mazmur ratapan mengajarkan bahwa iman bukan berarti tidak pernah bertanya. Iman justru berani membawa pertanyaan itu ke hadapan Tuhan.

Keheningan yang Menguji

Sering kali kita mengira bahwa doa yang baik adalah doa yang segera dijawab. Padahal, dalam dinamika iman, ada masa di mana Tuhan tampak diam. Keheningan ini bisa terasa menyakitkan.

Dalam tradisi Gereja, pengalaman ini dikenal sebagai “malam gelap iman.” Banyak orang kudus mengalaminya. Bukan karena Tuhan jauh, melainkan karena Tuhan sedang memurnikan hati.

Dokumen Konsili Vatikan II, Gaudium et Spes, mengakui bahwa manusia sering bergumul dengan pertanyaan tentang penderitaan dan kehadiran Allah di tengah dunia yang terluka (GS 10). Gereja tidak menutup mata terhadap pergulatan itu. Justru di situlah iman menjadi dewasa.

Keheningan Tuhan bukan berarti ketiadaan-Nya. Dalam Kitab Suci, Allah kerap bekerja dalam diam. Benih bertumbuh di dalam tanah tanpa suara. Ragi mengembangkan adonan secara tersembunyi. Salib tampak seperti kekalahan, tetapi justru menjadi jalan kebangkitan.

Doa yang Mengubah Hati

Ketika kita merasa doa tidak digubris, mungkin yang diubah pertama-tama bukan situasinya, melainkan hati kita. Mazmur ratapan menunjukkan pola yang menarik: dimulai dengan keluhan, dilanjutkan dengan permohonan, dan diakhiri dengan kepercayaan.

Ratapan bukan dosa. Yang berbahaya adalah berhenti berdoa. Ketika kita tetap berseru meski merasa tak didengar, kita sedang memilih untuk tetap percaya.

Katekismus Gereja Katolik menegaskan bahwa doa adalah hubungan hidup anak-anak Allah dengan Bapa-Nya (KGK 2565). Relasi ini tidak selalu manis. Seperti hubungan orang tua dan anak, ada saat di mana anak tidak langsung mendapatkan apa yang diminta. Bukan karena orang tua tidak peduli, tetapi karena ia melihat lebih jauh.

Dalam Mazmur 42, pemazmur berkata:
“Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah!”

Di sini kita melihat dialog batin. Pemazmur berbicara kepada dirinya sendiri, mengingatkan hatinya untuk berharap. Doa ratapan menjadi sarana penyembuhan batin.

Salib sebagai Jawaban Terdalam

Pertanyaan “Di mana Tuhan?” menemukan jawaban terdalam dalam misteri salib. Allah tidak tinggal jauh dari penderitaan manusia. Ia masuk ke dalamnya.

Ketika Yesus Kristus berseru dengan kata-kata Mazmur 22, Ia tidak sekadar mengutip ayat. Ia menghidupi ratapan itu sampai tuntas. Namun kebangkitan menunjukkan bahwa keheningan Jumat Agung bukan akhir cerita.

Bagi orang beriman, jawaban Tuhan sering kali bukan penghapusan penderitaan secara instan, melainkan penyertaan di tengah penderitaan itu. “Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.” (Mzm 23:4).

Tuhan mungkin tidak selalu mengubah situasi kita, tetapi Ia menjanjikan kehadiran-Nya.

Iman yang Bertahan

Iman yang matang bukan iman yang bebas dari krisis, melainkan iman yang bertahan dalam krisis. Ratapan dalam Mazmur mengajarkan bahwa kita boleh datang kepada Tuhan apa adanya—marah, kecewa, lelah—tanpa topeng rohani.

Dalam perjalanan hidup, ada fase di mana doa terasa kering. Tidak ada rasa haru. Tidak ada penghiburan. Namun justru di situlah kasih menjadi murni—kita tetap berdoa bukan karena merasa enak, tetapi karena memilih setia.

Santo Paulus menulis bahwa “pengharapan tidak mengecewakan” (Rm 5:5). Pengharapan bukan optimisme dangkal, melainkan keyakinan bahwa Allah bekerja bahkan ketika kita tidak melihatnya.

Ketika Jawaban Datang dalam Bentuk Lain

Kadang kita menyadari, bertahun-tahun kemudian, bahwa doa yang “tak dijawab” justru menyelamatkan kita dari jalan yang salah. Tuhan melihat keseluruhan hidup kita, sementara kita hanya melihat potongan kecil.

Seorang ibu mungkin berdoa agar anaknya diterima di tempat tertentu, namun gagal. Waktu berlalu, dan ternyata kegagalan itu membuka jalan yang lebih baik. Dalam terang iman, kita belajar percaya bahwa Tuhan tidak pernah lalai.

Mazmur ratapan selalu berakhir dengan nada kepercayaan. Itu bukan kebetulan. Roh Kudus menuntun Gereja untuk menyimpan ratapan dalam Kitab Suci agar kita tahu: Tuhan tidak alergi terhadap tangisan kita.

Penutup: Berani Tetap Berseru

Jika hari ini doa Anda terasa hampa, jangan berhenti. Berserulah seperti pemazmur. Katakan dengan jujur: “Tuhan, aku tidak mengerti.”

Iman bukan soal selalu merasa Tuhan dekat, melainkan tetap percaya meski Ia terasa jauh. Dalam keheningan, Tuhan sedang bekerja—mungkin membentuk kesabaran, mungkin memurnikan motivasi, mungkin menyiapkan sesuatu yang belum kita bayangkan.

Pada akhirnya, setiap ratapan yang dipersembahkan dengan iman akan menemukan jawabannya dalam kasih Allah. Mungkin bukan sesuai waktu dan cara kita, tetapi selalu dalam rencana-Nya yang penuh belas kasih.

Dan ketika kita menoleh ke belakang, kita akan menyadari: Tuhan tidak pernah pergi. Ia hadir dalam air mata, dalam penantian, dan dalam keheningan yang membentuk iman kita menjadi lebih dewasa.


Sumber:

  1. Kitab Mazmur, khususnya Mazmur 13, 22, 42.

  2. Gaudium et Spes, Konsili Vatikan II.

  3. Katekismus Gereja Katolik (KGK 2565–2567).

  4. Alkitab, Injil Matius 27:46; Roma 5:5.

Komentar

Postingan Populer