Allah Telah Bertindak dalam Sejarah Manusia

Refleksi Iman tentang Karya Allah dari Perjanjian Lama hingga Masa Kini

Foto: dok.HerminKris

Dalam iman Kristiani, sejarah manusia bukanlah rangkaian peristiwa yang terjadi secara kebetulan. Gereja Katolik percaya bahwa Allah senantiasa hadir dan bertindak dalam perjalanan sejarah umat manusia. Dari kisah-kisah dalam Kitab Suci hingga pengalaman hidup umat beriman saat ini, kita melihat bahwa Allah terus berkarya untuk menyelamatkan, membimbing, dan menuntun umat-Nya menuju kehidupan yang penuh harapan.

Keyakinan ini merupakan inti dari iman biblis: Allah bukan hanya Tuhan yang jauh di surga, tetapi Tuhan yang masuk ke dalam sejarah manusia.

Allah Berkarya Sejak Awal Penciptaan

Kitab Suci membuka kisah keselamatan dengan tindakan Allah yang menciptakan dunia. Dalam Kitab Kejadian tertulis bahwa Allah menciptakan langit dan bumi serta segala isinya dengan penuh kasih (Kejadian 1–2). Penciptaan ini bukan hanya peristiwa awal, tetapi juga tanda bahwa sejarah manusia dimulai dari kehendak dan rencana Allah.

Namun, manusia jatuh ke dalam dosa melalui ketidaktaatan Adam dan Hawa (Kejadian 3). Meskipun demikian, Allah tidak meninggalkan manusia. Justru sejak saat itu Allah mulai menjalankan rencana keselamatan-Nya. Dalam tradisi Gereja, janji keselamatan pertama, yaitu janji bahwa keturunan perempuan akan meremukkan kepala ular (Kejadian 3:15).

Ini menunjukkan bahwa bahkan di tengah kegagalan manusia, Allah tetap bertindak.

Allah Memanggil dan Membentuk Umat-Nya

Dalam Perjanjian Lama, tindakan Allah semakin nyata melalui panggilan terhadap tokoh-tokoh iman. Salah satu contoh paling jelas adalah panggilan terhadap Abraham. Allah memanggil Abraham untuk meninggalkan tanah kelahirannya dan berjanji bahwa melalui dirinya semua bangsa akan diberkati (Kejadian 12:1–3).

Kisah ini menunjukkan bahwa Allah bekerja melalui manusia dalam sejarah nyata. Abraham bukan tokoh mitologis, melainkan seorang pribadi yang hidup dalam konteks budaya dan masyarakat tertentu. Namun melalui ketaatannya, rencana keselamatan Allah mulai terungkap.

Allah juga bertindak dalam peristiwa pembebasan bangsa Israel dari perbudakan di Mesir. Dalam kitab Keluaran, Allah mendengar jeritan umat-Nya dan mengutus Musa untuk membebaskan mereka (Keluaran 3:7–10). Peristiwa Eksodus ini menjadi salah satu peristiwa paling penting dalam sejarah keselamatan, karena menunjukkan bahwa Allah berpihak pada umat yang tertindas dan berkuasa atas sejarah.

Melalui perjalanan bangsa Israel, Allah juga memberikan hukum, perjanjian, serta para nabi untuk membimbing umat agar tetap setia kepada-Nya.

Puncak Tindakan Allah dalam Yesus Kristus

Seluruh sejarah Perjanjian Lama sebenarnya mengarah pada satu puncak besar: kedatangan Yesus Kristus. Dalam iman Katolik, Yesus bukan hanya seorang nabi atau guru moral, tetapi Sabda Allah yang menjadi manusia.

Injil Yohanes menyatakan:
“Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah… Firman itu telah menjadi manusia dan diam di antara kita,...” (Yohanes 1:1,14)

Dengan menjadi manusia, Allah masuk secara langsung ke dalam sejarah manusia. Ia lahir dalam keluarga sederhana, hidup di tengah masyarakat, mengalami penderitaan, bahkan wafat di kayu salib.

Namun kematian bukanlah akhir dari karya Allah. Kebangkitan Yesus adalah peristiwa yang menegaskan bahwa Allah berkuasa atas dosa dan maut. Dalam kebangkitan ini, sejarah manusia mendapatkan arah baru: keselamatan dan kehidupan kekal.

Katekismus Gereja Katolik mengajarkan bahwa seluruh karya Kristus adalah bagian dari rencana keselamatan Allah yang telah dipersiapkan sejak awal sejarah (KGK 599–605).

Allah Terus Berkarya dalam Gereja

Setelah kebangkitan dan kenaikan Yesus ke surga, karya Allah tidak berhenti. Dalam peristiwa Pentakosta, Roh Kudus dicurahkan kepada para rasul (Kisah Para Rasul 2). Peristiwa ini menandai kelahiran Gereja yang diutus untuk mewartakan Injil ke seluruh dunia.

Sejak saat itu, Gereja menjadi tanda kehadiran Allah dalam sejarah manusia. Melalui pewartaan Injil, pelayanan sakramen, serta karya kasih kepada sesama, Gereja melanjutkan karya keselamatan Kristus.

Konsili Vatikan II menegaskan bahwa Gereja dipanggil untuk membaca “tanda-tanda zaman” dan melihat bagaimana Allah terus bekerja di dalam dunia (Gaudium et Spes, art. 4). Artinya, umat beriman diajak untuk menyadari bahwa karya Allah tidak hanya terjadi pada masa lampau, tetapi juga dalam peristiwa-peristiwa zaman sekarang.

Allah Bekerja dalam Kehidupan Sehari-hari

Sering kali kita berpikir bahwa tindakan Allah hanya terjadi dalam peristiwa besar seperti mukjizat atau kisah-kisah Kitab Suci. Padahal, dalam kehidupan sehari-hari pun Allah terus berkarya.

Ia bekerja melalui perjumpaan dengan sesama, melalui keputusan-keputusan moral yang kita ambil, melalui perjuangan menghadapi penderitaan, bahkan melalui peristiwa-peristiwa kecil yang sering kita anggap biasa.

Dalam tradisi spiritualitas Katolik, kita diajak untuk memiliki kepekaan rohani agar mampu melihat karya Allah dalam hidup kita. Santo Ignatius Loyola, misalnya, mengajarkan latihan rohani yang membantu umat menemukan Allah dalam segala hal (finding God in all things).

Ketika seseorang mengalami pengampunan, pertobatan, atau kekuatan untuk tetap berharap di tengah kesulitan, di situ kita dapat melihat bahwa Allah masih bertindak dalam sejarah manusia.

Harapan bagi Dunia Masa Kini

Dunia modern sering diwarnai oleh konflik, ketidakadilan, perang, dan krisis kemanusiaan. Dalam situasi seperti ini, sebagian orang mungkin bertanya: di manakah Allah?

Iman Kristiani menjawab bahwa Allah tidak pernah meninggalkan dunia. Ia terus bekerja melalui orang-orang yang memperjuangkan keadilan, perdamaian, dan kasih. Setiap tindakan kasih, setiap usaha membangun perdamaian, dan setiap pelayanan kepada yang miskin merupakan bagian dari karya Allah dalam sejarah.

Yesus sendiri berkata:
“Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.” (Matius 25:40)

Dengan demikian, sejarah keselamatan tidak berhenti pada zaman Kitab Suci. Ia terus berlangsung hingga hari ini, dan setiap orang beriman dipanggil untuk mengambil bagian di dalamnya.

Penutup

Allah bukan Tuhan yang diam dan jauh dari kehidupan manusia. Sejak penciptaan dunia, melalui perjalanan bangsa Israel, hingga kedatangan Yesus Kristus dan kehidupan Gereja saat ini, kita melihat bahwa Allah terus bertindak dalam sejarah manusia.

Iman Kristiani mengajak kita untuk membaca perjalanan hidup dengan mata iman: melihat tangan Allah yang bekerja di balik peristiwa-peristiwa kehidupan.

Ketika kita menyadari hal ini, kita tidak lagi memandang sejarah sebagai rangkaian kejadian tanpa makna, melainkan sebagai bagian dari rencana kasih Allah yang terus berjalan menuju keselamatan.

Dan di tengah perjalanan itu, setiap orang beriman dipanggil untuk menjadi saksi bahwa Allah masih berkarya hingga hari ini.


Sumber:

  1. Alkitab: Kejadian 1–3; Kejadian 12:1–3; Keluaran 3:7–10; Yohanes 1:1–14; Matius 25:40.

  2. Katekismus Gereja Katolik (KGK) 599–605 tentang rencana keselamatan Allah.

  3. Dokumen Konsili Vatikan II – Gaudium et Spes artikel 4 tentang membaca tanda-tanda zaman.

  4. Joseph Ratzinger (Paus Benediktus XVI), Introduction to Christianity, Ignatius Press.

  5. Scott Hahn, A Father Who Keeps His Promises, Servant Books.

Komentar

Postingan Populer