Iman yang Nekat atau Iman yang Taat? Belajar dari Kitab Kejadian tentang Abraham
Dalam kehidupan rohani, kita sering mendengar ungkapan: “Harus berani nekat demi Tuhan!” Namun pertanyaannya, apakah iman Kristen adalah iman yang nekat—bertindak tanpa pertimbangan—atau iman yang taat—melangkah karena mendengar dan percaya pada sabda Allah? Untuk menjawabnya, kita belajar dari tokoh besar Perjanjian Lama: Abraham, yang kisahnya terutama terdapat dalam Kitab Kejadian bab 12–22.
1. Panggilan yang Tampak “Nekat”
Dalam Kejadian 12:1-4, Tuhan berfirman kepada Abram (nama awal Abraham): “Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu.” Tidak ada peta, tidak ada jaminan tertulis, tidak ada rincian tujuan. Hanya janji: Tuhan akan menjadikan dia bangsa yang besar dan melalui dia semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat.
Secara manusiawi, keputusan Abram meninggalkan tanah kelahiran dan zona nyamannya di usia sekitar 75 tahun tampak seperti tindakan nekat. Ia meninggalkan stabilitas demi sesuatu yang belum terlihat. Namun jika ditelaah lebih dalam, tindakannya bukanlah kenekatan tanpa dasar. Ia bertindak karena ada sabda Tuhan. Iman Abraham bukan spontanitas emosional, melainkan tanggapan terhadap firman.
Di sinilah perbedaan mendasar antara nekat dan taat. Nekat lahir dari dorongan diri sendiri; taat lahir dari ketaatan pada kehendak Allah.
2. Iman sebagai Ketaatan yang Berproses
Perjalanan Abraham bukan tanpa kegagalan. Dalam Kejadian 16, ketika Sara belum juga melahirkan, Abraham mengikuti usul Sara untuk mendapatkan keturunan melalui Hagar. Di sini tampak sisi manusiawi Abraham: ia mencoba “membantu” Tuhan dengan caranya sendiri. Tindakan ini lebih dekat pada kenekatan manusiawi daripada ketaatan murni. Akibatnya, timbul konflik dalam keluarga.
Namun Allah tetap setia pada janji-Nya. Dalam Kejadian 17, Allah menegaskan kembali perjanjian-Nya dan mengganti nama Abram menjadi Abraham, yang berarti “bapa sejumlah besar bangsa.” Perubahan nama ini menandakan pembaruan identitas dan panggilan.
Gereja Katolik memandang Abraham sebagai model iman. Dalam Katekimus Gereja Katolik (KGK 145-146) ditegaskan bahwa Abraham adalah teladan ketaatan iman, karena ia “taat ketika dipanggil untuk berangkat ke negeri yang akan diterimanya menjadi milik pusakanya.” Ketaatan iman berarti menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah dan menerima kebenaran yang diwahyukan-Nya karena Ia sendiri adalah Kebenaran.
3. Ujian di Gunung Moria: Taat atau Nekat?
Puncak kisah Abraham terdapat dalam Kejadian 22, ketika Allah menguji dia dengan meminta agar Ishak, anak perjanjian itu, dipersembahkan sebagai korban bakaran di Gunung Moria. Secara logika, perintah ini tampak tidak masuk akal. Bukankah Ishak adalah anak janji? Bukankah melalui dia keturunan besar akan lahir?
Jika dilihat sepintas, tindakan Abraham membawa Ishak ke gunung tampak seperti kenekatan ekstrem. Namun teks Kitab Suci menegaskan bahwa ini adalah ujian iman. Abraham tidak bertindak atas dorongan ambisi atau fanatisme buta. Ia bertindak dalam relasi yang mendalam dengan Allah yang telah setia menyertainya selama bertahun-tahun.
Surat kepada orang Ibrani menafsirkan peristiwa ini sebagai iman akan kuasa kebangkitan (Ibr 11:17-19). Abraham percaya bahwa Allah sanggup membangkitkan Ishak sekalipun dari kematian. Jadi, tindakannya bukan nekat tanpa harapan, melainkan taat dalam kepercayaan penuh pada kesetiaan Allah.
Peristiwa ini juga menjadi gambaran profetis tentang pengorbanan Kristus. Ishak yang memikul kayu ke tempat pengorbanan menjadi bayangan Yesus yang memanggul salib-Nya. Dalam terang Perjanjian Baru, iman Abraham mencapai makna yang lebih dalam: ketaatan yang membuka jalan keselamatan.
4. Iman yang Taat dalam Terang Gereja
Dalam dokumen Konsili Vatikan II, Dei Verbum menegaskan bahwa kepada Allah yang mewahyukan, manusia wajib memberikan “ketaatan iman” (DV 5). Artinya, iman bukan sekadar perasaan religius atau keberanian mengambil risiko, melainkan penyerahan diri total kepada Allah yang berbicara.
Sering kali dalam kehidupan sehari-hari, kita menyamakan iman dengan keberanian nekat: resign tanpa pertimbangan matang dengan alasan “percaya Tuhan pasti tolong,” atau mengambil keputusan besar tanpa doa dan diskresi rohani. Padahal iman Katolik selalu menekankan keseimbangan antara rahmat dan akal budi. Allah memberi manusia kemampuan berpikir untuk dipakai dalam terang iman.
Iman yang taat bukan berarti pasif. Abraham tetap berjalan, berkemah, bernegosiasi, bahkan berani berdialog dengan Allah ketika Sodom hendak dimusnahkan (Kej 18). Ia berani bertanya dan memohon, namun tetap rendah hati. Ketaatan bukan kebisuan, melainkan relasi.
5. Relevansi bagi Umat Zaman Ini
Di tengah dunia yang serba cepat dan penuh tekanan, godaan untuk bertindak nekat sangat besar. Media sosial mendorong keputusan instan; opini publik sering mengaburkan suara hati. Dalam konteks ini, belajar dari Abraham berarti belajar membedakan antara dorongan ego dan panggilan Allah.
Iman yang nekat sering kali ingin hasil cepat dan spektakuler. Iman yang taat sabar menunggu waktu Tuhan. Abraham menunggu puluhan tahun untuk kelahiran Ishak. Penantian itu membentuk karakternya. Kesetiaan dalam waktu panjang justru menjadi bukti kedewasaan iman.
Sebagai seorang istri, ibu, atau pelayan Gereja, ketaatan iman bisa terwujud dalam hal-hal sederhana: setia pada doa harian, jujur dalam keuangan, tekun dalam pelayanan meski tak terlihat. Tindakan ini mungkin tidak dramatis, tetapi justru di situlah iman yang taat diuji.
6. Kesimpulan: Nekat karena Taat
Apakah iman Abraham nekat atau taat? Jawabannya: ia tampak nekat di mata manusia, tetapi sejatinya adalah ketaatan radikal kepada Allah. Kenekatan yang lahir dari ego membawa kehancuran; “kenekatan” yang lahir dari ketaatan membawa berkat bagi banyak bangsa.
Iman Katolik mengajak kita bukan untuk sembrono, melainkan untuk mendengarkan, mendiskresi, dan kemudian melangkah dengan percaya. Seperti Abraham, kita dipanggil untuk keluar dari “tanah kelahiran” kenyamanan kita menuju kedewasaan rohani.
Akhirnya, iman yang sejati bukan soal berani mengambil risiko demi sensasi rohani, tetapi berani mempercayakan hidup sepenuhnya kepada Allah yang setia. Dan dalam ketaatan itulah, kita menemukan bahwa apa yang tampak nekat di mata dunia, ternyata adalah jalan keselamatan dalam rencana Tuhan.
Sumber:
-
Kitab Kejadian 12–22.
-
Katekimus Gereja Katolik, artikel 145–146.
-
Dei Verbum, art. 5.
-
Alkitab, Ibrani 11:17–19.






Komentar
Posting Komentar