Ketika Pesawat Mengudara: Belajar Percaya pada Penyelenggaraan Tuhan

Di banyak bandara di dunia, ada satu momen yang selalu menimbulkan rasa takjub: ketika pesawat raksasa mulai bergerak di landasan, mempercepat laju, lalu perlahan terangkat meninggalkan bumi. Bagi sebagian orang, momen itu juga memunculkan rasa khawatir. Kita berada di ketinggian ribuan meter, bergantung pada mesin, teknologi, dan keahlian manusia.

Namun bagi orang beriman, pengalaman naik pesawat bisa menjadi sebuah pelajaran rohani tentang kepercayaan kepada Tuhan. Ketika pesawat mengudara, kita diajak merenungkan penyelenggaraan Ilahi—bahwa hidup manusia berada dalam tangan Allah yang memelihara dan menuntun segala sesuatu.

1. Hidup Tidak Selalu Kita Kendalikan

Saat pesawat lepas landas, penumpang tidak memegang kendali. Kita tidak mengendalikan mesin, arah angin, atau jalur penerbangan. Semua diserahkan kepada pilot dan sistem navigasi.

Pengalaman ini sebenarnya mirip dengan kehidupan manusia.

Kita sering berpikir bahwa kita dapat mengendalikan semuanya: masa depan, kesehatan, pekerjaan, bahkan kehidupan orang-orang yang kita cintai. Tetapi kenyataannya, hidup penuh ketidakpastian. Ada badai kehidupan, ada turbulensi, ada perubahan arah yang tidak kita rencanakan.

Dalam iman Kristiani, kita belajar bahwa di balik semua itu ada penyelenggaraan Allah. Dalam teologi, penyelenggaraan Ilahi (Divine Providence) berarti bahwa Allah memelihara, menopang, dan menuntun seluruh ciptaan menuju tujuan akhirnya.

Artinya, hidup manusia tidak berjalan secara kebetulan semata. Ada rencana kasih Tuhan yang bekerja, bahkan ketika manusia tidak sepenuhnya memahaminya.

2. Kepercayaan yang Tidak Selalu Terlihat

Ketika kita duduk di dalam pesawat, kita tidak melihat pilot secara langsung. Kita juga tidak melihat bagaimana radar bekerja atau bagaimana jalur udara diatur. Namun kita percaya bahwa semuanya berjalan sebagaimana mestinya.

Iman kepada Tuhan juga sering seperti itu.

Allah tidak selalu tampak secara langsung. Kita tidak selalu mengerti mengapa suatu peristiwa terjadi. Tetapi iman mengajarkan bahwa Tuhan tetap bekerja dalam kehidupan manusia.

Kitab Suci penuh dengan kisah seperti ini. Misalnya kisah Yusuf di Mesir (Kejadian 37–50). Yusuf dijual oleh saudara-saudaranya sebagai budak. Secara manusiawi, hidupnya tampak hancur. Tetapi pada akhirnya, melalui serangkaian peristiwa yang tampak kebetulan, Yusuf menjadi pemimpin di Mesir dan menyelamatkan banyak orang dari kelaparan.

Di akhir kisah itu Yusuf berkata kepada saudara-saudaranya:

“Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar.” (Kejadian 50:20)

Kisah ini menunjukkan bagaimana Tuhan bekerja melalui peristiwa hidup, bahkan melalui penderitaan.

3. Turbulensi Kehidupan

Siapa pun yang pernah naik pesawat mungkin pernah merasakan turbulensi. Pesawat tiba-tiba berguncang karena arus udara yang tidak stabil. Penumpang menjadi tegang, bahkan takut.

Namun pilot biasanya tetap tenang. Ia mengetahui bahwa turbulensi adalah bagian normal dari penerbangan.

Dalam kehidupan rohani, turbulensi juga ada. Kita mengalami kegagalan, sakit, konflik keluarga, atau ketidakpastian masa depan.

Sering kali kita bertanya:

  • Mengapa Tuhan membiarkan ini terjadi?

  • Di mana Tuhan ketika hidup terasa sulit?

Doktrin penyelenggaraan Ilahi mengajarkan bahwa Tuhan tidak meninggalkan ciptaan-Nya. Ia tetap memelihara dunia dan menuntun manusia menuju tujuan yang lebih besar.

Artinya, bahkan dalam penderitaan, Tuhan masih bekerja.

Yesus sendiri mengingatkan murid-murid-Nya:

“Bukankah burung pipit dijual dua ekor seduit? Namun seekorpun dari padanya tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu.”
(Matius 10:29)

Jika burung kecil saja diperhatikan oleh Tuhan, apalagi manusia yang diciptakan menurut gambar-Nya.

4. Manusia Tetap Harus Berperan

Namun percaya pada penyelenggaraan Tuhan bukan berarti pasif.

Dalam iman Katolik, Allah memang memimpin dunia, tetapi Ia juga mengundang manusia untuk bekerja sama dengan-Nya. Manusia diberi kebebasan dan martabat untuk bertindak serta saling membantu satu sama lain.

Hal ini mirip dengan penerbangan pesawat.

Pilot mengendalikan pesawat, tetapi keberhasilan penerbangan juga bergantung pada banyak orang:

  • teknisi yang memeriksa mesin,

  • petugas bandara,

  • pengatur lalu lintas udara,

  • bahkan kru kabin.

Demikian juga dalam kehidupan iman. Tuhan berkarya melalui manusia.

Ketika seseorang menolong orang miskin, ketika dokter menyembuhkan pasien, ketika orang tua membesarkan anak dengan kasih, di situ penyelenggaraan Tuhan bekerja melalui manusia.

5. Belajar Berserah

Salah satu pengalaman rohani terbesar ketika naik pesawat adalah berserah.

Setelah pesawat mengudara, kita tidak bisa turun di tengah jalan. Kita harus mempercayakan perjalanan itu sampai tujuan.

Iman kepada Tuhan juga membutuhkan sikap yang sama.

Banyak santo dan santa Gereja hidup dengan kepercayaan mendalam pada penyelenggaraan Tuhan. Salah satu contohnya adalah Santa Theresia dari Lisieux yang mengatakan bahwa hidupnya seperti anak kecil yang percaya penuh pada kasih Bapa.

Sikap ini bukanlah sikap pasrah tanpa usaha, melainkan kepercayaan yang penuh harapan.

Santo Paulus menulis:

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.”
(Roma 8:28)

Ayat ini menjadi pengingat bahwa bahkan peristiwa yang sulit dapat menjadi bagian dari rencana keselamatan Tuhan.

6. Tujuan Akhir Perjalanan

Setiap penerbangan memiliki tujuan. Pesawat tidak hanya terbang tanpa arah; ia menuju kota atau negara tertentu.

Begitu pula dengan kehidupan manusia.

Menurut iman Kristiani, hidup manusia tidak berakhir di dunia ini. Tuhan menuntun manusia menuju tujuan terakhir yaitu persekutuan kekal dengan-Nya.

Penyelenggaraan Ilahi berarti bahwa seluruh sejarah—baik pribadi maupun dunia—bergerak menuju tujuan tersebut.

Kadang kita tidak melihat gambaran besarnya. Kita hanya melihat sebagian kecil perjalanan. Tetapi Tuhan melihat keseluruhannya.

Penutup

Ketika pesawat mengudara, manusia menyadari betapa kecil dirinya di tengah luasnya langit. Namun justru di sanalah kita dapat belajar sesuatu yang sangat dalam tentang iman.

Hidup ini seperti perjalanan udara:

  • ada lepas landas,

  • ada turbulensi,

  • ada perubahan arah,

  • dan akhirnya ada tujuan.

Di balik semua itu, orang beriman percaya bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan perjalanan hidup manusia.

Seperti seorang pilot yang menuntun pesawat menuju bandara tujuan, demikian pula Tuhan menuntun hidup kita melalui penyelenggaraan-Nya.

Karena itu, setiap kali kita melihat pesawat terbang di langit, mungkin kita dapat berdoa dalam hati:

“Ya Tuhan, seperti pesawat yang Engkau izinkan terbang tinggi di udara, tuntunlah juga hidupku. Ajarlah aku percaya pada penyelenggaraan-Mu, bahkan ketika aku tidak memahami jalan yang harus kulalui.”

Dan dalam iman, kita yakin bahwa perjalanan hidup ini akhirnya akan sampai pada tujuan yang telah disiapkan Tuhan bagi kita.


Sumber

  1. Katekismus Gereja Katolik tentang Penyelenggaraan Ilahi.

  2. “Divine Providence” – konsep teologi tentang pemeliharaan dan bimbingan Allah atas ciptaan.

  3.  Kitab Suci: Kejadian 50:20; Matius 10:29; Roma 8:28.

Komentar

Postingan Populer