Saat Banyak yang Ramai-Ramai Mundur: Kesetiaan Orang Beriman di Tengah Goncangan

Foto: dok.herminkris

Dalam perjalanan hidup, ada masa ketika banyak orang memilih mundur. Mundur dari tanggung jawab, mundur dari perjuangan, bahkan mundur dari iman. Situasi seperti ini sering terjadi ketika dunia dipenuhi ketidakpastian, konflik, fitnah, atau tekanan sosial. Ketika banyak orang memilih pergi, pertanyaan bagi orang beriman adalah: apakah kita juga akan mundur, atau tetap setia berjalan bersama Tuhan?

Ini sebenarnya bukan hal baru dalam sejarah keselamatan. Sejak zaman Kitab Suci, umat Allah sering menghadapi momen ketika banyak orang meninggalkan jalan Tuhan. Namun di saat yang sama, selalu ada orang-orang yang tetap setia.

1. Ketika Banyak Murid Mundur dari Yesus

Salah satu kisah paling kuat terdapat dalam Injil Yohanes 6:66-69. Setelah Yesus mengajarkan tentang diri-Nya sebagai Roti Hidup, banyak orang merasa ajaran itu terlalu sulit diterima. Injil mencatat:

“Mulai dari waktu itu banyak murid-murid-Nya mengundurkan diri dan tidak lagi mengikut Dia.” (Yoh 6:66)

Kata-kata Yesus tentang makan tubuh-Nya dan minum darah-Nya dianggap sulit dipahami oleh banyak orang. Akibatnya, banyak pengikut-Nya memilih mundur.

Namun Yesus kemudian bertanya kepada dua belas rasul:

“Apakah kamu tidak mau pergi juga?” (Yoh 6:67)

Pertanyaan ini sangat tajam. Yesus tidak memaksa siapa pun untuk tinggal. Ia memberi kebebasan bagi setiap orang untuk memilih.

Lalu Petrus menjawab:

“Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal.” (Yoh 6:68)

Jawaban Petrus menunjukkan sikap iman yang matang. Ia tidak berkata bahwa semuanya mudah atau semuanya dipahami. Ia hanya tahu satu hal: tanpa Tuhan, tidak ada tempat lain yang memberi hidup sejati.

2. Fenomena “Mundur” dalam Kehidupan Iman

Dalam kehidupan Gereja masa kini, fenomena “mundur” juga sering terlihat. Ada orang yang dulu aktif di lingkungan, pelayanan, atau komunitas Gereja, tetapi kemudian menjauh. Ada yang berhenti karena kecewa dengan sesama umat. Ada yang lelah karena konflik. Ada pula yang terpengaruh arus dunia yang semakin sekuler.

Dokumen Konsili Vatikan II, Gaudium et Spes, mengingatkan bahwa manusia modern sering menghadapi krisis iman di tengah perubahan zaman:

“Saat ini, umat manusia sedang memasuki tahap sejarah baru. Perubahan mendalam dan cepat menyebar secara bertahap ke seluruh dunia. Dipicu oleh kecerdasan dan energi kreatif manusia, perubahan-perubahan ini berdampak padanya, pada keputusan dan keinginannya, baik individu maupun kolektif, dan pada cara berpikir dan bertindaknya terhadap segala sesuatu dan orang-orang. Oleh karena itu, kita sudah dapat berbicara tentang transformasi budaya dan sosial yang sejati, yang juga berdampak pada kehidupan keagamaan manusia.... Dipengaruhi oleh berbagai kompleksitas tersebut, banyak dari orang-orang sezaman kita terhalang untuk secara akurat mengidentifikasi nilai-nilai permanen dan menyesuaikannya dengan penemuan-penemuan baru. Akibatnya, terombang-ambing antara harapan dan kecemasan, dan saling menekan dengan pertanyaan tentang jalannya peristiwa saat ini, mereka dibebani oleh kegelisahan. Jalannya peristiwa yang sama inilah yang mendorong manusia untuk mencari jawaban; bahkan, memaksa mereka untuk melakukannya.” (GS 4)

Kebingungan ini sering membuat orang kehilangan arah. Ketika iman tidak lagi dirawat, maka mundur dari kehidupan rohani menjadi pilihan yang tampak mudah.

Namun Gereja mengingatkan bahwa iman bukanlah sekadar perasaan yang naik turun. Iman adalah relasi setia dengan Allah, bahkan ketika keadaan tidak nyaman.

3. Kesetiaan di Tengah Kecilnya Jumlah

Dalam sejarah keselamatan, Allah sering bekerja melalui kelompok kecil yang tetap setia. Nabi Elia pernah merasa bahwa ia satu-satunya orang yang masih setia kepada Tuhan. Namun Tuhan menjawab bahwa masih ada tujuh ribu orang yang tidak menyembah Baal (1Raj 19:18).

Artinya, dalam situasi apa pun, Tuhan selalu menjaga umat yang setia.

Hal ini juga terlihat dalam sejarah Gereja. Banyak masa sulit yang dialami umat Kristen: penganiayaan, konflik politik, bahkan krisis internal. Namun Gereja tetap bertahan selama dua ribu tahun karena ada orang-orang yang memilih tetap tinggal bersama Kristus.

Yesus sendiri pernah berkata:

“Tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat.” (Mat 24:13)

Kesetiaan sering kali lebih penting daripada popularitas. Gereja tidak diukur dari berapa banyak orang yang datang ketika keadaan mudah, tetapi dari berapa banyak yang tetap setia ketika keadaan sulit.

4. Godaan untuk Mundur

Ada beberapa godaan yang sering membuat orang beriman mundur.

Pertama, kekecewaan terhadap manusia.
Kadang orang meninggalkan Gereja karena terluka oleh sesama umat atau pemimpin. Padahal Gereja terdiri dari manusia yang tidak sempurna.

Paus Benediktus XVI pernah mengatakan bahwa Gereja adalah “perahu dengan para pendosa yang dipanggil menuju kekudusan.” Artinya, Gereja bukan kumpulan orang sempurna, tetapi komunitas yang terus bertobat.

Kedua, tekanan budaya modern.
Di banyak tempat, iman sering dianggap tidak penting. Orang lebih mengutamakan materi, karier, atau popularitas.

Paus Fransiskus dalam Evangelii Gaudium mengingatkan:

“Kita juga menginjili ketika kita mencoba menghadapi berbagai tantangan yang dapat muncul. Kadang-kadang tantangan ini dapat berupa serangan nyata terhadap kebebasan beragama atau penganiayaan baru yang ditujukan kepada orang Kristen; di beberapa negara, hal ini telah mencapai tingkat kebencian dan kekerasan yang mengkhawatirkan. Di banyak tempat, masalahnya lebih berupa ketidakpedulian dan relativisme yang meluas, yang terkait dengan kekecewaan dan krisis ideologi yang muncul sebagai reaksi terhadap apa pun yang mungkin tampak totaliter. Hal ini tidak hanya merugikan Gereja tetapi juga tatanan masyarakat secara keseluruhan. Kita harus menyadari bagaimana dalam budaya di mana setiap orang ingin menjadi pembawa kebenaran subjektifnya sendiri, menjadi sulit bagi warga negara untuk merancang rencana bersama yang melampaui keuntungan individu dan ambisi pribadi.” (EG 61)

Tekanan seperti ini membuat sebagian orang merasa lebih mudah untuk menjauh dari kehidupan rohani.

Ketiga, iman yang tidak diperdalam.
Iman yang hanya diwarisi tanpa dipahami mudah goyah ketika diuji.

Karena itu Gereja selalu mendorong umat untuk membaca Kitab Suci, mengikuti katekese, dan terlibat dalam kehidupan komunitas.

5. Pilihan untuk Tetap Tinggal

Di tengah situasi ketika banyak orang mundur, panggilan orang Kristen justru adalah tetap tinggal bersama Kristus.

Yesus pernah berkata:

“Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu.” (Yoh 15:4)

“Tinggal” berarti bertahan dalam relasi dengan Tuhan, meskipun hidup tidak selalu mudah.

Kesetiaan ini bisa diwujudkan dalam hal-hal sederhana:

  • tetap berdoa setiap hari

  • tetap menghadiri Ekaristi

  • tetap melayani di lingkungan atau paroki

  • tetap mengasihi sesama

Sering kali kesetiaan kecil inilah yang menjadi kesaksian iman paling kuat.

6. Gereja yang Tetap Berjalan

Ketika banyak orang mundur, Gereja tetap dipanggil untuk berjalan. Gereja bukan sekadar organisasi manusia, tetapi Tubuh Kristus yang dipimpin oleh Roh Kudus.

Yesus sendiri menjanjikan:

“Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Mat 28:20)

Janji ini memberi harapan bahwa Gereja tidak akan ditinggalkan oleh Tuhan.

Sejarah menunjukkan bahwa iman Kristen selalu melewati badai. Namun justru dalam badai itulah iman dimurnikan.

Penutup

Saat banyak orang ramai-ramai mundur, orang beriman dihadapkan pada pilihan yang sama seperti para rasul dahulu: pergi atau tetap tinggal bersama Yesus.

Jawaban Petrus tetap relevan hingga hari ini:

“Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal.” (Yoh 6:68)

Kesetiaan kepada Tuhan tidak selalu mudah, tetapi di situlah letak kekuatan iman. Ketika dunia berubah, ketika orang lain pergi, dan ketika keadaan tidak pasti, orang beriman tetap percaya bahwa Tuhan adalah sumber hidup sejati.

Dan justru dalam kesetiaan kecil itulah Gereja terus hidup dan bertumbuh dari generasi ke generasi.


Sumber:

  1. Kitab Suci: Yohanes 6:66–69; Yohanes 15:4; Matius 24:13; Matius 28:20; 1 Raja-raja 19:18.

  2. Konsili Vatikan II, Gaudium et Spes (1965).

  3. Paus Fransiskus, Evangelii Gaudium (2013).

  4. Katekismus Gereja Katolik (KGK) tentang iman dan kesetiaan umat.

Komentar

Postingan Populer