Ziarah ke Assisi: Menyusuri Jejak Kesederhanaan Santo Fransiskus
![]() |
| Basilika Santo Fransiskus di Assisi |
Ziarah merupakan salah satu praktik rohani yang telah lama hidup dalam tradisi Gereja Katolik. Melalui ziarah, umat beriman meninggalkan rutinitas sehari-hari untuk berjalan menuju tempat yang dianggap suci, dengan tujuan memperdalam iman dan mengalami perjumpaan yang lebih dekat dengan Tuhan. Salah satu tujuan ziarah yang sangat terkenal di dunia Katolik adalah kota Assisi, sebuah kota kecil di wilayah Umbria yang dikenal sebagai tempat kelahiran Santo Fransiskus dari Assisi dan Santa Klara dari Assisi. Kota ini menjadi simbol kehidupan Injili yang sederhana, penuh kasih, dan dekat dengan ciptaan Tuhan.
Assisi: Kota yang Penuh Spiritualitas
Assisi terletak di lereng Gunung Subasio di Italia tengah. Kota ini bukan sekadar tujuan wisata, melainkan tempat yang sarat dengan sejarah spiritual. Ribuan peziarah dari berbagai negara datang setiap tahun untuk berdoa, merenung, dan mengikuti jejak kehidupan Santo Fransiskus yang radikal dalam menghidupi Injil.
Tempat ziarah paling terkenal di Assisi adalah Basilika Santo Fransiskus. Basilika ini dibangun pada abad ke-13 tak lama setelah wafatnya Santo Fransiskus pada tahun 1226. Di dalamnya tersimpan makam santo tersebut. Dinding basilika dihiasi lukisan fresco yang menggambarkan perjalanan hidup Santo Fransiskus, banyak di antaranya dilukis oleh seniman terkenal seperti Giotto di Bondone.
Ketika peziarah memasuki basilika ini, suasana doa dan keheningan terasa sangat kuat. Banyak orang berlutut di dekat makam Santo Fransiskus, memohon rahmat kerendahan hati, kedamaian, dan semangat pelayanan kepada sesama.
Selain itu, peziarah juga sering mengunjungi Basilika Santa Klara yang menyimpan relikui Santa Klara, sahabat rohani Santo Fransiskus dan pendiri Ordo Klaris. Di basilika ini tersimpan pula salib San Damiano yang menurut tradisi Yesus berbicara kepada Santo Fransiskus saat ia berdoa di hadapannya dan memanggilnya untuk “memperbaiki Gereja-Ku”.
Santo Fransiskus: Inspirasi Bagi Dunia
Ziarah ke Assisi tidak bisa dilepaskan dari sosok Santo Fransiskus sendiri. Ia lahir sekitar tahun 1181 dari keluarga pedagang kaya. Namun setelah mengalami pertobatan rohani yang mendalam, ia memilih hidup miskin, meninggalkan kekayaan, dan mengikuti Kristus secara total.
Santo Fransiskus dikenal sebagai santo yang mencintai alam dan semua makhluk hidup. Ia melihat ciptaan sebagai saudara dan saudari yang memuji Tuhan bersama manusia. Dalam doanya yang terkenal, ia menyebut “Saudara Matahari” dan “Saudari Bulan”. Spiritualitas ini kemudian sangat memengaruhi pandangan Gereja tentang hubungan manusia dengan lingkungan hidup.
Warisan spiritual Santo Fransiskus sangat kuat hingga saat ini. Bahkan Paus modern mengambil inspirasi darinya. Paus Fransiskus memilih nama kepausannya sebagai penghormatan kepada Santo Fransiskus, sebagai tanda komitmen terhadap Gereja yang sederhana, peduli kepada orang miskin, dan menjaga ciptaan.
Dalam ensiklik Laudato Si’, Paus Fransiskus menyebut Santo Fransiskus sebagai teladan dalam merawat rumah bersama, yakni bumi. Ia menulis bahwa Santo Fransiskus adalah “contoh unggul kepedulian terhadap yang lemah dan ekologi integral”.
Ziarah sebagai Perjalanan Batin
Bagi umat Katolik, ziarah bukan hanya perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan batin. Ketika seseorang berjalan di jalan-jalan batu Assisi, mengunjungi kapel-kapel kecil, atau berdoa di tempat Santo Fransiskus pernah hidup, peziarah diajak untuk merenungkan kembali panggilan hidupnya.
Salah satu tempat yang sangat menyentuh adalah Kapel Porziuncola. Kapel kecil ini berada di dalam kompleks Basilika Santa Maria degli Angeli. Di tempat inilah Santo Fransiskus memulai gerakan persaudaraan yang kemudian berkembang menjadi Ordo Fransiskan.
Kapel ini juga menjadi tempat Santo Fransiskus wafat pada tahun 1226. Banyak peziarah merasa tersentuh ketika menyadari bahwa gerakan besar dalam Gereja bermula dari tempat yang sangat sederhana.
Ziarah ke Assisi mengajarkan bahwa kesucian tidak selalu lahir dari kemegahan, tetapi justru dari kesederhanaan dan kesetiaan kecil sehari-hari.
Pesan Assisi bagi Dunia Modern
Di tengah dunia modern yang sering dipenuhi persaingan, materialisme, dan individualisme, pesan dari Assisi terasa semakin relevan. Santo Fransiskus mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati tidak ditemukan dalam kekayaan atau kekuasaan, melainkan dalam relasi yang benar dengan Tuhan, sesama, dan alam.
Assisi juga dikenal sebagai kota perdamaian. Banyak pertemuan dialog antaragama diadakan di sana. Salah satu yang terkenal adalah pertemuan doa perdamaian dunia yang diprakarsai oleh Paus Yohanes Paulus II pada tahun 1986. Para pemimpin agama dari seluruh dunia berkumpul di Assisi untuk berdoa bagi perdamaian umat manusia.
Hal ini menunjukkan bahwa spiritualitas Santo Fransiskus melampaui batas agama dan budaya. Ia menjadi simbol universal tentang damai, persaudaraan, dan kasih.
Ziarah yang Mengubah Hati
Banyak orang yang kembali dari ziarah ke Assisi dengan hati yang diperbarui. Mereka tidak hanya membawa foto atau kenangan perjalanan, tetapi juga semangat baru untuk hidup lebih sederhana, lebih peduli kepada sesama, dan lebih dekat dengan Tuhan.
Ziarah ini mengingatkan bahwa setiap orang dipanggil untuk menjadi pembawa damai di dunia. Seperti doa yang sering dikaitkan dengan Santo Fransiskus:
Tuhan, jadikanlah aku pembawa damai-Mu.
Bila terjadi kebencian,
Jadikanlah aku pembawa cinta kasih;
Bila terjadi penghinaan,
Jadikanlah aku pembawa pengampunan;
Bila terjadi perselisihan,
Jadikanlah aku pembawa kerukunan;
Bila terjadi kebimbangan,
Jadikanlah aku pembawa kepastian;
Bila terjadi kesesatan,
Jadikanlah aku pembawa kebenaran;
Bila terjadi kecemasan,
Jadikanlah aku pembawa harapan;
Bila terjadi kesedihan,
Jadikanlah aku pembawa kegembiraan;
Bila terjadi kegelapan,
Jadikanlah aku pembawa terang.
Tuhan, semoga aku lebih ingin menghibur daripada dihibur,
memahami daripada dipahami,
mencintai daripada dicintai.
Sebab dengan memberi, aku menerima;
dengan mengampuni, aku diampuni;
dengan mati suci aku bangkit lagi untuk hidup selama-lamanya.
Amin.
Akhirnya, ziarah ke Assisi bukan hanya perjalanan menuju sebuah kota di Italia, tetapi perjalanan menuju hati Injil itu sendiri: hidup sederhana, mencintai Tuhan, dan melayani sesama.
Sumber
-
Catechism of the Catholic Church, tentang makna ziarah dan devosi dalam kehidupan iman.
-
Francis of Assisi: A New Biography.
-
Laudato Si’ oleh Paus Fransiskus (2015).
-
Order of Friars Minor – sejarah dan spiritualitas Fransiskan.
-
Situs resmi ziarah Basilika Santo Fransiskus.






Komentar
Posting Komentar