Paskah: Apa yang Dimakan dan Diminum Yesus saat Perjamuan Terakhir?
Perayaan Paskah dalam iman Katolik tidak dapat dilepaskan dari peristiwa agung yang terjadi pada malam sebelum sengsara Yesus Kristus, yakni Perjamuan Terakhir. Dalam momen ini, Yesus tidak hanya makan bersama para murid-Nya, tetapi juga menetapkan Ekaristi sebagai sakramen yang menjadi pusat kehidupan Gereja. Pertanyaan yang sering muncul adalah: apa sebenarnya yang dimakan dan diminum Yesus saat Perjamuan Terakhir? Untuk menjawabnya, kita perlu melihat konteks historis, tradisi Yahudi, serta makna teologisnya.
1. Konteks Perjamuan Paskah Yahudi
Perjamuan Terakhir berlangsung dalam konteks perayaan Paskah Yahudi (Pesakh). Paskah Yahudi adalah peringatan pembebasan bangsa Israel dari perbudakan di Mesir (lih. Kel 12). Dalam tradisi ini, keluarga Yahudi berkumpul untuk makan bersama dengan hidangan khusus yang sarat makna simbolis.
Beberapa unsur utama dalam perjamuan Paskah Yahudi antara lain:
- Roti tak beragi (matzah)
- Domba Paskah
- Sayur pahit (maror)
- Anggur
Maka, sangat mungkin bahwa Yesus dan para murid-Nya juga mengonsumsi makanan-makanan tersebut dalam Perjamuan Terakhir.
2. Roti: Simbol Tubuh Kristus
Injil mencatat bahwa Yesus mengambil roti, mengucap syukur, memecah-mecahkannya, dan memberikannya kepada murid-murid-Nya sambil berkata:
“Ambillah, makanlah, inilah tubuh-Ku.” (Mat 26:26)
Roti yang digunakan kemungkinan besar adalah roti tak beragi, sesuai dengan tradisi Paskah Yahudi. Roti ini melambangkan kemurnian dan kesederhanaan, karena dibuat tanpa ragi.
Namun, dalam tindakan Yesus, makna roti berubah secara radikal. Roti tidak lagi sekadar makanan, tetapi menjadi Tubuh Kristus. Di sinilah Yesus menetapkan Sakramen Ekaristi, yang terus dirayakan dalam Gereja hingga kini.
Dalam Alkitab, khususnya dalam Injil Sinoptik (Matius, Markus, Lukas), tindakan ini menjadi pusat narasi Perjamuan Terakhir. Gereja Katolik memahami bahwa roti yang dikonsekrasi dalam Misa sungguh menjadi Tubuh Kristus (transubstansiasi).
3. Anggur: Darah Perjanjian Baru
Selain roti, Yesus juga mengambil cawan berisi anggur dan berkata:
“Minumlah, kamu semua, dari cawan ini. Sebab inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa.” (Mat 26:27-28)
Anggur dalam perjamuan Paskah Yahudi biasanya diminum dalam beberapa tahap, sebagai bagian dari ritus peringatan pembebasan. Namun, sekali lagi, Yesus memberi makna baru: anggur menjadi Darah-Nya sendiri, yang akan dicurahkan di salib.
Dengan demikian, anggur bukan hanya simbol sukacita atau perayaan, tetapi menjadi tanda pengorbanan dan penebusan. Ini menggenapi nubuat tentang hamba Tuhan yang menderita (Yes 53).
4. Domba Paskah: Penggenapan dalam Diri Kristus
Dalam tradisi Yahudi, domba Paskah adalah bagian penting dari perjamuan. Domba ini melambangkan korban yang darahnya menyelamatkan bangsa Israel dari malaikat maut.
Namun menariknya, dalam Injil Yohanes, penekanan justru bukan pada domba yang dimakan, tetapi pada Yesus sendiri sebagai Anak Domba Allah (Yoh 1:29). Dengan kata lain, Yesus tidak hanya makan domba Paskah—Ia sendiri adalah Domba Paskah yang sejati.
Santo Paulus menegaskan hal ini:
“Buanglah ragi yang lama itu, supaya kamu menjadi adonan yang baru, sebab kamu memang tidak beragi. Sebab Anak Domba Paskah kita juga telah disembelih, yaitu Kristus.” (1Kor 5:7)
Maka, makna perjamuan berubah total: dari sekadar mengenang pembebasan dari Mesir, menjadi perayaan pembebasan dari dosa melalui pengorbanan Kristus.
5. Makna Teologis: Dari Makanan Biasa Menjadi Sakramen
Apa yang dimakan dan diminum Yesus pada malam itu sebenarnya sederhana: roti dan anggur, sebagaimana tradisi Yahudi. Namun melalui sabda dan tindakan-Nya, Yesus mengubah makna keduanya secara mendalam.
Roti menjadi Tubuh-Nya.
Anggur menjadi Darah-Nya.
Peristiwa ini menjadi dasar Sakramen Ekaristi, yang dalam Gereja Katolik dipahami sebagai:
- Kehadiran nyata Kristus (real presence)
- Kenangan akan sengsara, wafat, dan kebangkitan-Nya
- Sumber dan puncak kehidupan iman (lih. Konsili Vatikan II, Lumen Gentium 11)
6. Relevansi bagi Umat Katolik Masa Kini
Setiap kali umat Katolik merayakan Misa Kudus, kita sebenarnya menghadiri kembali Perjamuan Terakhir secara sakramental. Apa yang dilakukan Yesus pada malam itu terus dihidupkan kembali melalui imam yang bertindak in persona Christi.
Maka, pertanyaan “apa yang dimakan dan diminum Yesus?” bukan hanya soal sejarah, tetapi juga menyentuh kehidupan iman kita sekarang. Kita pun dipanggil untuk:
- Menyambut Tubuh dan Darah Kristus dengan iman
- Hidup dalam kasih dan pengorbanan
- Menjadi “roti yang dipecah-pecahkan” bagi sesama
7. Dimensi Paskah: Dari Perjamuan ke Salib dan Kebangkitan
Perjamuan Terakhir tidak bisa dipisahkan dari peristiwa Paskah secara keseluruhan. Apa yang dimulai di ruang perjamuan mencapai puncaknya di salib dan menemukan kepenuhannya dalam kebangkitan.
Roti yang dipecah-pecahkan menunjuk pada tubuh Yesus yang disalibkan.
Anggur yang dicurahkan menunjuk pada darah-Nya yang tertumpah.
Namun semuanya tidak berakhir dalam kematian. Paskah adalah kemenangan hidup atas maut.
Penutup
Jadi, apa yang dimakan dan diminum Yesus saat Perjamuan Terakhir? Secara historis, Ia makan roti tak beragi dan kemungkinan domba Paskah, serta minum anggur sesuai tradisi Yahudi. Namun secara iman, Ia memberikan sesuatu yang jauh lebih besar: Tubuh dan Darah-Nya sendiri sebagai santapan rohani bagi dunia.
Perjamuan itu bukan sekadar makan malam biasa, melainkan awal dari misteri Ekaristi yang terus kita rayakan. Dalam setiap Misa, kita diundang untuk masuk ke dalam kasih pengorbanan Kristus, yang mencapai puncaknya dalam Paskah.
Dengan demikian, Paskah bukan hanya tentang apa yang dimakan dan diminum Yesus, tetapi tentang bagaimana Ia memberikan diri-Nya sepenuhnya demi keselamatan kita.
Sumber:
-
Alkitab:
- Matius 26:26–29
- Markus 14:22–25
- Lukas 22:14–20
- 1 Korintus 11:23–26
- Katekismus Gereja Katolik (KGK) 1322–1419 (tentang Ekaristi)
- Konsili Vatikan II, Lumen Gentium 11
- Paus Benediktus XVI, Jesus of Nazareth: Holy Week (refleksi teologis tentang Perjamuan Terakhir)






Komentar
Posting Komentar