Perjalanan Misi: Dari Pafos ke Perga di Pamfilia
Perjalanan misi Gereja perdana merupakan salah satu bagian paling dinamis dalam sejarah keselamatan. Dalam Kitab Kisah Para Rasul, kita menemukan kisah perjalanan pertama Rasul Paulus bersama Barnabas dan Yohanes Markus. Salah satu momen penting terjadi ketika mereka meninggalkan Pafos dan berlayar menuju Perga. Perjalanan ini bukan sekadar perpindahan geografis, tetapi sebuah perjalanan iman yang penuh dinamika, tantangan, dan pembelajaran rohani.
1. Latar Belakang Perjalanan Misi
Perjalanan ini terjadi dalam konteks misi pertama Paulus, yang dimulai dari Antiokhia Siria. Gereja perdana, yang digerakkan oleh Roh Kudus, mengutus Paulus dan Barnabas untuk mewartakan Injil kepada bangsa-bangsa. Setelah melayani di pulau Siprus, khususnya di Pafos, mereka mengalami keberhasilan besar ketika seorang pejabat Romawi menjadi percaya.
Namun, keberhasilan ini tidak membuat perjalanan menjadi mudah. Justru setelah Pafos, mereka memasuki tahap baru yang lebih menantang, baik secara geografis maupun spiritual.
2. Dari Pafos ke Perga: Perjalanan yang Penuh Risiko
Kitab Suci mencatat: “Lalu Paulus dan kawan-kawannya meninggalkan Pafos dan berlayar ke Perga di Pamfilia; tetapi Yohanes meninggalkan mereka lalu kembali ke Yerusalem” (Kis 13:13).
Wilayah Pamfilia merupakan daerah pesisir di Asia Kecil (sekarang Turki selatan), yang memiliki kondisi alam yang cukup keras dan beragam. Daerah ini dikenal panas di pesisir, namun semakin ke pedalaman terdapat pegunungan yang sulit dilalui. Bahkan, jalur menuju wilayah berikutnya terkenal berbahaya karena perampok.
Perjalanan dari Pafos ke Perga kemungkinan dilakukan melalui laut menuju pelabuhan, lalu dilanjutkan perjalanan darat. Ini menunjukkan bahwa misi Gereja sejak awal sudah melibatkan keberanian menghadapi risiko nyata: perjalanan panjang, kondisi alam yang berat, dan ancaman keselamatan.
3. Kepergian Yohanes Markus: Dinamika dalam Pelayanan
Salah satu peristiwa penting dalam perjalanan ini adalah keputusan Yohanes Markus untuk kembali ke Yerusalem.
Alkitab tidak secara eksplisit menjelaskan alasan kepergiannya. Namun, peristiwa ini menunjukkan bahwa pelayanan tidak selalu berjalan mulus. Bahkan dalam tim misioner, bisa terjadi perbedaan kesiapan, ketahanan, atau panggilan.
Dalam terang iman Katolik, peristiwa ini mengajarkan bahwa Gereja bukan kumpulan orang sempurna, melainkan komunitas peziarah yang terus belajar setia. Kegagalan atau mundurnya seseorang bukan akhir dari karya Allah. Dalam perjalanan selanjutnya, Yohanes Markus justru dipulihkan dan kembali berperan penting dalam Gereja.
4. Kesetiaan Paulus dan Barnabas
Berbeda dengan Yohanes Markus, Paulus dan Barnabas tetap melanjutkan perjalanan mereka. Dari Perga, mereka bergerak menuju Antiokhia di Pisidia untuk mewartakan Injil di rumah ibadat.
Kesetiaan ini menjadi teladan penting. Mereka tidak berhenti karena tantangan, tidak mundur karena kehilangan rekan, dan tidak takut menghadapi wilayah baru. Mereka percaya bahwa misi adalah karya Allah, bukan sekadar usaha manusia.
Dalam perspektif spiritualitas Katolik, hal ini mencerminkan keutamaan ketekunan (perseverantia). Seorang murid Kristus dipanggil untuk tetap setia, bahkan ketika situasi tidak ideal.
5. Makna Teologis Perjalanan Ini
Perjalanan dari Pafos ke Perga mengandung makna teologis yang mendalam:
a. Gereja sebagai Gereja yang Diutus
Sejak awal, Gereja tidak tinggal diam. Ia bergerak keluar, menyeberangi batas geografis dan budaya. Ini sesuai dengan amanat Kristus untuk mewartakan Injil ke seluruh dunia.
b. Misi dalam Kerapuhan Manusia
Kepergian Yohanes Markus menunjukkan bahwa misi dijalankan oleh manusia yang terbatas. Namun, justru dalam keterbatasan itu, rahmat Allah bekerja.
c. Allah Berkarya Melalui Perjalanan
Perjalanan fisik mencerminkan perjalanan rohani. Setiap langkah membawa pertumbuhan iman, baik melalui keberhasilan maupun kesulitan.
d. Injil untuk Semua Bangsa
Pamfilia adalah wilayah campuran budaya dan etnis. Kehadiran Paulus di sana menandakan bahwa Injil tidak terbatas pada satu bangsa, tetapi terbuka bagi semua.
6. Relevansi bagi Umat Katolik Masa Kini
Perjalanan ini sangat relevan bagi kehidupan umat Katolik saat ini.
Pertama, kita dipanggil untuk menjadi “Gereja yang keluar” (missionary Church), seperti yang ditekankan oleh Paus Fransiskus. Iman tidak boleh hanya tinggal dalam ruang pribadi, tetapi harus diwujudkan dalam kesaksian nyata di tengah dunia.
Kedua, kita perlu menerima bahwa dalam pelayanan akan selalu ada dinamika: perbedaan, kegagalan, bahkan kekecewaan. Namun, semua itu bukan alasan untuk berhenti.
Ketiga, perjalanan iman sering kali tidak nyaman. Seperti Paulus yang harus menempuh wilayah berbahaya, kita pun dipanggil keluar dari zona nyaman untuk mengikuti Kristus.
7. Spiritualitas Peziarahan
Perjalanan Paulus dari Pafos ke Perga juga dapat dilihat sebagai simbol spiritualitas peziarahan. Hidup Kristiani adalah perjalanan menuju Allah. Dalam perjalanan itu, kita mengalami:
- Keberhasilan (seperti di Pafos)
- Tantangan (seperti medan Pamfilia)
- Kehilangan (seperti kepergian Markus)
- Kesetiaan (seperti Paulus dan Barnabas)
Semua pengalaman ini membentuk kedewasaan iman.
8. Penutup
Perjalanan misi dari Pafos ke Perga di Pamfilia adalah kisah singkat namun kaya makna dalam Kitab Kisah Para Rasul. Di dalamnya kita melihat keberanian, kerapuhan, kesetiaan, dan karya Allah yang terus berjalan meskipun ada hambatan.
Sebagai umat Katolik, kita diajak untuk meneladani semangat para rasul: berani melangkah, setia dalam panggilan, dan percaya bahwa Allah selalu menyertai perjalanan hidup kita.
Seperti Paulus dan Barnabas, kita pun dipanggil untuk terus berjalan—meskipun jalan itu tidak selalu mudah—karena di setiap langkah, Tuhan berkarya dan membuka jalan keselamatan bagi banyak orang.
Sumber:
- Alkitab, Kisah Para Rasul 13:13–14
- Informasi perjalanan misi Paulus
- Latar geografis Pamfilia
- Tafsiran dan konteks lokasi Alkitab






Komentar
Posting Komentar