Binatang “Haram” dan “Tidak Haram” dalam Kitab Kejadian: Makna Kekudusan dan Ketaatan kepada Allah
Dalam Kitab Kejadian, khususnya ketika Allah memerintahkan Nuh memasukkan binatang ke dalam bahtera, terdapat istilah yang menarik perhatian banyak orang beriman. Firman Tuhan berkata:
“Dari segala binatang yang tidak haram haruslah kauambil tujuh pasang, jantan dan betinanya, tetapi dari binatang yang haram satu pasang, jantan dan betinanya.”
— Kejadian 7:2
Banyak orang bertanya: mengapa sejak zaman Nuh sudah ada pembagian antara binatang “haram” dan “tidak haram”, padahal hukum Taurat yang mengatur makanan baru diberikan kemudian kepada Musa? Apa makna rohani dari perbedaan ini bagi umat Katolik saat ini?
Mari memahami bahwa pembagian tersebut bukan sekadar soal makanan, melainkan berkaitan dengan kekudusan, persembahan kepada Allah, dan panggilan manusia untuk hidup taat kepada kehendak-Nya.
1. Allah Sudah Mengajarkan Kekudusan Sejak Awal
Dalam bahasa Ibrani, istilah yang dipakai adalah “tahir” (bersih/tidak haram) dan “tame” (najis/haram). Dalam tradisi Perjanjian Lama, binatang yang “tidak haram” dianggap layak dipakai untuk kurban dan ibadat kepada Allah.
Mengapa Nuh harus membawa tujuh pasang binatang yang tidak haram? Karena setelah air bah surut, Nuh mempersembahkan korban syukur kepada Tuhan:
“Lalu Nuh mendirikan mezbah bagi TUHAN; dari segala binatang yang tidak haram dan dari segala burung yang tidak haram diambilnyalah beberapa ekor, lalu ia mempersembahkan korban bakaran di atas mezbah itu.”
— Kejadian 8:20
Dari sini terlihat bahwa Allah sudah menanamkan kesadaran tentang kekudusan jauh sebelum hukum Musa diberikan. Allah menghendaki agar manusia memahami bahwa tidak semua hal diperlakukan sama dalam ibadah. Ada yang dikhususkan bagi Tuhan.
Dalam iman Katolik, prinsip ini masih hidup hingga sekarang. Gereja mengajarkan bahwa hidup manusia dipanggil untuk kudus. Tidak semua tindakan membawa manusia kepada Allah. Ada pilihan-pilihan yang memurnikan hati, tetapi ada pula yang menjauhkan manusia dari kekudusan.
2. Binatang Haram Bukan Berarti Jahat
Sering kali orang salah paham dengan istilah “haram” atau “najis.” Binatang najis bukan berarti binatang itu jahat atau ciptaan yang dibenci Allah. Dalam Kitab Kejadian justru ditegaskan bahwa semua ciptaan Allah itu baik:
“Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik.”
— Kejadian 1:31
Jadi, pembagian ini lebih berkaitan dengan fungsi simbolis dan liturgis. Binatang tertentu dipilih untuk kurban, sedangkan yang lain tidak. Dalam budaya Israel kuno, aturan tersebut juga membantu umat belajar tentang disiplin rohani dan identitas sebagai bangsa pilihan Allah.
Gereja Katolik memahami bahwa hukum-hukum ritual Perjanjian Lama merupakan persiapan menuju kedatangan Kristus. Ketika Yesus datang, fokus utama tidak lagi pada makanan lahiriah, melainkan pada kemurnian hati.
Yesus berkata:
“Dengar dan camkanlah: bukan yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan orang, melainkan yang keluar dari mulut, itulah yang menajiskan orang.”
— Matius 15:11
Dengan demikian, Yesus mengarahkan perhatian manusia kepada dosa, kebencian, keserakahan, iri hati, dan kejahatan batin sebagai sesuatu yang benar-benar menajiskan jiwa.
3. Ketaatan Nuh Menjadi Teladan Iman
Hal yang paling penting dalam kisah ini sebenarnya bukan soal jenis binatang, melainkan ketaatan Nuh. Alkitab berkali-kali menegaskan:
“Lalu Nuh melakukan semuanya itu; tepat seperti yang diperintahkan Allah kepadanya, demikianlah dilakukannya.”
— Kejadian 6:22
Nuh taat meskipun mungkin ia tidak sepenuhnya memahami alasan semua perintah Tuhan. Ia percaya bahwa kehendak Allah selalu membawa keselamatan.
Dalam kehidupan modern, manusia sering ingin memahami segalanya terlebih dahulu sebelum taat kepada Tuhan. Namun iman kadang menuntut kepercayaan lebih dahulu. Banyak ajaran Gereja tentang kasih, pengampunan, kesetiaan, kesucian hidup, dan pengorbanan terasa sulit bagi dunia modern. Tetapi orang beriman dipanggil untuk tetap percaya bahwa jalan Tuhan adalah jalan kehidupan.
Ketaatan Nuh juga mengingatkan umat Katolik untuk menjaga hati dari “kenajisan rohani.” Dosa dapat membuat manusia kehilangan relasi dengan Allah. Karena itu Gereja menyediakan Sakramen Tobat sebagai sarana pemurnian dan pembaruan hidup.
4. Dari Hukum Lahiriah Menuju Kemurnian Hati
Perjanjian Lama banyak berbicara tentang aturan lahiriah: makanan, kurban, dan tata ibadah. Namun semua itu mengarah kepada pembaruan hati yang sempurna dalam Kristus.
Dalam Gereja Katolik, kekudusan bukan terutama soal aturan makanan, melainkan hidup yang dipenuhi kasih Allah. Santo Paulus berkata:
“Kerajaan Allah bukan soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus.” — Roma 14:17
Karena itu, umat Katolik tidak lagi terikat pada hukum makanan Yahudi seperti dalam Perjanjian Lama. Namun semangat dasarnya tetap penting: manusia dipanggil untuk hidup kudus dan membedakan yang baik dari yang jahat.
Di zaman sekarang, “najis” dapat hadir dalam bentuk lain: kebencian, pornografi, korupsi, fitnah, kekerasan verbal, gaya hidup egois, atau ketidakpedulian terhadap sesama. Semua itu dapat mengotori hati manusia lebih daripada makanan apa pun.
Sebaliknya, hati yang bersih adalah hati yang penuh kasih, pengampunan, doa, dan kerendahan hati.
Penutup
Penyebutan binatang “haram” dan “tidak haram” dalam Kitab Kejadian bukan sekadar aturan kuno tentang makanan. Hal itu mengajarkan tentang kekudusan, persembahan kepada Allah, dan pentingnya ketaatan.
Melalui kisah Nuh, umat Katolik diajak menyadari bahwa Allah menghendaki hati yang bersih dan hidup yang taat. Yesus sendiri menyempurnakan hukum lama dengan mengajarkan bahwa kemurnian sejati berasal dari hati yang dipenuhi kasih dan kebenaran.
Di tengah dunia modern yang sering mengaburkan batas antara baik dan jahat, umat beriman dipanggil untuk tetap hidup kudus, menjaga hati, dan berjalan bersama Tuhan. Seperti Nuh yang tetap setia di tengah dunia yang rusak, demikian pula orang Kristen dipanggil menjadi saksi iman dan pembawa harapan bagi dunia.
Sumber:
- Kejadian 6–8
- Katekismus Gereja Katolik (KGK) 1094, 1219
- Paus Fransiskus, Laudato Si’
- Kitab Imamat 11 tentang binatang tahir dan najis
- Injil Matius 15:11
- Roma 14:17
- 1 Petrus 3:20-21






Komentar
Posting Komentar