Mengapa Kita Merindukan Kebaikan?
![]() |
| Foto: herminkris |
Setiap manusia, tanpa terkecuali, memiliki kerinduan akan kebaikan. Kita ingin diperlakukan dengan baik, bertemu orang-orang yang tulus, dan hidup dalam dunia yang damai. Bahkan di tengah kenyataan hidup yang sering diwarnai konflik, ketidakadilan, dan luka, kerinduan itu tidak pernah padam. Pertanyaannya: mengapa kita merindukan kebaikan? Dari mana asal kerinduan itu? Iman Katolik memberikan jawaban yang mendalam dan penuh harapan.
1. Kebaikan sebagai Jejak Allah dalam Diri Manusia
Dalam iman Katolik, manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (bdk. Kitab Kejadian 1:27). Allah sendiri adalah sumber segala kebaikan. Oleh karena itu, ketika manusia merindukan kebaikan, sesungguhnya ia sedang merindukan Allah. Kerinduan ini bukan sekadar perasaan emosional, tetapi merupakan panggilan terdalam dari jiwa manusia.
Santo Agustinus pernah berkata: “Hati kami gelisah sampai beristirahat dalam Engkau, ya Tuhan.” Ungkapan ini menegaskan bahwa manusia tidak akan pernah puas dengan hal-hal duniawi semata. Kebaikan yang kita cari di dunia hanyalah bayangan dari kebaikan sejati yang berasal dari Allah.
Dengan kata lain, kerinduan akan kebaikan adalah tanda bahwa kita diciptakan untuk sesuatu yang lebih besar dari sekadar hidup biasa—kita diciptakan untuk hidup dalam kasih Allah.
2. Luka Dosa yang Membuat Kita Haus Akan Kebaikan
Namun, jika kita diciptakan baik, mengapa dunia ini penuh dengan kejahatan? Jawabannya terletak pada realitas dosa. Sejak kejatuhan manusia pertama (bdk. Kitab Kejadian 3), dunia mengalami kerusakan moral. Hubungan manusia dengan Allah, sesama, dan dirinya sendiri menjadi terluka.
Akibatnya, kita hidup dalam ketegangan: kita tahu apa itu kebaikan, kita merindukannya, tetapi sering gagal melakukannya. Santo Paulus menggambarkan hal ini dengan sangat jujur: “Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat” (bdk. Surat Roma 7:19).
Justru karena dunia ini tidak sempurna, kerinduan akan kebaikan menjadi semakin kuat. Kita merasakan kekosongan ketika kebaikan tidak hadir, dan itu mendorong kita untuk mencarinya.
3. Kebaikan sebagai Jalan Keselamatan
Dalam iman Katolik, kebaikan bukan sekadar pilihan moral, tetapi bagian dari jalan keselamatan. Yesus Kristus sendiri mengajarkan: “Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan” (bdk. Injil Matius 5:6).
Kerinduan akan kebaikan adalah tanda bahwa kita sedang bergerak menuju Allah. Setiap tindakan kasih, sekecil apa pun, adalah langkah menuju kekudusan. Gereja mengajarkan bahwa manusia dipanggil untuk hidup dalam kasih (bdk. Katekismus 1822–1829).
Dengan demikian, kerinduan akan kebaikan bukan hanya perasaan, tetapi juga panggilan untuk bertindak. Kita tidak hanya menunggu kebaikan datang, tetapi juga dipanggil untuk menjadi sumber kebaikan bagi orang lain.
4. Pengalaman Hidup yang Membentuk Kerinduan
Sering kali, kerinduan akan kebaikan muncul dari pengalaman hidup yang nyata. Ketika kita disakiti, kita semakin menghargai kelembutan. Ketika kita mengalami ketidakadilan, kita semakin merindukan keadilan. Luka-luka hidup justru membuka mata kita akan pentingnya kebaikan.
Dalam hal ini, penderitaan tidak selalu menjadi sesuatu yang sia-sia. Dalam terang iman, penderitaan dapat menjadi jalan pemurnian. Yesus Kristus sendiri menunjukkan bahwa melalui salib, kasih Allah dinyatakan secara paling nyata.
Oleh karena itu, kerinduan akan kebaikan sering kali lahir dari pergumulan. Semakin kita merasakan dunia yang tidak sempurna, semakin kita mendambakan dunia yang dipenuhi kasih.
5. Roh Kudus yang Menggerakkan Hati
Dalam iman Katolik, kerinduan akan kebaikan juga merupakan karya Roh Kudus dalam diri manusia. Roh Kudus menuntun hati kita untuk mengenali dan mencintai yang baik. Buah-buah Roh Kudus seperti kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan (bdk. Surat Galatia 5:22) adalah tanda kehadiran Allah dalam hidup kita.
Tanpa bantuan rahmat Allah, manusia sulit untuk hidup dalam kebaikan sejati. Namun dengan pertolongan Roh Kudus, kita dimampukan untuk mengasihi, bahkan ketika itu sulit.
Kerinduan akan kebaikan, dengan demikian, bukan hanya berasal dari diri kita sendiri, tetapi juga merupakan dorongan ilahi yang mengajak kita untuk hidup lebih baik.
6. Kebaikan yang Menular
Salah satu hal yang menarik adalah bahwa kebaikan memiliki daya menular. Ketika seseorang berbuat baik, orang lain terdorong untuk melakukan hal yang sama. Sebaliknya, kejahatan juga bisa menyebar.
Inilah sebabnya mengapa Yesus Kristus mengajak kita untuk menjadi “garam dan terang dunia” (bdk. Injil Matius 5:13-14). Dunia membutuhkan orang-orang yang tidak hanya merindukan kebaikan, tetapi juga mewujudkannya.
Ketika kita hidup dalam kebaikan, kita tidak hanya memenuhi kerinduan pribadi, tetapi juga menjadi jawaban bagi kerinduan orang lain.
7. Kebaikan sebagai Gambaran Surga
Akhirnya, kerinduan akan kebaikan mengarah pada tujuan akhir hidup manusia: persatuan dengan Allah di surga. Surga adalah tempat di mana kebaikan sempurna terwujud. Tidak ada lagi kejahatan, penderitaan, atau air mata (bdk. Kitab Wahyu 21:4).
Setiap kebaikan yang kita alami di dunia ini hanyalah secercah dari kebahagiaan abadi yang menanti kita. Oleh karena itu, kerinduan akan kebaikan juga merupakan kerinduan akan kehidupan kekal.
Penutup
Mengapa kita merindukan kebaikan? Karena kita diciptakan oleh Allah yang baik, hidup dalam dunia yang terluka oleh dosa, dan dipanggil untuk kembali kepada-Nya. Kerinduan itu adalah suara hati yang mengingatkan kita akan asal dan tujuan hidup kita.
Daripada sekadar menunggu kebaikan datang, iman Katolik mengajak kita untuk menjadi pelaku kebaikan. Dalam setiap kata yang lembut, tindakan yang tulus, dan pengampunan yang diberikan, kita menghadirkan Allah di tengah dunia.
Dan mungkin, di situlah jawaban terdalamnya: kita merindukan kebaikan karena kita dipanggil untuk menjadi kebaikan itu sendiri.
Sumber:
-
Alkitab
- Kejadian 1–3
- Matius 5:6, 5:13-14
- Roma 7:19
- Galatia 5:22
- Wahyu 21:4
- Katekismus Gereja Katolik (KGK 1822–1829 tentang kasih)
- Santo Agustinus, Confessiones
- Ajaran Gereja Katolik tentang rahmat dan keselamatan






Komentar
Posting Komentar