Mengapa Orang Katolik Tidak Menyembah Berhala
![]() |
| Foto: herminkris |
Banyak orang memiliki anggapan bahwa umat Katolik menyembah berhala karena adanya patung Yesus, Bunda Maria, dan para santo-santa di gereja. Ada pula yang menilai bahwa penghormatan kepada salib, gambar kudus, atau relikui sama dengan penyembahan terhadap benda mati. Tuduhan ini sebenarnya muncul karena kurangnya pemahaman mengenai ajaran Gereja Katolik tentang penyembahan dan penghormatan. Gereja Katolik sejak awal dengan tegas menolak penyembahan berhala dan hanya menyembah Allah Tritunggal: Bapa, Putra, dan Roh Kudus.
Allah Melarang Penyembahan Berhala
Dalam Kitab Suci, Allah dengan jelas melarang umat-Nya menyembah ilah lain ataupun benda ciptaan manusia. Dalam Sepuluh Perintah Allah tertulis:
“Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku. Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi. Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku”
(Keluaran 20:3-5)
Gereja Katolik sepenuhnya menerima perintah ini. Umat Katolik percaya bahwa hanya Allah yang layak disembah. Penyembahan kepada selain Allah merupakan dosa besar karena menempatkan ciptaan di posisi Sang Pencipta.
Katekismus Gereja Katolik menjelaskan:
“Pemujaan berhala tidak hanya ditemukan dalam upacara palsu di dunia kafir. Ia juga merupakan satu godaan yang terus-menerus bagi umat beriman. Pemujaan berhala itu ada, apabila manusia menghormati dan menyembah suatu hal tercipta sebagai pengganti Allah, apakah itu dewa-dewa atau setan-setan (umpamanya satanisme) atau kekuasaan kenikmatan, bangsa, nenek moyang, negara, uang, atau hal-hal semacam itu. "Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon" demikian kata Yesus (Mat 6:24). Banyak martir yang meninggal karena mereka tidak menyembah "binatang" (Bdk Whyl3-l4.); malahan mereka juga menolak menyembahnya, walaupun hanya dengan berpura-pura saja. Pemujaan berhala tidak menghargai Allah sebagai Tuhan yang satu-satunya; dengan demikian ia mengeluarkan orang dari persekutuan dengan Allah (Bdk Gal 5:20; Ef 5:5).”
(KGK 2113)
Berhala tidak selalu berbentuk patung. Uang, kekuasaan, popularitas, bahkan diri sendiri dapat menjadi “berhala” jika lebih diutamakan daripada Allah.
Perbedaan Menyembah dan Menghormati
Kesalahpahaman terbesar tentang Katolik adalah tidak dibedakannya antara “menyembah” dan “menghormati.” Dalam ajaran Gereja, penyembahan hanya diberikan kepada Allah. Dalam bahasa teologi disebut latria. Sedangkan penghormatan kepada para kudus disebut dulia, dan penghormatan khusus kepada Bunda Maria disebut hyperdulia. Semua penghormatan itu berbeda mutlak dari penyembahan kepada Allah.
Ketika umat Katolik berlutut di depan patung atau mencium salib, mereka tidak menyembah kayu, batu, atau logamnya. Sikap itu merupakan ungkapan hormat kepada pribadi yang dilambangkan. Sama seperti seseorang mencium foto orang tua yang telah meninggal; yang dikasihi bukan kertas fotonya, melainkan pribadi yang diingat melalui gambar tersebut.
Mengapa Ada Patung dan Gambar Kudus?
Dalam Perjanjian Lama sendiri, Allah pernah memerintahkan pembuatan benda-benda kudus tertentu. Misalnya:
- Kerubim pada Tabut Perjanjian (Keluaran 25:18-20)
- Ular tembaga yang dibuat Musa (Bilangan 21:8-9)
- Hiasan ukiran di Bait Allah (1 Raja-raja 6)
Ini menunjukkan bahwa larangan Allah bukan terhadap seni atau patung itu sendiri, melainkan terhadap penyembahan kepada patung sebagai allah.
Patung dan gambar dalam Gereja Katolik dipakai sebagai sarana membantu umat mengingat karya Allah dan teladan hidup orang kudus. Banyak orang sederhana pada zaman dahulu tidak dapat membaca Kitab Suci, sehingga lukisan dan patung menjadi “Kitab Suci visual” yang membantu pengajaran iman.
Yesus Menjadi Manusia
Salah satu alasan penting Gereja Katolik menggunakan gambar kudus adalah karena Allah sendiri telah menjadi manusia dalam diri Yesus Kristus. Injil Yohanes berkata:
“Firman itu telah menjadi manusia dan diam di antara kita...”
(Yohanes 1:14)
Karena Allah sungguh hadir dalam rupa manusia, maka menggambarkan Yesus bukanlah dosa. Gereja Perdana memahami bahwa inkarnasi Kristus membuka kemungkinan penggunaan seni religius untuk membantu umat merenungkan misteri keselamatan.
Konsili Nicea II tahun 787 menegaskan bahwa penghormatan terhadap ikon dan gambar kudus diperbolehkan, selama tidak disembah sebagai Allah.
Penghormatan kepada Maria dan Para Kudus
Umat Katolik juga sering disalahpahami ketika memohon doa kepada Bunda Maria dan para santo-santa. Gereja tidak mengajarkan bahwa Maria atau para kudus adalah allah. Mereka hanyalah manusia yang diselamatkan oleh rahmat Tuhan dan menjadi teladan iman.
Ketika umat Katolik berkata, “Santa Maria, doakanlah kami,” itu mirip seperti meminta teman mendoakan kita. Bedanya, para kudus dipercaya sudah bersatu dengan Allah di surga.
Kitab Wahyu menggambarkan para kudus di surga mempersembahkan doa umat kepada Allah:
“Ketika Ia mengambil gulungan kitab itu, tersungkurlah keempat makhluk dan kedua puluh empat tua-tua itu di hadapan Anak Domba itu, masing-masing memegang satu kecapi dan satu cawan emas, penuh dengan kemenyan: itulah doa orang-orang kudus.”
(Wahyu 5:8)
Jadi fokus utama tetap Allah, bukan para kudus.
Ekaristi Bukan Penyembahan Berhala
Ada juga yang salah mengerti mengenai adorasi Ekaristi. Gereja Katolik percaya bahwa Yesus sungguh hadir dalam Ekaristi berdasarkan sabda-Nya sendiri:
“Lalu Ia mengambil roti, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka, kata-Nya: ”Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku.” ”
(Lukas 22:19)
Karena yang hadir adalah Kristus sendiri, maka penyembahan kepada Ekaristi bukan penyembahan benda, melainkan penyembahan kepada Yesus yang hadir secara nyata dalam Sakramen Mahakudus.
Bahaya Berhala Modern
Walaupun umat Katolik tidak menyembah patung, Gereja tetap mengingatkan bahwa berhala modern sangat berbahaya. Banyak orang mungkin tidak memiliki patung dewa, tetapi hidupnya dikuasai oleh:
- uang,
- teknologi,
- jabatan,
- kecanduan,
- popularitas,
- atau kesenangan duniawi.
Paus Fransiskus pernah mengingatkan bahwa dunia modern sering menjadikan uang sebagai “allah baru.” Ketika hati manusia lebih melekat pada dunia daripada Tuhan, di situlah penyembahan berhala terjadi.
Karena itu, setiap orang Katolik dipanggil untuk memeriksa hati nuraninya: apakah Allah sungguh menjadi pusat hidupnya?
Gereja Katolik Mengajarkan Penyembahan Hanya kepada Allah
Dalam setiap Misa Kudus, doa-doa Gereja selalu diarahkan kepada Allah Bapa melalui Yesus Kristus dalam Roh Kudus. Pengakuan iman Nicea-Konstantinopel juga menegaskan iman kepada satu Allah.
Gereja Katolik selama dua ribu tahun mempertahankan ajaran monoteisme yang sama seperti para rasul. Jika ada umat yang secara pribadi memiliki pemahaman keliru terhadap benda-benda religius, itu bukan ajaran resmi Gereja.
Patung, rosario, salib, atau gambar kudus hanyalah sarana membantu doa dan pengingat akan kasih Allah. Semua itu tidak pernah menggantikan posisi Tuhan.
Penutup
Orang Katolik tidak menyembah berhala karena Gereja dengan tegas mengajarkan bahwa hanya Allah Tritunggal yang layak disembah. Patung dan gambar kudus bukanlah ilah, melainkan sarana visual untuk membantu umat mengingat Kristus dan para teladan iman. Penghormatan kepada Maria dan para kudus juga bukan penyembahan, melainkan ungkapan kasih dan permohonan doa.
Yesus sendiri mengajarkan:
“Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!”
(Matius 4:10)
Karena itu, inti iman Katolik bukanlah penyembahan benda, melainkan hubungan kasih dengan Allah yang hidup. Umat Katolik dipanggil untuk menjauhkan diri dari segala bentuk berhala, baik yang terlihat maupun yang tersembunyi di dalam hati, dan menjadikan Tuhan sebagai pusat kehidupan.
Sumber
-
Alkitab:
- Keluaran 20:3-5
- Bilangan 21:8-9
- Yohanes 1:14
- Lukas 22:19
- Wahyu 5:8
- Matius 4:10
- Katekismus Gereja Katolik, artikel 2112–2114
- Konsili Nicea II tentang penghormatan ikon dan gambar kudus
- Ajaran dan homili Paus Fransiskus mengenai bahaya penyembahan berhala modern






Komentar
Posting Komentar