Mengenang 800 Tahun Santo Fransiskus dari Assisi: Spiritualitas Kemiskinan dan Damai di Dunia Modern

Tahun 2026 menjadi momentum istimewa bagi Gereja Katolik di seluruh dunia. Delapan abad telah berlalu sejak wafatnya Santo Fransiskus dari Assisi (1182–1226), seorang santo yang dikenal sebagai “Il Poverello” — si miskin dari Assisi. Untuk memperingati peristiwa besar ini, Gereja menetapkan Tahun Yubileum Fransiskan sebagai ajakan rohani bagi umat untuk kembali menghidupi nilai-nilai Injil yang diwujudkan secara radikal dalam hidup Fransiskus.

Delapan ratus tahun setelah wafatnya, warisan spiritual Santo Fransiskus tidak hanya tetap hidup, tetapi justru semakin relevan di tengah dunia modern yang dilanda krisis kemanusiaan, ketimpangan ekonomi, dan konflik global. Ia menghadirkan dua pilar utama spiritualitas yang sangat dibutuhkan saat ini: kemiskinan injili dan damai sejahtera

1. Spiritualitas Kemiskinan: Jalan Kebebasan Sejati

Salah satu ciri paling mencolok dari kehidupan Santo Fransiskus adalah pilihannya untuk hidup miskin. Ia meninggalkan kekayaan keluarganya demi mengikuti Kristus yang miskin. Namun, kemiskinan yang ia hayati bukan sekadar kekurangan materi, melainkan sebuah pilihan sadar untuk hidup sederhana, bebas dari keterikatan duniawi, dan sepenuhnya bergantung pada Allah.

Dalam spiritualitas Fransiskan, kemiskinan adalah jalan menuju kebebasan batin. Dengan melepaskan kelekatan pada harta, manusia menjadi lebih terbuka terhadap kasih Allah dan sesama. Fransiskus melihat bahwa kekayaan sering kali menjadi penghalang relasi yang tulus—baik dengan Tuhan maupun dengan sesama manusia.

Pesan ini sangat relevan di dunia modern yang cenderung materialistik. Budaya konsumtif, persaingan ekonomi, dan obsesi terhadap status sosial sering membuat manusia kehilangan makna hidup yang sejati. Dalam konteks ini, spiritualitas Fransiskus mengajak kita untuk bertanya: Apakah kita memiliki harta, atau justru dimiliki oleh harta?

Paus juga menegaskan bahwa Fransiskus menghadirkan wajah Gereja yang rendah hati dan dekat dengan kaum miskin, menjadi saksi nyata Injil di tengah dunia.

Kemiskinan injili bukan berarti menolak kemajuan, tetapi menempatkan segala sesuatu pada porsinya. Ini adalah panggilan untuk hidup cukup, berbagi, dan mengutamakan martabat manusia di atas kepentingan materi.

2. Spiritualitas Damai: Menjadi Pembawa Perdamaian

Selain kemiskinan, Santo Fransiskus juga dikenal sebagai pembawa damai. Ia hidup dalam semangat persaudaraan universal, melampaui batas agama, budaya, dan status sosial. Bahkan dalam masa perang salib, Fransiskus berani menjalin dialog dengan Sultan Malik al-Kamil, sebuah tindakan yang sangat revolusioner pada zamannya.

Fransiskus memahami bahwa damai sejati bukan sekadar ketiadaan konflik, tetapi buah dari hati yang dipenuhi kasih Allah. Karena itu, ia mengajarkan doa yang terkenal: “Tuhan, jadikanlah aku pembawa damai-Mu.”

Dalam konteks dunia modern yang penuh konflik—baik perang antarnegara, konflik sosial, maupun perpecahan dalam keluarga—pesan ini menjadi semakin mendesak. Tahun Yubileum Fransiskan juga menegaskan kembali panggilan umat untuk menjadi “saksi damai yang tak bersenjata,” membawa damai yang berasal dari Kristus.

Damai menurut Fransiskus berakar pada kerendahan hati dan pengampunan. Ia mengajarkan bahwa untuk menciptakan damai, seseorang harus terlebih dahulu berdamai dengan dirinya sendiri dan dengan Tuhan.

3. Cinta terhadap Ciptaan: Ekologi Integral

Spiritualitas Fransiskan juga mencakup relasi yang harmonis dengan alam. Fransiskus memandang seluruh ciptaan sebagai saudara dan saudari—matahari, bulan, air, bahkan kematian. Ia melihat alam sebagai refleksi kasih Allah yang harus dihormati dan dijaga.

Karena kecintaannya yang mendalam terhadap alam, Santo Fransiskus kemudian ditetapkan sebagai pelindung ekologi oleh Gereja.

Di tengah krisis lingkungan global saat ini—perubahan iklim, kerusakan hutan, dan pencemaran—spiritualitas ini menjadi sangat relevan. Fransiskus mengajarkan bahwa manusia bukan penguasa mutlak atas alam, melainkan bagian dari ciptaan yang dipanggil untuk merawatnya.

Semangat ini juga tercermin dalam ajaran Gereja modern tentang “ekologi integral,” yang menekankan hubungan antara keadilan sosial dan kelestarian lingkungan.

4. Relevansi di Dunia Modern

Mengapa Santo Fransiskus tetap relevan setelah 800 tahun?

Karena dunia modern menghadapi krisis yang justru berkebalikan dengan nilai-nilai yang ia hidupi:

  • Materialisme vs. Kemiskinan Injili
  • Konflik vs. Perdamaian
  • Eksploitasi alam vs. Cinta terhadap ciptaan

Fransiskus menawarkan alternatif radikal: hidup sederhana, mencintai tanpa syarat, dan menjadi pembawa damai. Ia menunjukkan bahwa kebahagiaan sejati tidak ditemukan dalam kepemilikan, tetapi dalam relasi—dengan Tuhan, sesama, dan alam.

Spiritualitasnya juga bersifat universal. Ia dihormati tidak hanya oleh umat Katolik, tetapi juga oleh banyak orang dari berbagai agama dan latar belakang. Hal ini menunjukkan bahwa nilai-nilai yang ia hidupi bersifat manusiawi dan melampaui batas-batas institusional.

5. Ajakan Refleksi

Peringatan 800 tahun wafat Santo Fransiskus bukan sekadar mengenang masa lalu, tetapi merupakan panggilan untuk pembaruan hidup. Gereja mengundang umat untuk:

  • Hidup lebih sederhana dan berbagi dengan sesama
  • Menjadi pembawa damai dalam keluarga dan masyarakat
  • Merawat ciptaan sebagai tanggung jawab iman
  • Menghidupi Injil secara konkret dalam kehidupan sehari-hari

Sebagaimana Fransiskus dahulu menjawab panggilan Tuhan dengan keberanian, kita pun dipanggil untuk menjadi saksi Kristus di zaman ini.

Penutup

Santo Fransiskus dari Assisi adalah contoh nyata bahwa kekudusan tidak terletak pada hal-hal besar, tetapi pada kesetiaan dalam hal-hal kecil: hidup sederhana, mencintai tanpa batas, dan membawa damai di mana pun kita berada.

Delapan ratus tahun setelah wafatnya, suaranya masih bergema:
“Mulailah dengan melakukan apa yang perlu; kemudian lakukan apa yang mungkin; dan tiba-tiba engkau melakukan yang tidak mungkin.”

Semoga peringatan ini tidak berhenti pada perayaan, tetapi menjadi awal dari pertobatan dan pembaruan hidup kita, sehingga dunia yang terluka ini dapat mengalami kembali damai dan kasih Allah.


Sumber:

  • Artikel Tahun Yubileum Santo Fransiskus 2026 
  • Refleksi spiritualitas Fransiskan dan warisan damai 
  • Eko-spiritualitas Santo Fransiskus Assisi 
  • Sumber-sumber kefransiskanan (OFM Indonesia) 

Komentar

Postingan Populer