Menjaga Kehidupan Ciptaan: Refleksi Katolik atas Perintah Allah kepada Nuh
“Dari segala binatang yang tidak haram haruslah kauambil tujuh pasang, jantan dan betinanya, tetapi dari binatang yang haram satu pasang, jantan dan betinanya; juga dari burung-burung di udara tujuh pasang, jantan dan betina, supaya terpelihara hidup keturunannya di seluruh bumi.”
— Kejadian 7:2-3
Kisah Nuh dan bahtera merupakan salah satu kisah paling terkenal dalam Kitab Suci. Banyak orang melihatnya sebagai cerita tentang hukuman Allah atas dosa manusia melalui air bah. Namun, bila direnungkan lebih dalam, kisah ini juga berbicara tentang kasih Allah yang ingin menyelamatkan kehidupan. Dalam perintah-Nya kepada Nuh untuk membawa berbagai jenis binatang ke dalam bahtera, Allah menunjukkan perhatian-Nya bukan hanya kepada manusia, tetapi juga kepada seluruh ciptaan.
Dalam pandangan Gereja Katolik, dunia dan segala isinya adalah ciptaan Allah yang baik. Karena itu, manusia dipanggil bukan untuk merusak atau mengeksploitasi alam secara semena-mena, melainkan menjaga dan merawatnya dengan penuh tanggung jawab. Kisah Nuh menjadi pengingat bahwa Allah menghendaki kelestarian kehidupan di bumi.
Allah Mengasihi Seluruh Ciptaan
Kitab Kejadian berulang kali menegaskan bahwa segala sesuatu yang diciptakan Allah itu “sungguh amat baik” (Kejadian 1:31). Binatang, tumbuhan, lautan, langit, dan manusia semuanya memiliki tempat dalam rencana Allah. Karena itu, ketika air bah akan datang, Allah tidak hanya menyelamatkan Nuh dan keluarganya, tetapi juga berbagai jenis makhluk hidup.
Perintah membawa tujuh pasang binatang yang tidak haram dan satu pasang binatang haram menunjukkan bahwa Allah memikirkan kelangsungan hidup ciptaan-Nya. Tujuannya jelas: “supaya terpelihara hidup keturunannya di seluruh bumi.” Allah tidak ingin kehidupan musnah. Ia ingin bumi kembali dipenuhi makhluk hidup setelah air bah berlalu.
Di sini kita melihat bahwa keselamatan menurut Allah bersifat menyeluruh. Keselamatan bukan hanya soal manusia masuk surga, tetapi juga tentang pemulihan hubungan antara manusia, sesama, alam, dan Allah sendiri. Paus Fransiskus dalam ensiklik Laudato Si' menegaskan bahwa bumi adalah “rumah bersama” yang harus dijaga oleh semua orang.
Paus Fransiskus menulis bahwa krisis lingkungan terjadi karena manusia sering menempatkan diri sebagai penguasa mutlak atas alam. Padahal manusia dipanggil menjadi penatalayan ciptaan, bukan penghancurnya. Kisah Nuh mengingatkan kita bahwa Allah sendiri peduli terhadap keberlangsungan semua makhluk hidup.
Nuh: Teladan Ketaatan dan Tanggung Jawab
Nuh dipilih Allah bukan karena ia sempurna, melainkan karena ia hidup benar di tengah dunia yang rusak oleh dosa. Ketika Allah memerintahkannya membangun bahtera dan mengumpulkan binatang-binatang, Nuh taat tanpa banyak membantah.
Ketaatan Nuh menunjukkan iman yang nyata. Ia tidak hanya percaya kepada Allah dalam hati, tetapi juga melaksanakan kehendak-Nya dengan tindakan konkret. Mengumpulkan berbagai jenis binatang tentu bukan pekerjaan mudah. Dibutuhkan kesabaran, ketelitian, dan tanggung jawab besar. Namun Nuh melakukannya demi rencana keselamatan Allah.
Dalam kehidupan modern, umat Katolik juga dipanggil menjadi seperti Nuh. Dunia saat ini menghadapi banyak kerusakan lingkungan: hutan ditebang sembarangan, sungai tercemar, udara kotor, dan banyak spesies hewan terancam punah. Semua itu sebagian besar terjadi karena keserakahan manusia.
Sebagai orang beriman, kita tidak boleh menutup mata terhadap penderitaan ciptaan. Menjaga lingkungan bukan hanya tugas pemerintah atau aktivis lingkungan, tetapi bagian dari panggilan iman Kristiani. Ketika kita menghemat air, menanam pohon, tidak membuang sampah sembarangan, dan menjaga kebersihan lingkungan, kita sedang ikut merawat ciptaan Allah.
Makna Binatang “Haram” dan “Tidak Haram”
Dalam teks Kejadian disebutkan adanya binatang “haram” dan “tidak haram.” Dalam tradisi Perjanjian Lama, pembagian ini berkaitan dengan aturan ibadah dan makanan umat Israel. Binatang yang “tidak haram” dipakai untuk korban persembahan dan dapat dimakan, sedangkan yang “haram” tidak digunakan dalam ibadah tertentu.
Namun menariknya, Allah tetap memerintahkan Nuh membawa kedua jenis binatang itu ke dalam bahtera. Artinya, di hadapan Allah semua ciptaan memiliki nilai. Bahkan binatang yang dianggap “haram” pun tetap dilestarikan.
Pesan ini sangat penting. Manusia sering memberi nilai hanya kepada sesuatu yang dianggap berguna secara ekonomi atau menguntungkan. Hewan yang tidak menghasilkan keuntungan sering dianggap tidak penting. Tetapi Allah memandang ciptaan dengan kasih yang lebih luas daripada kepentingan manusia semata.
Gereja Katolik mengajarkan bahwa semua makhluk memiliki martabat sebagai ciptaan Allah. Katekismus Gereja Katolik menyatakan:
“Hewan adalah ciptaan Tuhan. Dia melindungi mereka dengan pemeliharaan-Nya yang penuh rahmat. Hanya dengan keberadaan mereka, mereka memberkati dan memuliakan-Nya. Oleh karena itu, manusia berhutang budi kepada mereka. Kita harus mengingat kelembutan yang ditunjukkan oleh para santo seperti Santo Fransiskus dari Assisi atau Santo Filipus Neri dalam memperlakukan hewan.” (KGK 2416)
Karena itu, kekejaman terhadap hewan dan perusakan alam bertentangan dengan kehendak Allah.
Bahtera sebagai Gambaran Gereja
Dalam tradisi Gereja, bahtera Nuh sering dipandang sebagai lambang Gereja. Seperti bahtera menyelamatkan kehidupan dari air bah, demikian pula Gereja menjadi tempat keselamatan di tengah dunia yang dipenuhi dosa.
Namun Gereja juga dipanggil menjadi “bahtera” yang menjaga kehidupan. Gereja tidak hanya mengajarkan doa dan ibadah, tetapi juga mengajak umat membangun dunia yang lebih manusiawi dan lestari. Kepedulian terhadap lingkungan adalah bagian dari spiritualitas Kristiani.
Paus Fransiskus mengingatkan bahwa kerusakan lingkungan paling besar dampaknya dirasakan oleh kaum miskin. Ketika banjir, kekeringan, atau pencemaran terjadi, orang kecil biasanya menjadi korban pertama. Karena itu, menjaga lingkungan juga berarti mengasihi sesama.
Refleksi bagi Kehidupan Sehari-hari
Kisah Nuh mengajak kita bertanya: apakah kita sudah menjadi penjaga kehidupan atau justru perusaknya? Allah mempercayakan bumi kepada manusia, tetapi sering kali manusia menyalahgunakan kepercayaan itu.
Sebagai umat Katolik, kita dapat mulai dari langkah-langkah kecil:
- Mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.
- Menjaga kebersihan lingkungan sekitar.
- Menanam pohon atau merawat tanaman.
- Tidak menyiksa hewan.
- Menghemat listrik dan air.
- Mengajarkan anak-anak mencintai alam ciptaan Tuhan.
Tindakan kecil yang dilakukan dengan kasih memiliki nilai besar di hadapan Allah. Seperti Nuh yang setia pada tugasnya, kita pun dipanggil setia menjaga kehidupan.
Pada akhirnya, kisah air bah bukan hanya tentang hukuman, tetapi tentang harapan. Allah tidak membiarkan kehidupan lenyap. Ia menyediakan jalan keselamatan dan memelihara ciptaan-Nya dengan penuh kasih.
Semoga melalui kisah Nuh, umat Katolik semakin sadar bahwa mencintai Allah juga berarti mencintai ciptaan-Nya. Ketika kita merawat bumi, kita sedang ikut ambil bagian dalam karya Allah yang menjaga kehidupan bagi generasi sekarang dan yang akan datang.
Sumber
- Alkitab, Kitab Kejadian 7:2-3.
- Katekismus Gereja Katolik (KGK) 2415-2418.
- Laudato Si' karya Paus Fransiskus.
- Dokumen Gereja tentang Ajaran Sosial Gereja Katolik mengenai lingkungan hidup.
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya






Komentar
Posting Komentar